Dari Penampilan Tari Dedoro yang Dipentaskan Siswa SMAN 1 Gerung

F Bok 6

RAZAK/RADAR MANDALIKA PENTAS: Perwakilan siswa SMAN 1 Gerung saat menampilkan Tari Dedoro yang diciptakan Ni Putu Ari Andayani dalam acara Gebyar Seni Pelajar di Taman Budaya, belum lama ini.

Merasa Bangga, Ide Awal Muncul Setelah Jalan-jalan ke Lokasi TPA

Tari Dedoro yang dipentaskan siswa SMAN 1 Gerung memiliki pesan moral yang mendalam. Tari yang diciptakan Ni Putu Ari Andayani untuk mengajak masyarakat agar menjaga dan menyelamatkan bumi dari sampah terutama dari sampah plastik. Seperti apa ?

RAZAK-MATARAM

GEBYAR Seni Pelajar yang diadakan di Taman Budaya NTB belum lama ini, menampilkan berbagai seni dari perwakilan siswa SMA sederajat di Pulau Lombok dan Sumbawa. Waktu itu, Taman Buda cukup ramai dengan penonton dari kalangan siswa yang menyaksikan tari dan seni tradisional yang dipentaskan dari perwakilan sekolah masing-masing.

Mata penonton tertuju saat Tari Dedoro (sampah) ditampilkan. Delapan penari dan 12 pemain musik dari siswa SMAN 1 Gerung mementaskan Tari Dedoro yang diciptakan Ni Putu Ari Andayani. Tepuk tangan penonton meramaikan ruangan seakan terpukau dengan penampilan siswa SMAN 1 Gerung yang berbeda dari peserta lainnya.

Betapa tidak, aksesoris yang dipakai para penari dan pemain musik dalam Tari Dedoro dominan dari sampah plastik. Penari dan pemain musik bak tumpukan sampah. Sampah plastik warna warni melekat di tangan dan badan mereka. Yang semakin membuat penonton terpukau, dalam Tari Dedoro ada seorang penari yang memeluk Globe. Pesannya agar masyarakat menjaga dan menyelamatkan bumi dari bahaya sampah plastik.

“Sekarang banyak sampah plastik yang sulit sekali hancur,” ungkap Ni Putu Ari Andayani. Tumpukan sampah di berbagai daerah menjadi cikal bakal terciptanya Tari Dedoro. Ari sapaan akrabnya menceritakan ide awal munculnya Tari Dedoro. Awalnya, dia sempat berjalan-jalan ke wilayah Lombok Barat (Lobar). Tepatnya di Kebon Kongok, Kecamatan Gerung, yang merupakan lokasi Tempat Pembungan Akhir (TPA) Regional.

Di Kebon Kongok, Ari melihat bukit yang kebelah. “Tertariknya saya ke sana karena melihat bukit kebelah. Ternyata sampai ke sana, itu sampah. Di sana saya kaget melihat banyak sampah plasti terutama yang tidak bisa hancur. Akhirnya saya buat karya ini (Tari Dedoro),” kenang dia.

Awalnya ujar Ari, Tari Dedoro ini untuk dibawakan atau ditampilkan dirinya sendiri sebagai penari. Namun, tiba-tiba ada tawaran datang untuk membuat tari untuk dipentaskan. “Tapi karena anak-anak (Siswa SMAN 1 Gerung) mau nari, iya udah konsepnya sampah. Berhubung anak-anak muda Gelar Seni Pelajar,” ungkap dia.

Ari mengatakan, Tari Dedoro memiliki makna mendalam. Mengajak masyarakat agar menjaga bumi dari sampah. Baik terhadap kalangan tua maupun untuk anak-anak muda agar sadar atas bahaya sampah apalagi sampah plastik. “Saya pingin anak-anak muda juga sadar akan sampah plastik yang gak bisa hancur di tanah,” ungkap dia.

Ari tidak menampik banyak pertanyaan yang dilontarkan banyak orang. Kenapa aksesoris yang digunakan para siswa bukan sampah daun. Malah justru sampah plastik yang menempel di tangan dan badan penati maupun pemain musik.

“Yang saya angkat sampah plastiknya, bukan daun-daunnya. Kalau (sampah) daun itu udah kemakan sama alam sendiri,” jelas dia.

Sampah plastik tidak hanya membahayakan manusia. Menurut Ari, sampah palstik yang berada di laut pun bisa mengancam biota laut.  Mahluk hidup yang berada di laut bisa terancam apabila memakan sampah plastik. “Nah, di situ saya pingin sadarin terutama untuk saya pribadi,” kata dia.

Lebih lanjut dikatakan, aksesoris sampah plastik yang melekat di tangan para penari dan pemain musik dari siswa SMAN 1 Gerung saat menampilkan Tari Dedoro itu dibawa dari rumah masing-masing. “Saya pesan sama mereka tolong jangan beli tas plastik. Zaman sekarang, anak-anak gampang beli di pasar dan harganya berapa sih. Tapi saya bilang ambil sampah yang ada di rumah,” cetus Ari.

Menyinggung seorang penari yang memeluk Globe. Ari mengutarakan, makna yang ingin disampaikan sangat mendalam. Bahwa, bumi atau alam harus dijaga dan diselamatkan dari sampah. “Kita sayang bumi kita. Itu maksud saya. Minta maaf sama bumi, minta maaf sama alam,” cetus dia.

I Gusti Ayu Lestari Putri, seorang penari yang membawa dan memeluk Globe mengungkapkan, dirinya bersama teman-temannya merasa bangga bisa menampilkan Tari Dedoro yang diciptakan Ni Putu Ari Andayani. Saat pergelaran Gebyar Seni Pelajar di Taman Budaya. “Kita bangga bisa mewakili sekolah SMAN 1 Gerung,” ucap dia.

Menurut dia, pesan yang disampaikan dalam Tari Dedoro agar masyarakat menjaga bumi dari sampah terutama sekali dari sampah plastik. Dia berharap, masyarakat bila perlu bisa mengolah sampah plastik. Karena notabane sampah plastik sulit hancur di tanah. Tidak seperti sampah dari dedaunan.

“Pas memeluk Globe sambil berteriak itu saya memaknainya menyelamatkan bumi dari sampah. Agar masyarakat tahu tujuan kita menampilkan Tari Dedoro ini untuk menyelamatkan bumi dari sampah plastik yang sulit didaur ulang,” jelas siswa kelas XI itu. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Kementerian: Perubahan Nama BIL Usulan Pemprov NTB

Read Next

Bentuk Tim PAKET

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *