Limbah PDAM Kembali Mencuat, Warga Penujak Protes

F AA Limbah PDAM

IST/RADAR MANDALIKA TERCEMAR: Seperti ini kondisi air sungai di Desa Penujak diduga dampak limbah mesin pengolaan air milik PDAM.

PRAYA – Warga Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat kembali mengeluhkan dampak limbah pengolahan air oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) Lombok Tengah. Dampak limbah ini, air sungai di sana tercemar bahkan lahan pertanian warga juga sama.
Kades Penujak, Lalu Suharto yang dikonfirmasi Radarmandalika.id Group mengaku, sejak dibangunnya jaringan air milik PDAM di Praya Barat, mesin pengolah air tersebut diduga tidak dilengkapi dengan penampungan limbah.
Kades menerangkan, hal ini menyebabkan kondisi ini berdampak dan sangat merugikan warga di sana. awalnya dulu warga di sekitar irigasi bisa menanam kangkung dan budidaya ikan namun sekarang menjadi terganggung dan hasilnya berkurang.
“Sejak mulainya ada PDAM di Penujak ini sudah, itu limbahnya dibuang ke kali Penujak, itu yang dikeluhkan warga,” ungkapnya, tadi malam via telpon.
Menurut kades, limbah yang keluar dari mesin pengolah air milik PDAM tersebut berupa lumpur hal ini menyebabkan air sungai menjadi keruh. Sehingga warga tidak bisa memanfaatkan air dari kali tersebut.
Sebelumnya, kades juga mengaku pernah melakukan komunikasi dengan pihak terkait, namun karena terdampak covid-19 belum ada tindak lanjut.
“Kemarin karena dampak recofusing katanya, padahal ini mestinya di prioritaskan,” tegasnya.
Kades menjelaskan sebagian besar wilayah Penujak terdampak, yakni di Dusun Tongkek, Kane, Adong, Karang Dalem, dan Karang Daya.
“kami harap agar pihak PDAM segera bisa merealisasikan penampungan,”harapnya.

Ditambahkan tokoh masyarakat Desa Penujak, L. Sofian Hadi membenarkan persoalan tersebut, dimana sudah sangat lama persoalan ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari pihak PDAM.
“Memang benar air sungai kami sangat kotor dan keruhm” ungkap dia.
Dia menerangkan, warga sejak tahun 2018 telah meminta tanggungjawab pihak PDAM agar membuat penampungan limbah dan kemudian dapat dimanfaatkan warga menjadi batu bata.
“Limbah ini berbau dan berbahaya,” yakinnya.

Sementata, Plt Direktur Utama PDAM Loteng, Bambang Supraptomo mengaku telah mendiskusikan hal ini. Sementara terkait pemeliharaan sumber daya alam (SDA) di wilayah utara untuk disepakati dengan program reboisasi dalam penjagaan dan memperbanyak sumber maupun intensitas air.
“Kalau masalah lumpur pengolahan air di WTP Penujak, kami akan segera menindak lanjuti,” janjinya tegas via wa kepada Radarmandalika.id.(ndi/tim)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Sembilan Orang Termasuk Pejabat Poltekpar Lombok Diperiksa Polisi

Read Next

Sembilan Medali, Zohri Target Dua Emas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *