banner 300x600

Mengenal Situs Lingkok Beleq Salah Satu Tradisi Lebaran Topat

  • Bagikan
F bok scaled
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA SITUS: Warga Batulayar saat berwudu, mandi atau sekedar mencuci muka di Lingkok Beleq di kawasan Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar , Senin (9/5).

Sumur Besar Tempat Mandi dan Wudu Sebelum Ziarah

 

banner 300x600

Perayaan Lebaran Topat di Batulayar selalu identik dengan Ziarah Makam dan pelesiran sambil makan Topat. Namun ternyata ada salah satu bagian rangkaian tradisi yaitu mandi atau berwudu di Lingkok Beleq. Berikut laporan wartawan Radar Mandalika.

WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT

SENIN, 8 Syawal 1443 Hijriah, Kawasan Batulayar hingga Senggigi ramai dipadati pengunjung. Sudah 2 tahun pemandangan itu tak terlihat sejak pandemi covid-19 melanda awal 2020 lalu. Tradisi Lebaran Topat yang sudah begitu dirindukan kembali bisa dinikmati tahun ini.
Beberapa Warga Batulayar berjalan kaki menuju gang sebelah Jembatan Batulayar. Daun pisang berisikan kembang wewangian ditenteng. Jalan tanah sebelah sungai disusuri. Beberapa meter diseberang terlihat sumur yang silih berganti didatangi warga.
Air ditimba dan diletakan di wadah tempat wudu. Anak kecil diguyur dari ari sumur itu. Beberapa mengambil air untuk berwudu. Selepas itu kembang diletakan di sebelah sumur itu.
Dari sumur berukuran luas sekitar 2×1,5 meter itu air jernih terus keluar. Sekitar 1,5 meter tinggi air yang ada pada kedalaman sumur sekitar 3 meter itu. Bebatuan alam mengelilingi air sumur itu.
Ternyata mandi atau bermudu menjadi bagian rangkaian tradisi lebaran topat warga setempat. Tak ada yang tau pasti sejak kapan sumur yang dikenal warga setempat dengan nama Lingkok Beleq itu ada. Namun warga meyakini sumur itu sudah ada sejak zaman dulu. Termasuk tradisi itu. Seiring zaman tradisi itu ternyata sudah mulai memudar di masyarakat. Padahal dari penurutan tokoh masyarakat setempat sebelum ziarah makam, warga dulu biasa mandi atau wuduh atau hanya sekedar mengusap wajah dari air sumur itu. Ajaibnya sumur itu, air sumur itu tak pernah surut ataupun mengering. Meski waktu musim kemarau pun.
Lokasi Lingkok Beleq yang merupakan sumur mata air ini pun sebenarnya tidak jauh dari jalan raya. Sayangnya tidak adanya plang atau penujuk arah sebagai penanda membuat keberadaannya nyaris tidak diketahui. Hanya sebagian besar masyarakat kawasan Batulayar yang mengetahui. Padahal situs budaya tersebut adalah salah satu yang wajib dikunjungi sebagai rangkaian perayaan lebaran ketupat di Batulayar.
“Situs ini memang masih ada, tapi tidak terawat,” ujar Camat Batulayar, Afgan Kusuma Negara saat menyambangi Lingkok Beleq di momen lebaran ketupat, Senin (09/05).
Tak adanya plang membuat banyak masyarakat luar yang hendak berkunjung ke sana justru tersesat. Kendati memang masih ada sebagian masyarakat yang tetap datang berkunjung ke sana.
Ia pun berharap dalam perayaan lebaran ketupat ke depannya, bisa diadakan napak tilas bagaimana tradisi asli yang dilakukan masyarakat pada zaman dahulu.
“Jadi napak tilas mulai dari mandi dan berwudhu di Lingkok Beleq, setelah itu jalan untuk ziarah ke makam yang jaraknya kurang lebih 100 meter. Baru lah kemudian kita ke pantai,” terangnya.
Tak bisa dipungkiri, perayaan lebaran ketupat beberapa tahun terakhir diakuinya memang berbeda dari yang dilakukan masyarakat terdahulu. Bahkan, masyarakat Batulayar sendiri pun kini jarang memulai perayaan lebaran ketupat dengan mandi di Lingkok Beleq tersebut.
“Namun beberapa tahun terakhir yang kita lakukan malah naik cidomo ke makam, tanpa mandi dulu di Lingkok Beleq,” imbuh Afgan.
Kondisinya situa budaya itupun kini kurang terawat. Dari jalan raya tidak ada plang penunjuk arah, bahkan di kawasan Lingkok Beleq itu juga tidak dipasangkan penanda.
“Ini sekarang tidak ada yang kelola, jadi kita harapkan ke depannya agar pihak desa bisa mengelolanya,” pesan Afgan.
Selain itu, pihaknya berharap Dinas Pariwisata Lombok Barat dapat mendukung lokasi mata air itu sebagai salah satu situs budaya lokal. “Bisa diberikan semacam deskripsi dan gambaran, bagaimana tahapan-tahapan dari ziarah makam ini,” lanjutnya.
Ditemui di lokasi yang sama, Sajidin, warga asli Batulayar pun menuturkan bagaimana ia sejak kecil selalu diajak mandi dan berwudhu di Lingkok Beleq sebelum berziarah makam.
“Kita biasanya ke Lingkok mandi, kemudian setelah itu baru ke makam ziarah. Orang tua kita dulu mandi di Lingkok Beleq ini kan untuk membersihkan diri dan mengharapkan berkah,” ujar Sajidin menceritakan kenangan masa kecilnya.
Kini, ritual mandi dan berwudhu di situs bersejarah dalam perayaan lebaran ketupat itu pun diakuinya masih dilakukan oleh sebagian masyarakat. Namun, cenderung tidak terekspos. Sehingga jarang masyarakat luas yang mengetahui tradisi asli yang dilakukan masyarakat Batulayar saat lebaran ketupat.
Terlebih seremonial lebaran ketupat yang dilakukan Pemda pada perayaan sebelum-sebelumnya pun melompati tradisi yang dilakukan di Lingkok Beleq tersebut oleh orang tua terdahulu. Kondisi ini cukup disayangkan, mengingat warisan budaya merupakan salah satu aset penting suatu daerah yang harus tetap dijaga. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *