MATARAM – Kepala Dinas Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP), Lalu Kusuma Wijaya memastikan progres penanganan ruas jalan Lendang Guar–Lunyuk terus berjalan dan ditargetkan rampung pada kisaran 20 Mei 2026. Saat ini, pekerjaan utama tinggal menyelesaikan dinding penahan tanah serta penutupan permukaan jalan sebelum tahap pengaspalan akhir dilakukan.
“Sekarang masih progres terus berjalan. Tinggal pekerjaan dinding penahan, kemudian penutupan permukaan. Setelah itu baru pengaspalan,” ujar Kusuma di Mataram, Kamis (07/05).
Kepada wartawan, Ia menjelaskan, pengaspalan sengaja dilakukan pada tahap akhir agar permukaan jalan tetap bersih dan tidak rusak akibat aktivitas pengecoran serta lalu lalang kendaraan proyek.
“Kalau pengaspalan itu relatif cepat, hitungan hari saja. Tapi menyiapkan semuanya sampai tahap pengaspalan itu yang membutuhkan waktu hingga sekitar tanggal 20-an Mei,” katanya.
Menurutnya, progres mayor pekerjaan sebenarnya sudah mendekati selesai. Pekerjaan yang paling dominan justru berada pada penguatan tebing dan stabilisasi lereng, bukan pada badan jalan.
“Yang besar itu perkuatan tebing dan pembentukan lereng untuk stabilitas tanah. Kalau permukaan jalan mungkin tinggal di bawah lima persen,” jelasnya.
Kadis PUPR NTB juga memastikan seluruh pekerjaan bore pile telah selesai dikerjakan. Struktur tersebut berfungsi untuk mereduksi pergerakan tanah di lokasi yang sebelumnya mengalami longsor dan ketidakstabilan lereng.
“Bore pile sudah selesai semua. Itu untuk mendukung dan mengurangi pergerakan tanah. Di atasnya nanti ada dinding penahan untuk menahan pergerakan permukaan,” terangnya.
Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi tanah yang masih bergerak, ia menegaskan seluruh sistem penanganan telah dirancang untuk menjaga stabilitas kawasan jalan tersebut.
Selain itu, ia membantah anggapan proyek sempat terbengkalai. Menurutnya, penghentian sementara pekerjaan sebelumnya dilakukan karena faktor keselamatan pekerja akibat cuaca ekstrem dan tingginya intensitas hujan.
“Waktu itu hujan sangat tinggi dan lereng belum stabil. Kalau dipaksakan bekerja justru membahayakan pekerja. Jadi pekerjaan memang sempat dihentikan sementara karena alasan keamanan,” katanya.
Ia menambahkan, kontraktor pelaksana proyek tetap sama sesuai kontrak awal. Hanya saja, terjadi perubahan tim lapangan karena sebagian pekerja sebelumnya telah mengambil pekerjaan lain saat proyek sempat tertunda.
“Kontraktornya tetap yang pertama. Tidak ada kontrak baru dan tidak ada kontrak putus. Ini hanya pemberian kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan,” tegasnya.
Diungkapkannya, proyek tersebut tetap berjalan dengan anggaran awal tanpa perubahan nilai kontrak. Namun, kontraktor tetap dikenakan denda keterlambatan yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
“Dendanya berjalan sesuai aturan, sekitar jutaan per hari dari sisa nilai pekerjaan. Kalau dihitung dari Januari sampai Mei mungkin sekitar Rp300 jutaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sesuai mekanisme, denda keterlambatan harus disetor terlebih dahulu sebelum pembayaran proyek dicairkan.
“Setelah pekerjaan dinyatakan 100 persen dan diperiksa tim, kontraktor harus menyetor denda dulu baru pembayaran bisa dilakukan,” katanya.
Meski demikian, pihaknya masih membuka kemungkinan konsultasi terkait skema pembayaran denda tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Kadis PUPR NTB berharap proyek ruas jalan Lendang Guar–Lunyuk dapat segera fungsional karena memiliki peran penting sebagai jalur penghubung aktivitas masyarakat antara Sumbawa, Lunyuk, hingga Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
“Target kita sekitar tanggal 20 Mei, mudah-mudahan bisa lebih cepat. Yang penting ruas ini segera berfungsi untuk menopang aktivitas masyarakat,” pungkasnya. (jho)