Pilkada Loteng, Pengamat: Lale Belum Terlambat

F Kadri

IST/RADAR MANDALIKA Dr Kadri

MATARAM – Sepekan terakhir ini, nama istri Sekda NTB, Lale Prayatni meledak jadi bahan pembicaraan. Apalagi muncul berita, Lale dikabarkan akan maju di Pilkada Lombok Tengah 2020. Bahkan, Lale betul-betul diperhitungkan. Hal ini memancing para pengamat politik bicara.

“Bagi saya, munculnya nama Lale tidak lebih sebagai Testing The Water untuk mentracking reaksi public Lombok Tengah. Bila bagus respons publik, apalagi didukung oleh survei dengan elektabilitas yang tinggi, maka saat itulah Lale akan serius menentukan sikap untuk maju, serius menyiapkan cost politik,” kata pengamat politik, Dr Kadri kepada Radar Mandalika, kemarin.

Kadri mengatakan, saat Testing The Water seperti saat ini, Lale memang harus rajin turun silaturahim jika pun serius karena Lale banyak beraktivitas di Lombok Barat dan Mataram. Sekalipun dia asli warga Lombok Tengah.

Tidak hanya itu, komunikasi politik kata Kadri dengan parpol juga harus intens karena merekalah yang paling menentukan untuk syarat mendaftar di KPU.

Bagi Kadri, saat ini Lale belum terlambat namun kecepatan larinya harus di atas rata-rata dengan figur yang lain. Sebab starnya terlambat dan basis teritorinya jarang di Loteng. Untuk peluang sendiri, Kadri melihat semua punya peluang. Apalagi kalau calonnya banyak. Kadang suara akan terbagi dengan berbagai simpul figur. Misalnya, ada calon Ormas NU, Yatofa mendukung siapa, NW Pancor dan Anjani mengajukan siapa lalu komunitas selatan dan utara lebih condong kemana.

“Kemudian Ibu Lale lebih kuat disimpul mana? hanya survei yang bisa menjawab,” kata Akademisi UIN Mataram itu.

Terkait dengan posisi sebagai calon perwakilan perempuan, Kadri melihat bermakna ganda. Bisa jadi sebagai kekuatan karena mungkin hanya dia yang akan maju dari unsur perempuan. Tetapi juga bisa jadi juga akan menjadi sasaran tembak lawan politik yang memakai isu pemimpin perempuan. Tapi jika hal ini berhasil maka sinergi baik Pemkab Loteng dengan Pemrov akan bisa terbangun harmonis. Mengingat suaminya, Lalu Gita Ariadi merupakan petinggi birokrasi di Pemprov.

“Kelebihan bu Lale ini satu satu-nya perempuan yang mau maju di Pilkada,” katanya.

Sementara, pengamat politik lainnya Agus justru melihat saat ini sudah terlambat bergerak Lale. Pendaftaran calon ke KPU memang belum, tapi konsolidasi partai politik sudah mulai mengerucut saat ini, walaupun memang belum sepenuhnya mengerucut ke sejumlah orang.

Ria yang juga mantan Komisioner KPU NTB itu mengatakan, Golkar dan Gerindra sudah mengarah ke Pathul-Nursiah, PKB ke Masrun-Aksar. Demokrat sudah mengarah ke Ziadi-Aswatara walaupun belum ketemu partai koalisi, karena PPP nampaknya hampir pasti ke Masrun-Aksar.

Menurutnya, yang masih mengambang, lanjutnya PDIP, PKS dan PBB, tetapi sejumlah paslon sudah merapat. Dwi-Normal misalnya menjajaki semua partai politik, Ziadi juga demikian, termasuk Lalu Suryade. Mereka semua sudah lama menjajaki partai, dan diyakini partai sudah punya nama juga di saku mereka.

“Hanya tinggal mengunggu momentum yang tepat untuk disampaikan ke publik. Maka saya pikir agak terlambat kalau ada calon yang baru mau bergerak,” kata Agus.

Sebab paling banyak paslon dari partai politik hanya empat, malah kemungkinan hanya tiga. Jadi setelah Golkar dan Gerindra bergabung persaingan untuk dapat tiket partai ini tinggi sekali.

Disinggung kemungkinan pembicaraan terjadi di tingkat elit partai, bagi Agus diakuinya politik itu sangat dinamis namun persoalannya apa yang bisa ditawarkan oleh seorang calon untuk bisa meyakinkan atau merubah keputusan politik jika waktu yang dimiliki calon tersebut terbatas dan sumber daya politiknya terbatas. Dalam menentukan calon partai juga menghitung banyak faktor, selain elektabilitas yang ditunjukkan oleh hasil survei, jaringan politik, sumber daya politik, dan kecocokan pemikiran dengan garis perjuangan partai.

“Faktor-faktor ini yang mendinamisasikan politik elektoral pada proses pencalonan pilkada. Yang lebih menentukan adalah restu dari DPP,” tegasnya.(jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Penyedia Masker Mangkir, Dua Perusahaan Lokal Keciprat

Read Next

Sabu Karang Bagu Gagal Masuk ke Sumbawa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *