DOK/RADAR MANDALIKA SUMBER PAD: Terlihat lapak di Pasar Renteng Praya, Lombok Tengah.

PRAYA – Hingga minggu pertama bulan Desember 2022, realisasi pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Tengah belum mencapai target. Dari target PAD sebesar Rp 315 miliar tahun ini, baru tercapai sudah 80 persen atau sekitar Rp 247 miliar berdasarkan data di bulan November. Hingga akhir tahun, target PAD yang Rp 315 miliar ini dirasa mustahil terealisasi.

 

Namun Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Loteng, Jalaludin, enggan membeberkan besaran realiasi PAD hingga pertanggal 6 Desember. Alasannya, sumber PAD dari sektor pajak dan retribusi daerah masih terus bergerak. Sehingga, realisasinya kemungkinan akan bertambah dengan sisa waktu yang ada.

 

“Kalau sekarang masih tanggung menyampaikan ini, karena masih bergerak. PBB (Pajak Bumi Bangunan) masih bergerak, hotel restoran masih bergerak,” katanya, Selasa (6/12).

 

Sama halnya di tahun 2022 ini, Pemkab Loteng memasang target PAD sebesar Rp 315 miliar di tahun 2023 mendatang. Sedangkan masalahnya, Jalal merasa bahwa realisasi PAD akan sangat sulit tercapai sesuai target sebesar itu.

 

“Mustahil,” kata mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Loteng itu.

 

Pertanyannya, kenapa target PAD sebesar Rp 315 miliar ini sulit tercapai. Hitung-hitungan Jalal, bahwa salah satu sumber PAD Loteng adalah pajak hiburan dengan target sebesar Rp 78 miliar ini juga dianggap mustahil tercapai. Karena dari jumlah target itu, baru terealisasi Rp 12 miliar. Ditambah dengan estimasi sebesar Rp 2,5 miliar. Sehingga total estimasinya yang bakal terealisasi berjumlah Rp 14,5 miliar.

 

Dari hitungan itu, maka besaran pajak hiburan yang tidak bisa atau sulit terealisasi alias devisit mencapai Rp 63,5 miliar dari target Rp 78 miliar. Artinya, yang terealisasi palingan di angka sekitar Rp 14,5 miliar.

“Rp 78 miliar dikurangi Rp 14,5 miliar (sama dengan) Rp 63,5 miliar. Rp 63,5 miliar inikan wajib hukumnya devisit, karena gak ada jalan lagi,” ulas Jalal.

 

Dilanjutkan, dari target PAD sebesar Rp 315 miliar dikurangi Rp 63,5 miliar ini menghasilkan angka sekitar Rp 251 miliar. Artinya, yang bisa direalisasikan palingan di angka Rp 251 miliar dari total target PAD tersebut. Karena itu, target PAD yang Rp 315 miliar ini agak mustahil terealisasi.

 

“Rp 251 miliar yang realistis. Sementara yang dipasang (ditargetkan) Rp 315 miliar, kan jauh ini,” terang Jalal.(zak)

 

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 351

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *