Almarhum Kusmiardi (IST/RADAR MANDALIKA)

Kusmiardi, jurnalis Lombok Timur memiliki semangat tinggi meski penuh dengan keterbatasan. Almarhum merupakan wartawan yang patut ditiru semangatnya.

 

MUHAMAD RIFA’I – LOMBOK TIMUR

 

SENIN, 13 Maret 2023 sekitar pukul 10.40 Wita datang kiriman kabar terakhir dari Ir. Kusmiardi via WA. Wartawan Duta Selaparang Lombok Timur (Lotim) ini hanya mengirim foto seseorang sebagai narasumber beritanya. Sebagaimana biasa, Pak Kus-sapaan akrabnya akan mengirim foto terlebih dahulu sedangkan tulisannya belakangan.

Memang belum ada tulisan yang berhasil dirangkai ketika menerima kabar kepergiannya pada sore hari. Hingga tiba-tiba kabar duka itu datang menghentak. Ya, Kusmiardi berpulang menghadap Yang Kuasa, Allah SWT, Senin 13 Maret pukul15.30 wita.

Kusmiardi tidak menyampaikan apa keluhannya selama ini, bahkan beberapa jam sebelum meninggal dunia. Selama berinteraksi dengannya bertahun-tahun lamanya, pun tidak pernah terdengar keluhan sakit. Padahal untuk menggali berita dia kadang jalan kaki atau ngojek. Jika berita itu penting baginya, tukang ojek itu menunggunya hingga wawancara usai.

Sebaliknya, justru keluhan yang kadang terlontar adalah laptop yang hang, atau handphonenya ngadat. Tapi dia tidak mengeluhkan dirinya sendiri yang mungkin bagi orang kebanyakan apa yang ada padanya adalah satu persoalan dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik.

Praktis konsistensinya itu membuat tugas-tugas yang diberikan tak pernah ditolak. Dia jalan dengan tulus. Namun, tentu saja jika melihat keterbatasan fisiknya dan kebutuhan untuk transportasi mengingat ketidakmampuannya mengendarai sepeda motor, tidaklah ideal jika Pak Kus ditugaskan terlalu jauh. Karena perjuangannya untuk mencari itulah, karya tulisnya tetap berharga. Itu semua diperoleh melalui keringat dan susah payah di tengah “ketidakberdayaannya”.

Sering kali apapun tulisannya sangat bermakna baginya. Ia mendatangi dan menggali, mengolah dan mengabarkannya. Hal itu di satu sisi sebagai bentuk loyalitas terhadap identitas kewartawanan. Di sisi lain memotivasinya untuk terus berinteraksi, terutama dengan banyak kepala desa yang dikenalnya. Walau hingga Pak Kus mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan sudah dinyatakan lulus, kartu itu belum ada di tangannya, dia tetap wartawan yang konsisten.

Salah satu jurnalis, Lalu Ramli Nurawang bercerita pernah suatu hari bertemu almarhum di depan Kantor Dinas Pariwisata.

“Saat saya tanya mau ke mana, dijawab ke Kantor Bupati Lotim. Dari situ saya tahu, ternyata Pak Kus selama ini terus jalan kaki mencari narasumbernya. Saya dan kita semua sepatutnya belajar dari kegigihan dan semangat almarhum menekuni profesinya. Keterbatasan fisik tak membuat Pak Kus kehilangan asa. Beliau tetap semangat menjalankan aktivitasnya sehari hari walau hanya dengan jalan kaki,” kata Ramli.

Sebelum menjadi wartawan, Kusmiardi merupakan pegawai sebuah perusahaan sawit di Kalimantan. Setelah beberapa tahun di sana, ia terkena musibah. Telapak kakinya sedikit terlindas ban kendaraan yang membuat salah satu kakinya kemudian pelan-pelan kurang berfungsi. Ia pun kembali ke Lombok.

Ketika tiba di Lombok, alumni Unram ini mencoba mengirim tulisan saat Duta Selaparang masih terbit dalam versi cetak kemudian berlanjut ketika berubah ke versi online. Memang tidak ada target tulisan untuknya setiap bulan. Pak Kus bebas bahkan untuk tidak menulis, namun dia tetap menulis di usianya yang hampir 60 tahun.

Dalam keterbatasan fisik, kadang tantangan lain muncul padanya. Pak Kus menuturkan sebuah problem ketika ke Kayangan untuk wawancara namun tidak berhasil bertemu orang yang dituju sehingga balik lagi ke Apitaik. Beberapa hari kemudian ia kembali ke Kayangan dan tidak berjumpa lagi dengan orang yang dicari. Apakah dia harus memaki orang yang dicari? Ternyata tidak.

Baginya, itu semua tantangan hidup, tantangan profesi dan tantangan bagi kesabaran hati. Putus asa bukan jalan terbaik jika ingin menjalani yang baik.  Pak Kus tetap berusaha memanfaatkan sisa hari, bahkan pada detik ketika ia harus kembali.

Pak Kus tidak ada sakit, dia meninggal di pangkuan anak laki-lakinya di pondoknya di Pancor Sanggeng Kecamatan Selong.

“Dia pulang pas Dzuhur di pondok anak lakinya, trus dia ditinggal kuliah ma anaknya dengan masih kerja di laptopnya. Pulang kuliah anaknya pas adzan Ashar. Dilihat tidur dalam posisi bersedekap, dibangunkan gak bangun-bangun,” demikian kabar kerabatnya.

Biasanya, Pak Kus kerja di rumahnya Apitaik yang ditinggalinya seorang diri. Namun di hari itu, Allah SWT menuntunnya untuk ke tempat kost anaknya. Ternyata di sini rahasianya, yakni agar ada yang tahu dia kembali kepada Sang Khaliq, dan itu diketahui anaknya sendiri.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Allahumaghfirlahu warhamhu. Semoga diampunkan dosa salah beliau, diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT. Amiin yaa mujibasa’ilin. Selamat jalan Pak Kus, semoga kesempurnaan dan tempat terindah untukmu di alam sana,” kata H Riyanto Rabah. (*)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 411

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *