LOTENG– Di usia yang masih sangat muda, M. Alvin Assidiq (17), siswa kelas XI F2 SMAN 1 Kopang, menapaki jalan yang tidak biasa bagi remaja seusianya.
Tahun 2026 menjadi momen istimewa dalam hidupnya. Ia menjadi salah satu calon jemaah haji termuda, sebuah perjalanan spiritual yang sarat makna dan pengorbanan.
Alvin tergabung dalam KBIH Yanmu NW Praya, lembaga pembimbing ibadah haji yang selama ini mendampingi persiapannya.
Namun, jalan menuju Tanah Suci tidak selalu mulus. Ia sempat dijadwalkan berangkat pada tahun 2025 bersama sang ibu, tetapi harus mengikhlaskan kesempatan tersebut karena belum memenuhi syarat administrasi, yakni belum memiliki KTP.
Keputusan itu bukan hal mudah. Di saat banyak orang menanti bertahun-tahun untuk bisa berhaji, Alvin justru harus menunda kesempatan yang sudah di depan mata. Meski berat, ia memilih menerima keadaan dengan lapang dada.
“Waktu itu sedih, apalagi rencananya berangkat bersama ibu. Tapi saya percaya, kalau memang rezeki, pasti akan datang lagi,” ungkapnya.
Keyakinan itu terbukti. Setahun berselang, kesempatan kembali datang. Tahun 2026, Alvin dijadwalkan berangkat—meski kali ini harus seorang diri tanpa pendamping orang tua. Situasi yang berbeda dari rencana awal, namun tidak mengurangi rasa syukur yang ia rasakan.
Bagi Alvin, kesempatan ini adalah takdir terbaik yang telah digariskan. Ia pun mulai mempersiapkan diri secara serius, mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah haji, mulai dari manasik hingga pemahaman makna di balik setiap rangkaian ibadah.
Di tengah kesibukannya sebagai pelajar, Alvin juga menunjukkan tanggung jawab yang luar biasa. Ia telah mengurus dispensasi kepada pihak sekolah agar dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa meninggalkan kewajiban pendidikannya.
Pihak sekolah memberikan izin penuh, bahkan dukungan moral terus mengalir dari guru dan teman-temannya.
“Teman-teman banyak yang kasih semangat. Saya juga jadi semakin yakin untuk menjalani ini dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Salah satu momen yang paling ia nantikan adalah melihat langsung Ka’bah, kiblat umat Islam di seluruh dunia, yang selama ini hanya ia saksikan melalui gambar dan video. Baginya, berdiri di hadapan Ka’bah adalah impian besar yang segera menjadi nyata.
Tak hanya itu, Alvin juga ingin merasakan suasana persaudaraan umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di satu tempat, dalam satu tujuan yang sama. Sebuah pengalaman spiritual yang diyakini akan membekas sepanjang hidupnya.
Menariknya, di balik semangat itu, Alvin juga memikul tanggung jawab tambahan. Ia dipercaya sebagai ketua kelompok di KBIH tempatnya bernaung. Amanah tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran, mengingat usianya yang masih muda.
Namun, ia memilih menjadikannya sebagai motivasi untuk belajar lebih baik dan lebih siap.
Kisah Alvin menjadi bukti bahwa setiap kesempatan adalah bagian dari takdir terbaik. Tertunda bukan berarti gagal, dan kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Dengan kesabaran, keyakinan, dan usaha, apa yang menjadi harapan dapat kembali hadir dalam waktu yang tepat.
Perjalanan Alvin bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga tentang kedewasaan, keikhlasan, dan keberanian melangkah di jalan yang telah ditentukan. Sebuah kisah inspiratif dari seorang remaja yang menjawab panggilan suci dengan hati yang penuh harap dan iman.(hza)
