Mengintip Aktivitas Ramadan di Pondok Pesantren Selama Pandemi Covid-19 (4)

F Bok 3 scaled

JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA SEMANGAT: Terlihat pengurus santri Pontren NU Darul Falah tengah berlomba-lomba mengkhatam Alquran di bulan puasa ini, Kamis sore.

Tugas Rutin Pondok Tetap Jalan, Santri Absen Saat Dakwah Live

Pondok Pesantren (Pontren) NU Darul Falah merupakan Pontren yang terbilang tua di Kota Mataram. Sejak didirikan, TGH Abhar Muhiddin sebagai salah satu perintis tahun 1950 dan resmi berdiri tahun 1968, Darul Falah telah banyak mencetak para tuan guru di Pulau Lombok.

JHONI SUTANGGA – MATARAM

DARUL Falah salah satu pilihan Pontren bagi masyarakat NTB sekarang. Selain sebagai Pontren tua di Kota Mataram, Pondok di bawah asuhan TGH Muammar Arafat sudah dikenal masyarakat luas. Saat ini lebih dari seribu santri belajar di sana, mulai dari Raudatul Atfal (RA) hingga Perguruan Tinggi. Sayangnya di bulan puasa ini, pengasuh meliburkan para santrinya. Alasan diliburkan bukan karena pandemi Covid-19 saja, tetapi sesuai keputusan yayasan meliburkan sampai tanggal 4 Syawal besok. Kebijakan ini sudah diberlakukan sejak tahun 2020.

“Mereka sedang libur sampai 4 Syawal. Tadi yang ramai berlomba-lomba membaca Alquran itu para pengurusnya,” kata TGH Muammar saat ditemui wartawan Radar Mandalika di Mataram.

Meski mereka libur, namun aktivitas rutin Pondok harus mereka jalankan di rumah masing-masing. Para santri tidak dibolehkan beraktivitas seenaknya saja meski di rumah mereka. Ada beberapa program yang mereka harus lakukan. Muammar menyebutkan, santri diharuskan mengkhatam Alquran sedikitnya satu kali dalam satu bulan, kemudian mereka harus melakukan kebaikan yang tidak biasa dilakukan sebelumnya.

“Membantu orang-orang yang kekurangan secara ekonomi. Membantu orang tua berjualan atau lainnya,” bebernya.

Program yang tidak boleh juga dilupakan yaitu, salat wajib termasuk di bulan puasa ini salat Tarawih.
Bagaimana mengontrol mereka? Muammar mengatakan saat ini sudah ada teknologi canggih. Mereka selalu absen disaat ia berdakwah secara live termasuk pada saat salat Subuh. Tidak hanya itu sebelum pulang ke rumah mereka, para orang tuanya juga sudah diingatkan tugas mereka mengawasi seluruh program pondok yang harus mereka lakukan di rumah.

Yakin dengan aktivitas mereka? Muammar mengaku harus yakin. Disamping itu juga mereka dibekali dengan buku saku kebaikan yang harus mereka isi di rumah.

Kemudian santri dianjurkan jangan sampai lewat dari salat wajib dan Sunnah. Diawal lembarannya bertuliskan nama, angkatan dan alamat. Disitu juga ada tertulis -aku berlindung dari segala godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Saya bersumpah bahwa apa yang tuliskan dibuku ini sesuai kenyataan.

“Itu sebagai cara mengukur kejuruan para santri,” jelasnya.

Setiap kebaikan yang ia lakukan jika ada hubungannya dengan orang lain misanya, saat salat subuh si imamnya diminta paraf, atau saat membantu orang tuanya berjualan si ibunya juga harus memberikan paraf.
“Begitu seterusnya,” ucapnya.

“Mereka harus melakukan ibadah yang sifatnya berbeda dari biasanya,” tambahnya.

Pontren yang berlokasi di Jalan Bhanda Sraya No 47 Pagutan Timur Kota Mataram itu juga memiliki dua fokus program yaitu, Tahfiz dan kitab gundul. Seperti banyak ponpes lainnya, Ponpes Darul Falah mengajarkan program tahfidz kepada santrinya. Selain menyelanggarakan pendidikan formal juga non formal. Santri diajarkan membaca kitab-kitab gundul (kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren), juga menghafal Alquran. Jadi, selain santri belajar pendidikan formal, mereka bisa membaca kitab gundul dan juga hafal Alquran. Inilah yang menjadi kelebihan ponpes ini.

“Kami punya program belajar kitab gundul tiga bulan,” bebernya.

Darul Falah katanya, tidak seperti Pontren lainnya yang punya keunggulan tersendiri namun di pondok tersebut semua keunggulan bisa didapatkan.

“Seperti tadi kalau mau belajar kitab Kuning kami juga punya program tersendiri,” katanya.

Dalam belajar, santri dibagi dalam dua kelompok yakni penghafal atau pembaca kitab gundul dan penghafal Alquran. Dari dua kelompok besar ini, lalu dibuat kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 10 sampai 15 santri.
Khusus program tahfidz, metode yang dikembangkan yakni metode klasik. Santri berlatih menghafal kemudian menyetorkan hafalannya kepada ustad yang menjadi pembimbingnya sesuai target yang diberikan. Para pembimbing ini akan membimbing santri yang kemampuan bacaannya masih rendah, mentahsin bacaan santri yang bacaannya masih belum sesuai dengan qaidah yang benar.

Program tahfidz di Ponpes Darul Falah ini sudah membuahkan hasil. Dalam satu bulan belajar menghafal, santri ada yang sudah bisa menghafal 23 juz. Banyak santri yang mampu khatam dalam menghafal Alquran. Bahkan ada santrinya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yaman yakni, Universitas Al-Ahgaff melalui program beasiswa yang diperuntukkan para hafidz di seluruh dunia. Selain di Yaman, santri Darul Falah juga memperoleh beasiswa kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
“Mereka yang lulus seleksi yang diterima. Belajar menghafal Alquran dan membaca kitab kuning sudah lama diterapkan ponpes tahun 1968. Secara turun temurun masih dilestarikan,” ceritanya.
Menurut pendirinya ponpes, TGH Abhar kata TGH Muamar Arafat para hafidz di zaman Rasulullah itu pertama kali menghafal Alquran itu menggunakan kitab-kitab gundul. Hingga istilah itu berkembang di sejumlah ponpes dengan istilah kitab kuning atau gundul. Metode membaca dan menghafal kitab gundul ini sudah lama diterapkan oleh ponpes. Karena, harapan dari pendiri ponpres ini, agar hafidz seperti di zaman Rasullah dapat dicetak juga di Ponpes NU Darul Falah.

Disatu sisi ada yang berbeda dengan pondok lainnya, meski di masa pandemic Covid-19 kegiatan tetap berjalan normal. Semua program pondok tidak ada yang tersendat. Sejak pandemi bersyukur tidak ada santri atau pengajar yang terpapar di tengah ganasnya Covid-19 yang melanda kota Mataram sendiri.

“Alhamdulillah berkat doa. Kami begitu yakin dengan doa bisa menjauhi segala penyakit,” yakinnya. (bersambung)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Siapkan Solusi Hadapi Kemungkinan Inflasi

Read Next

Dewan Loteng Matangkan Pembentukan Pansus Aset dan PAD

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *