Penuturan Kadis Pertanian Loteng di Tengah Meluasnya PMK

  • Bagikan
F Bok 1 1
AMIN/RADAR MANDALIKA Taufikurrahman Pua Note

Sapi Bantuan Mentan Ikut Terpapar, Harga Daging Meroket

 

Penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Lombok Tengah terus meluas, data terakhir diangka 13 ribu lebih. Di tengah merebaknya virus ini, sapi bantuan Menteri Pertanian (Mentan) di Pujut ikut banyak terpapar. Berikut penuturan Kadis Pertanian Lombok Tengah Taufikurrahman Pua Note.

 

DIKI WAHYUDI-LOMBOK TENGAH

 

KASUS penyakit mulut dan kuku (PMK) kini tengah menjadi persoalan baru bagi pemerintah Lombok Tengah. Bahkan sekarang Dinas Pertanian Lombok Tengah sedang bekerja ekstra. Segala langkah terus dilakukan.

“Ini tugas yang sedang kita focus menuntaskan, memberikan edukasi ke masyarakat juga,” tutur Kadis Pertanian Lombok Tengah Taufikurrahman Pua Note kepada Radar Mandalika Official secara live.

Dijelaskannya, kasus PMK saat ini terus meningkat. bahkan terbaru sudah diangka 13 ribu lebih, sementara yang sembuh 7 ribu lebih. Diakuinya cukup banyak perkembangan jika dilihat dari angka sembuh. Namun di tengah merebaknya PMK, diakui Taufikurrahman belum ada obat untuk melawan virus menular itu. Tapi diakuinya akan akan dosis vaksin yang akan diberikan pemerintah pusat.

“Cuma tidak banyak, di Jawa Timur saja membutuhkan banyak,” bebernya.

Taufikurrahman mengatakan, kasus PMK sudah tersebar di 12 kecamatan. Namun terbanyak sapi terpapar di wilayah Kecamatan Praya Tengah sebagai sumber pertama ditemukan kasus ini. “Iya sekitar desa tetangga itu paling banyak sekarang ini, tidak jauh dari situ,” tuturnya.

Meluasnya virus PMK ini, sampai-sampai sapi bantuan Mentan RI di sekitar Sirkuit Mandalika ikut terpapr. Tapi sayang dia tak menyebutkan berapa jumlahnya.

“Ada, apalagi hampir semua desa tetangga di wilayah itu banyak juga terpapar,” katanya.

Diakui Taufikurrahman, di tengah merebaknya kasus PMK ini harga jual daging sapi masih mahal sampai sekarang. Nyaris tidak ada dampak dari sisi penjualan daging. “Kalau ini memang kita akui,” tuturnya.

Dalam keseriusan pemerintah mengatasi persoalan PMK, tidak ditutupi ada isu berkembang harga suntik kesehatan sapi naik sampai Rp 250 ribu per ekornya. Namun setelah mendengar kabar ini, pihaknya langsung turun ke lapangan untuk memastikan.

“Tidak benar itu, makanya kami minta kepada petugas kesehatan hewan agar tidak menarik biaya sampai begitu besar. Cuma yang ada kita temukan oknum petugas yang baru belajar dari media social sudah coba-coba mempraktekkan dan menarik biaya kepada petani,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Kadis mengimbau kepada petani atau masyarakat untuk tidak panik. Pasalnya, ada cara melakukan pengobatan untuk sapi yang terpapar, baik melalui herbal dan sejenisnya.

“Jangan panic,” serunya.

Sementara itu, untuk daging sapi yang terpapar ada beberapa bagian yang disarankan tidak dikonsumsi. Misalnya bagian hidung sapi.(*)

 

 

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *