Mengintip Aktivitas Ramadan di Pondok Pesantren Selama Pandemi Covid-19 (5)

F bok 4

RAZAK/RADAR MANDALIKA AKTIVITAS: Beberapa santriwati melakukan aktivitas tahfidz Alquran di Musalla asrama putri di Ponpes Hidayatullah Mataram, pekan lalu.

Tahfidz Alquran Tetap Berjalan, Aktivitas Terasa Berbeda

Ponpes Hidayatullah Mataram, salah satu pusat pendidikan agama di ibu kota Provinsi NTB. Pada bulan Ramadan, para santri digembleng untuk meningkatkan kualitas ibadah. Aktivitas diniyah tahfidz Alquran tetap berjalan. Begitu juga dengan aktivitas-aktivitas lainnya. Hanya saja, aktivitas Pondok terasa berbeda dengan sebelum dan pascapanemi Covid-19.

RAZAK – MATARAM

Yayasan Al-Iman Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Mataram, Kebun Sari, Kecamatan Ampenan, salah satu pusat pendidikan agama Islam. Di bulan suci Ramadan, para santri Ponpes ini digembleng untuk meningkatkan kualitas ibadah. Aktivitas di Pondok, para santri melakukan kegiatan diniyah, hafal atau tahfidz Alquran, latihan pidato, hingga salat tarawih berjamaah.
Ketua Yayasan Al-Iman Ponpes Hidayatullah Mataram, Abidin mengungkapkan, Ponses juga mengelola lembaga pendidikan formal mulai jenjang sekolah dasar (SD) yang bernaung di bawah Dinas Pendidikan Kota Mataram. Kemudian ada Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag).
“Kelas VI SD akan menghadapi ujian hari Senin. Sedangkan MTs dan MA sudah selesai ujian yang kelas III, dan sudah pulang. Untuk kelas I dan kelas II yang belum pulang, masih berada di pondok,” ujar dia kepada Radar Mandalika saat ditemui di Ponpes, Jumat lalu.
Abidin menyebutkan, jumlah murid mulai MTs dan MA di Ponpes Hidayatullah Mataram saat ini kurang lebih 200 orang. Terdiri dari sekitar 70 santri dan lebih dari 100 santriwati. Banyak siswa atau santrinya berasal dari luar daerah. Semunya harus tinggal di asrama pondok. Untuk digembleng demi meningkatkan kulitas diri.
“Kecuali yang kelas III ndak mondok karena peraturan lama. Dua tahun itu peraturannya harus mondok. Agar lebih maksimal pembagian ilmu kepada santri,” jelas dia.
Dikatakan, santri yang ada di asrama tetap melakukan aktivitas pendidikan agama. Akan tetapi, situasinya agak berbeda pada bulan Ramada kali ini karena di tengah masa pandemi Covid-19. “Kegiatan yang tetap berjalan tahfidz pondok dan diniyah. Bukan hanya pendidikan formal saja,” kata Abidin.
Dia mengutarakan, aktivitas diniyah menghafal Alquran tetap berjalan sesuai jadwal dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) pandemi Covid-19. Santri dan santriwati dibagi menjadi beberapa kelompok. Ini untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan di masa pandemi. Jarak duduk antar santri tetap diatur.
“Mereka ndak ngumpul. Kadang di dalam masjid, ada yang diterasnya, dan kadang berpencar di ruangan,” kata Abidin.
Kegiatan diniyah tahfidz Alquran di Ponpes Hidayatullah Mataram dimulai habis salat Ashar. “Diniyah setelah selesai salat Ashar, habis Maghrib sebentar, habis Isya. Biasa kalau jadwal normalnya sampai jam 10 malam pembelajaran diniyah-nya,” ujar Abidin.
Sekarang, dia merasakan ada perbedaan situasi berkaitan dengan aktivitas para santri di Ponpes antara sebelum dan pascapandemi Covid-19. Termasuk perubahan waktu pelaksanaan diniyah tahidz. Hal ini dikarenakan dampak pandemi virus corona. “Memang karena covid, guru-guru harus taat semua. Dikurangi semua pembelajaran diniyah. Tetapi tetap berjalan,” ungkap dia.
Disamping aktivitas diniyah tahfidz Alquran. Di Ponpes Hidayatullah Mataram, ada juga kegiatan pembinaan khusus atau Daurah bagi santri MTs dan MA kelas III yang telah selesai mengikuti ujian. Penggodokan itu bertujuan memberikan materi-materi khusus pengkaderan bagi santri dalam menempuh jenjang pendidikan berikutnya.
“Misalnya kalau yang MTs mau melanjutkan sekolah di mana akan diarahkan di mana sekolah yang cocok dan pas. Melihat kemampuan orangtua. Begitu pula yang Aliyah digodok mau perguruan tinggi (PT) di mana. Karena Hidayatullah juga sudah punya 9 perguruan tinggi se Indonesia. Mau pilih di mana, silakan !,” ujar Abidin.
Karena di tengah masa pandemi Covid-19. Ponpes membatasi kunjungan orangtu atau wali siswa yang ingin melihat putra-putrinya. “Untuk orangtua berkunjung kita batasi. Orangtua dilarang berkunjung di luar waktu yang ditentukan. Nanti kalau waktu kunjung, kita informasikan. Itu pun ndak semua. Dari sekitar 200 santri, paling 10 orang yang orangtuanya datang. Jauh-jauh soalnya. Dari Flores, Bima, Dompu, Sumbawa,” ungkap Abidin.
Dia menambahkan, para santri tetap melakukan aktivitas pendidikan agama dan pendidikan umum atau formal. Hanya saja, peberdaan situasi begitu terasa dialami Ponpes Hidayatullah Mataram semenjak terjadinya pandemi Covid-19. “Perbedaan terlihat dari tingkat keefektivitasnya. Apalagi tingkat anak-anak pondok kalau dengar daring (dalam jaringan) mau pulang sudah,” ujar Abidin. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Bank NTB Syariah Harus “Diselamatkan”

Read Next

Niken Dilantik jadi Ketua PPI NTB

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *