Lotim Terancam Bergeser ke Level Dua PPKM

  • Bagikan
F ANEV
PKP SETDA LOTIM FOR RADAR MANDALIKA ANEV : Forkompimda Lotim bersama jajaran OPD, saat melakukan anev capaian vaksinasi di Lotim menjelang event berkelas MotoGP.

LOTIM – Status level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) disebuah daerah, ditentukan pemerintah pusat melihat sejauh mana capaian vaksinasi dosis kedua. Sementara Lombok Timur (Lotim), berada di level satu dengan capaian vaksinasi dosis dua sebanyak 60,23 persen, dari 70 persen yang disyaratkan. Sedangkan vaksinasi lansia baru mencapai angka 40,59 persen dari 60 persen yang disyaratkan.
Kondisi itu mengkhawatirkan Pemerintah Daerah (Pemda) Lotim yang berada di level satu, akan bergeser ke level dua. Ditambah masalah yang tak kunjung selesai, yakni masih terjadinya perbedaan data manual dengan P-Care, sebagai acuan data vaksinasi pemerintah pusat.
Untuk meningkatkan capaian vaksinasi, Pemda Lotim mendorong kembali percepatan vaksinasi agar Level PPKM Lotim tidak bergeser. Pergeseran dari level satu ke dua dapat berisiko ke banyak sektor, salah satunya aktivitas ekonomi terutama pelaku pariwisata yang kini tengah bersiap menjelang MotoGP. “Jika kita drop di level dua, pelaku pariwisata tidak boleh menerima tamu. Ini akan menjadi persoalan yang kompleks,” kata HM Juaini Taofik, Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, dalam Analisis dan Evaluasi (Anev) Vaksinasi Covid-19 di Lotim, di Rupatama Kantor Bupati, (4/2) lalu.
Kaitan dengan event MotoGP, juga menjadi alasan pemerintah mendorong vaksinasi ketiga atau booster. Terutama, terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun honorer. Ditekankan Juaini, ASN lingkup Sekretariat Daerah (Setda) Lotim mau pun Organisasi Perangkat Daerah (OPD), melakukan vaksinasi sampai tuntas di Ballroom kantor bupati.
Ia optimis, capaian vaksinasi terhadap anak-anak daerah ini, akan dapat mendorong pemenuhan persentase yang dibutuhkan, untuk mempertahankan level Lotim saat ini. Dengan catatan, semua komponen bersinergi dan membangun kerjasama baik.
“Vaksin booster bagi lansia dan kelompok masyarakat rentan lainnya, juga penting,” ucap Juaini mengingatkan.
Sementara itu, Kapolres Lotim AKBP Herman Suriyono mengingatkan perlunya klarifikasi jarak pemberian vaksin covid-19 dengan imunisasi lainnya, seperti vaksin campak, maupun vaksin Difteri Tetanus terhadap anak, dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
“Kami melihat kendalanya di sana, sehingga pencapaian target vaksinasi anak usia 6 sampai 11 tahun lamban. Dari itu, harus disosialisasikan maksimal, jarak imunisasi BIAS dengan vaksin covid-19,” pungkasnya. (fa’i/r3)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *