Pemilik Pabrik dan Empat IRT Diminta Berdamai

f jsaka scaled

JAYADI/RADAR MANDALIKA SIDANG: Empat terdkwa ibu rumah tangga (IRT) yang menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Praya Loteng tidak lama ini.

PRAYA— Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah (Loteng) mendukung penuh jika empat terdakwa ibu rumah tangga (IRT) dengan pemilik pabrik tembakau berdamai di meja pengadilan.

Kepala Kejaksaan Negeri Loteng, Otto Sompotan menyatakan, pihaknya dari Kejaksaan sebagai Jasa Penuntut Umum (JPU)  sangat mendukung kedua belah pihak berdamai pada tahapan sidang selanjutnya. 

“Meski hakim yang menentukan, kami sangat mendukung kalau mereka berdamai di Pengadilan,” katanya saat di temui di ruang kerjanya, kemarin.

Ia menyatakan, keadilan tidak mesti harus dihukum. Artinya masih ada cara dengan melakukan perdamaian. Terlebih, pihaknya juga sangat prihatin, selain karena mereka adalah IRT, mereka juga mempunyai anak yang masih balita.

“Hukuman penjara adalah jalan paling terakhir untuk kasus seperti ini sebenarnya,” tuturnya.

Ia membeberkan, keempat IRT ini disangkakan melanggar Pasal 170 ayat 1 KUHP.  Dimana, saat mereka dilimpahkan oleh penyidik, mereka dampingi oleh pihak keluarga maupun penasehat hukum. Selain itu, mereka tidak membawa anak.

Sehingga, karena tidak ada pendampingan, JPU sudah menunjuk penasihat hukum untuk mereka. Namun mereka menolak penunjukan tersebut. Kemudian, mereka waktu itu juga diarahkan agar menghubungi pihak keluarga untuk mengajukan permohonan sebagai penjamin agar tidak dilakukan penahanan. Namun sampai dengan berakhirnya jam kerja yaitu pukul 16.00 Wita pihak mereka tidak juga datang ke kantornya. Selain itu, mereka telah diberikan pula hak untuk dilakukan untuk perdamaian namun ditolak.

“Setelah P memenuhi  syarat subyektif dan obyektif, mereka dilakukan penahanan dengan dilakukan penitipan di Polsek Praya Tengah,” ujarnya.

Selanjutnya, pada hari Rabu tanggal (17/02), JPU melimpahkan perkara para terdakwa ke Pengadilan Negeri untuk disidangkan, dan agar memperoleh status tahanan hakim.

“Kami kemudian memindahkan tahanan ke Rutan Praya guna mendapatkan fasilitas yang lebih layak bagi para terdakwa,” tuturnya.

Sementara itu, sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Loteng, Catur Hidayat yang membacakan dakwaan di sidang pertama menyatakan, bahwa empat terdakwa yakni Hultiah bersama-sama dengan terdakwa Nurul Hidayah alias Inaq Alpin, terdakwa Martini alias Inaq Abi dan terdakwa fatimah alias Inaq Ais. 

Empat terdakwa ini pada hari Sabtu tanggal 26 Desember 2020 sekira pukul 16.20 Wita atau pada waktu lain dalam bulan Desember tahun 2020, bertempat di gudang tembakau, Dusun Peseng, Desa Wajageseng, Kecamatan kopang dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang.

Dimana, perbuatan tersebut dilakukan terdakwa, merasa terganggu dari bau yang menurut para terdakwa berasal dari gudang tembakau milik H Muh Suardi. Namun menurut para terdakwa terkait persoalan tersebut pernah dimediasi di kantor Desa Wajageseng sekitar bulan November 2020. Akan tetapi pada waktu dan tempat kejadian tersebut para terdakwa tanpa melakukan klarifikasi atau mengetahui kebenaran secara pasti bau yang dirasakan oleh para terdakwa berasal dari pemilik gudang. Terdakwa langsung melakukan pelemparan ke  atap gudang.

“Pada terdakwa melakukan pelemparan disaksikan oleh saksi Wahyudi, Mawardi dan saksi lainnya yang berada di gudang tembakau itu,” jelasnya.

Ia menyatakan, adapun peran terdakwa Inaq Hultiah melempar kayu singkong dan batu sebanyak 5 kali. Batu tersebut terdakwa peroleh dari halaman rumah terdakwa Fatimah alias Inak Ais yang kemudian disusul lemparan dari terdakwa Nurul Hidayah alias Inaq Alpin melempar batu sebanyak dua kali. Kemudian terdakwa Martini alias Inak Abi melempar batu sebanyak tiga kali dan terdakwa Fatimah alias Inak Air melempar batu sebanyak satu kali.

“Sehingga atap dari gudang penyok/rusak dan para karyawan pulang karena ketakutan di saat jam kerja belum berakhir,” ucapnya.

Akibat perbuatan para terdakwa ini, pemilik gudang mengalami kerugian atas kerusakan atap gudang tembakau miliknya sebesar Rp. 4.5 juta. Dan dengan perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 Ayat (1) KUHPidana. (jay)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Gong Praje Sasak Sorot Proyek Bypass BIL-Kuta

Read Next

Kajian Proyek Penataan Senggigi Diduga Tak Matang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *