ANGKUT: Tim gabungan dari Sat Resnarkoba Polres Lotim, TNI dan Satpol PP mengangkut miras dari lokasi Bau Nyale di Kaliantan Desa Seriwe. (IST/RADAR MANDALIKA)

LOTIM – Sabtu (11/2/2023) diprediksi menjadi puncak tumpahan nyale. Bukan saja di Lombok Timur (Lotim), tapi juga Lombok Tengah (Loteng).

Akan tetapi, keramaian sudah mulai tampak di lokasi event bau nyale, seperti di Kaliantan Desa Seriwe Kecamatan Jerowaru Lotim. Sayangnya, even ini justru dimanfaatkan sebagai lokasi menenggak minuman keras (Miras). Buktinya kemarin, ribuan liter miras diangkut tim gabungan Polres Lotim, TNI dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Untuk mengelabui petugas, banyak cara dilakukan para penjual miras tersebut. Mulai dari menguburkan miras dalam pasir, menyembunyikan miras di semak-semak, hingga ditutup menggunakan kain.

Kepala Satuan (Kasat) Narkoba Polres Lotim, AKP I Gusti Ngurah Bagus Suputra, via ponselnya menjelaskan, operasi miras di lokasi Bau Nyale bukan saja di Kaliantan. Akan tetapi menyasar dua lokasi lainnya seperti Pantai Kura-kura dan Pantai Sungkun Desa Ekas Buana.

Operasi miras ini merupakan perintah Kapolres Lotim dalam upaya mengantisipasi hal-hal tak diinginkan seperti kerusuhan, atau gangguan lainnya di lokasi event Bau Nyale disebabkan miras. Karena jika masyarakat tersebut berada dalam pengaruh miras, akan mudah tersulut emosi yang dapat menimbulkan keributan.

“Minuman keras yang kami amankan jenis tuak, brem dan Bir Bintang,” katanya.

Operasi miras di lokasi pesta rakyat Bau Nyale, bukan saja pada hari pertama, melainkan hingga malam puncak event. Karena seperti pesta rakyat sebelumnya, kerap terjadi keributan lantaran miras.

“Kami sisir semua lapak masyarakat di lokasi Bau Nyale di Kaliantan, Pantai Kura-Kura dan Sungkun,” tegasnya seraya mengatakan, semua barang bukti telah diamankan di Polres Lotim.

Dari semua lapak yang disisir dan kedapatan menjual miras, rata-rata miras tersebut dijual oleh kaum ibu. Karena mereka akan mendapat keuntungan tinggi dari harga jual biasanya. Apalagi, event rakyat Bau Nyale dua kali dalam setahun. Dimana setelah Tumpah, nantinya ada istilah nyale Poto.

“Semuanya kami sita dari Ibu-ibu yang menunggu lapak,” ucapnya.

Ia mengimbau masyarakat yang datang ke lokasi pesta rakyat Bau Nyale tidak menjual ataupun mengkonsumsi miras. Sehingga pesta rakyat ini berjalan aman dan lancar. “Mari kita sama-sama menjaga Kamtibmas selama di lokasi Bau Nyale,” imbau Suputra. (fa’i/r3)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 511

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *