MATARAM — Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram kembali meneguhkan komitmennya dalam penguatan tradisi akademik melalui pengukuhan dua Guru Besar baru, yakni Prof Ribahan sebagai guru besar dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris, serta Prof Yusuf sebagai guru besar dalam bidang Evaluasi Pendidikan. Keduanya resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-70 dan ke-71 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 2008 dan 2009/M/KPT.KP/2026.
Acara pengukuhan yang berlangsung di Auditorium Kampus II UIN Mataram pada Rabu (15/4/2026) tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, Senat, dekanat, pimpinan Pascasarjana, para ketua lembaga dan unit, civitas akademika, tokoh agama, tokoh masyarakat, mitra kelembagaan, serta keluarga besar kedua profesor.
Rektor UIN Mataram, Prof Masnun menegaskan bahwa pengukuhan ini merupakan momentum bersejarah yang mencerminkan perjalanan panjang, ketekunan, dan dedikasi tanpa henti dalam dunia akademik.
Menggunakan analogi historis, Rektor menyebut Shah Jahan yang membangun Taj Mahal sebagai simbol cinta abadi. Ia menyatakan bahwa kedua profesor tersebut mempersembahkan gelar guru besar sebagai bentuk cinta yang luhur kepada Istri, Anak, orang tua, keluarga, dan ilmu pengetahuan.
Rektor juga menekankan bahwa sejarah tidak mencatat mereka yang sempurna, melainkan mereka yang terus berjuang dengan optimisme, termasuk dalam bentuk jihad intelektual. Ia mengapresiasi kontribusi ilmiah kedua profesor yang dinilai relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer.
Lebih jauh, Rektor mengajak seluruh dosen untuk terus meningkatkan kapasitas akademik dan meniti jenjang menuju Guru Besar.
“Saya tidak pernah lelah mengajak seluruh dosen untuk terus bertransformasi. Dosen pada jabatan Lektor dan Asisten Ahli harus segera berproses menuju jenjang yang lebih tinggi,” tegasnya.
Sebagai penutup, Rektor menyampaikan pantun inspiratif:
Pergi ke pasar membeli bubur,
Buburnya baru dari pemenang,
Ilmunya luas budinya luhur,
Gelar Guru Besar memang layak disandang.
Burung merpati terbang ke Iran,
Hinggap sebentar di atas dahan,
Jadilah teladan insan cendekiawan,
Membawa UIN Mataram semakin terdepan.
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian individual, tetapi juga refleksi kemajuan institusi dalam membangun ekosistem akademik yang unggul, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, bangsa, dan peradaban global. Sesuai dengan semangat UIN Mataram Cendekia, Terbuka, Unggul.
Sebelumnya dalam orasi ilmiahnya, Prof Ribahan mengangkat tema “Learner Autonomy as the Foundation of English Language Learning in the Digital Era: Challenges and Opportunities”. Ia menegaskan bahwa realitas empiris pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia menunjukkan pergeseran paradigma yang signifikan. Mahasiswa kini memiliki tingkat kemandirian belajar yang tinggi dalam memanfaatkan teknologi digital—mampu mengakses, memilih, dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri.
Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar perubahan perilaku belajar, melainkan transformasi mendasar dari pembelajaran yang berpusat pada pengajar menuju pembelajaran yang dimiliki oleh pembelajar (learner-centered learning). Namun demikian, ia menekankan bahwa kemandirian tidak tumbuh dalam ruang hampa, melainkan dibentuk oleh interaksi kompleks antara akses teknologi, kurikulum yang fleksibel, motivasi intrinsik, serta peran dosen sebagai fasilitator.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi adanya paradoks era digital: kemudahan akses justru diiringi dengan tantangan berupa limpahan informasi, lemahnya fokus, serta disiplin diri yang belum optimal. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa kemandirian belajar harus dipahami sebagai fondasi epistemologis baru dalam pendidikan modern. Transformasi pembelajaran perlu diarahkan dari pola kontrol menuju fasilitasi, dari transfer pengetahuan menuju pemberdayaan, serta dari pemberian jawaban menuju penumbuhan pertanyaan kritis.
Di sisi lain Prof Yusuf dalam orasi bertajuk “Higher Order Thinking Skills (HOTS): Fondasi Pembelajaran Sains untuk Membangun Kompetensi Abad XXI” menekankan pentingnya HOTS sebagai proses sekaligus tujuan pembelajaran dalam membentuk kompetensi abad XXI.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas berpikir tingkat tinggi dapat dikembangkan secara optimal melalui pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), yang mendorong siswa untuk melakukan discovery learning dan inquiry learning. Model-model seperti PBL, Project-Based Learning (PjBL), pembelajaran autentik, dan pembelajaran berbasis pengalaman dinilai efektif dalam menumbuhkan kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi.
Temuan penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah memiliki efektivitas yang inklusif dan setara secara gender. Meskipun terdapat kecenderungan siswa perempuan lebih unggul dalam pemecahan dan pemahaman masalah, serta siswa laki-laki memiliki rasa ingin tahu lebih tinggi, secara statistik model PBL memberikan dampak yang signifikan tanpa bias gender. Hal ini menegaskan bahwa kualitas desain pembelajaran jauh lebih menentukan dibandingkan faktor demografis.
Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa tipe stimulus dalam soal HOTS berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep, dengan bentuk narasi atau cerita terbukti lebih efektif dibandingkan grafik, tabel, atau gambar. Sementara itu, gaya belajar memengaruhi respons kognitif siswa, sehingga guru dituntut untuk menghadirkan variasi representasi pembelajaran yang adaptif dan inklusif.
Dalam implikasinya, ia menekankan bahwa guru harus merancang pembelajaran yang tidak lagi berorientasi pada transfer pengetahuan semata, melainkan secara sistematis mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. Pembelajaran sains harus diposisikan sebagai wahana strategis untuk menghadapi kompleksitas tantangan abad XXI.
Pada bagian reflektif, Prof Yusuf menyampaikan kesadaran akademik yang mendalam bahwa kesuksesan ilmiah bukanlah hasil kerja individual, melainkan buah kolaborasi panjang dengan berbagai pihak. Ia mengutip pemikiran Isaac Newton tentang pentingnya “berdiri di atas bahu para raksasa” sebagai fondasi perkembangan ilmu pengetahuan.
Ia juga menegaskan bahwa kebenaran ilmiah bersifat tentatif dan terbuka untuk diuji, sejalan dengan pandangan Karl Popper tentang falsifiabilitas sebagai ciri utama ilmu pengetahuan. Dengan kerendahan hati, ia mengakui bahwa seluruh capaian akademik manusia hanyalah bagian kecil dari keluasan ilmu Allah SWT yang tidak terbatas. (jho)