LOBAR—Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi tuan rumah pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan General Manager Hotel Indonesia (IHGMA) 2026. Ini momentum penting bagi pergerakan pariwisata NTB, lantaran posisi organisasi tersebut sebagai penggerak utama industri hospitalitas di Indonesia.
Dalam konferensi pers yang dihadiri langsung Ketua Umum IHGMA, Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa, didampingi oleh sejumlah tokoh kunci organisasi seperti Nawawi Halik, Fahrurrazi, Lalu Kusnawan, serta Herryadi Baiin, gambaran komprehensif mengenai visi besar yang diusung dalam Rakernas tersebut dipaparkan, terutama pengembangan destinasi wisata di NTB. Agenda Rakernas ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai dari Kamis (16/4) sampai Sabtu (18/4).
Ketua Umum IHGMA, Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa, menjelaskan pertemuan ini akan menjadi wadah konsolidasi bagi para General Manager dari seluruh penjuru tanah air untuk merumuskan standar pelayanan yang lebih adaptif dan inovatif. Hal ini dipandang krusial mengingat dinamika industri perhotelan global yang terus berubah pasca-pandemi dan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Setiap anggota IHGMA memiliki visi yang seragam dalam menghadapi tantangan industri, termasuk dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penerapan praktik pariwisata berkelanjutan,” jelasnya kepada awak media di Hotel Merumatta Senggigi, Kamis (16/4).
Rakernas ini diharapkan melahirkan kebijakan internal organisasi yang mampu meningkatkan daya saing hotel-hotel di Indonesia di kancah internasional, serta memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional melalui sektor pariwisata. IHGMA berperan dalam memberikan masukan profesional terkait kebijakan industri.
“Hasil pembahasan Rakernas akan disampaikan kepada pemerintah untuk memetakan kebutuhan pasar wisata yang sesungguhnya,” jelasnya.
Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan publik. Ia menyatakan bahwa IHGMA memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pertumbuhan pariwisata selaras dengan kebijakan nasional. Dengan jaringan anggota yang luas, organisasi ini mampu menjadi jembatan informasi yang efektif guna mendukung program-program Kementerian Pariwisata, baik dalam hal promosi maupun standardisasi layanan.
Pemilihan Senggigi, Lombok Barat sebagai lokasi Rakernas bukanlah tanpa alasan. Langkah ini diambil sebagai strategi konkret untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah setempat atau multiplier effect. Tercatat peserta Rakernas itu mencapai 29 DPD dan 16 DPC yang seluruhnya merupakan GM hotel. Kehadiran ratusan pimpinan hotel dari berbagai daerah diprediksi berdampak pada okupansi hotel di kawasan Senggigi. Selain itu, sektor UMKM dan penyedia jasa transportasi lokal juga diprediksi akan merasakan imbas positif dari mobilisasi peserta Rakernas.
Melalui jaringan ribuan anggotanya, IHGMA berkomitmen untuk mempromosikan potensi wisata NTB secara masif. Setiap General Manager yang hadir diharapkan membawa cerita dan pengalaman positif dari Lombok ke daerah asal mereka masing-masing, yang secara tidak langsung bertindak sebagai agen promosi bagi destinasi wisata unggulan di NTB.
“Kami ingin memastikan bahwa Rakernas ini memberikan manfaat nyata bagi daerah. NTB memiliki potensi luar biasa, dan melalui acara ini, kita tunjukkan kepada dunia bahwa Senggigi dan sekitarnya siap menyambut wisatawan dengan standar keramahtamahan tertinggi,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DPD IHGMA NTB, Lalu Kusnawan, mengungkapkan bahwa pihaknya menyambut baik amanah dari DPP Pusat yang menunjuk NTB sebagai pusat kegiatan Rakernas tersebut. Menurutnya, ada tanggung jawab moral bagi para praktisi perhotelan untuk mengembalikan kejayaan Senggigi yang selama ini dianggap mengalami penurunan aktivitas atau sempat disebut “mati suri” dibandingkan kawasan wisata baru lainnya.
“Dengan harapan ini menjadi trigger (memicu) tidak hanya bagi kami saja, tetapi untuk semua stakeholder,” ujar Lalu Kusnawan.
Acara ini dinilai sebagai gerakan nyata untuk menoleh kembali ke destinasi yang pernah menjadi tulang punggung pariwisata NTB. Keputusan memilih Senggigi sebagai lokasi acara merupakan buah dari kesepakatan bersama yang didasari atas rasa kepedulian. Para General Manager hotel yang tergabung dalam IHGMA menyadari bahwa pemulihan sebuah destinasi memerlukan kehadiran massa dan kegiatan berskala nasional yang mampu menarik perhatian publik serta investor.
Sebab ia menyadari sektor pariwisata tidak dapat bergerak sendiri-sendiri, melainkan butuh sinergi antara penyedia akomodasi dan daya tarik destinasi. Lalu Kusnawan menjelaskan bahwa profesi General Manager memiliki peran krusial sebagai ujung tombak promosi di lapangan. Ketika seorang pimpinan hotel memasarkan unit usahanya, secara otomatis mereka juga menjual potensi keindahan daerah tersebut.
“Karena GM itu saat mempromosikan daerah, yang ditonjolkan itu destinasinya,” jelas Kusnawan.
Secara tersirat ia menilai IHGMA sedang menciptakan agen-agen promosi baru yang akan menceritakan kembali pesona Lombok ke jaringan luas yang mereka miliki di daerah asal masing-masing. (win)
