Warga Panji Sari Keluhkan Pembuangan Limbah Eceng Gondok

  • Bagikan
F AAAA Eceng gondok scaled
RAZAK/RADAR MANDALIKA DISTOP: Tampak limbah eceng gondok sudah membusuk yang dibuang di lahan yang tidak jauh dari kantor lurah Panji Sari. Alat berat sudah tidak lagi beroperasi di lokasi pada Selasa (21/6).

PRAYA – Warga Lingkungan Bukal Malang, Kelurahan Panji Sari Kecamatan Praya sudah lama mengeluhkan pembuangan limbah eceng gondok oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara 1 di pinggir kampung setempat. Pasalnya, bau menyengat dari tumpukan limbah itu membuat warga sekitar terganggu. Hal ini kemudian memantik warga melakukan protes keras.

 

Lantaran mendapat protes dari warga, pembuangan limbah eceng gondok di lahan yang tidak jauh dari kantor lurah itu akhirnya distop. Lurah Panji Sari, Samsul mengungkapkan, sudah satu mingguan aktivitas pembuangan limbah itu tidak lagi dilakukan alias dihentikan. Kini sudah tidak terlihat lagi kendaraan roda empat yang mengangkut limbah eceng gondok.

 

“Warga minta distop, karena dampak bau, terus jalan kotor,” katanya pada Radar Mandalika, kemarin (21/6).

 

Pantauan di lapangan, alat berat memang masih terlihat di lokasi pembuangan eceng gondok yang tidak jauh dari kantor lurah Panji Sari. Namun tidak lagi beroperasi. Pun, mobilitas kendaraan roda empat yang mengangkut limbah eceng gondok sudah tidak terlihat.

 

Samsul tidak memungkiri bahwa warganya sering mengeluhkan pembuangan limbah eceng gondok. Terutama warga Bukal Malang sangat terganggu dengan bau eceng gondok yang sudah membusuk itu. Hal ini membuat warga protes.

 

Dia mengemukakan, lahan tempat pembuangan eceng gondok itu memang milik BWS. Pun dengan lahan tempat dibangunnya kantor lurah Panji Sari juga milik BWS. (Itu) lahannya BWS, termasuk ini juga kantor lurah,” ujar Samsul.

 

Dia menjelaskan, sebelumnya warga menyampaikan keluhan pembuangan limbah eceng gondok ini ke pemerintah kelurahan. Kemudian pemerintah kelurahan menyampaikan aspirasi warga itu ke Kelompok Masyarakat (Pokmas). Setelah adanya aksi atau protes dari warga, baru kemudian aktivitas pembuangan limbah itu distop.

 

Ketika distop, kata Samsul, baru kemudian pihak BWS hadir untuk mendengar aspirasi masyarakat yang menolak. “Kita fasilitasi di berugak. Saya hadirkan masyarakat (yang menolak), silakan ngomong dengan BWS. Hasil itu mereka berdua yang sepakati,” ungkapnya.

 

Ditanya sampai kapan pembuangan limbah eceng gondok distop? Samsul mengaku tidak tau soal itu. Tapi menurutnya, masyarakat sekitar menginginkan ada pemberdayaan dari pihak BWS. Terus dampak pembuangan limbah eceng gondok diperhatikan juga. (zak)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *