Cerita L Syarifudin, Kades Kateng yang Berhasil jadikan Petani Bawang Merah Sukses

F bok

KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID MENUNJUKKAN: Kepala Desa Kateng, L Syarifudin saat menunjukkan hasil panen petani bawang merah, kemarin.

Hikmah di Balik Hama Tikus, Berturut-turut Untung Besar

Petani bawang merah di Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat berhasil mengangkat nama desa meraka sampai tembus pasar nasional. Namun semua itu tidak lepas dari peran besar Kepala Desa Kateng, L Syarifudin.

KHOTIM – LOMBOK TENGAH

MUSIBAH besar menimpa petani di Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat pada tahun 2014 silam. Tanaman petani padi di sana diserang hama tikus. Demikian juga petani semangka dan melon ikut gigit jari.
Kades Kateng, L Syarifudin dengan pengetahuan minim dengan berbekal hasil diskusi bersama teman-temannya dia pun bergerak mencari informasi secara online. Kades satu ini memperoleh informasi bahwa tanaman bawang merah paling tidak disukai tikus. Atas dasar ini, kades pun mulai mencoba menanam bawang merah di atas lahan seluas 1 hektare. Modal penanaman pertama dengan membeli bibit jenis umbi sebanyak 1 ton dengan modal dikeluarkan Rp 50 juta sampai panen.
“Awalnya hanya coba-coba, tapi hasilnya bisa mencapai 200 persen, terbukti panen pertama menghasilkan 10 ton dengan estimasi harga jual sekitar 150 juta dan memang benar bawang ini tidak disukai tikus,” ceritanya kepada Radarmandalika.id, Rabu kemarin.
Selanjutnya, pada tahun itu juga air mulai dibutuhkan. Selama proses penanaman, ia hanya mengandalkan air dari embung dengan cara di sedot.
Kemudia penanamanpun berlanjut, tahun 2015 lahan areal tanaman diperluas menjadi 6 hektare. Dimana, selesainya panen tahap kedua, kades berinisiatif membuat embung lebih besar dengan melebarkan embung penampungan air yang sudah ada namun yang memiliki mata air, sehingga pasokan air pada tampungan embung tidak akan cepat habis. Beruntung lagi, panen tahap kedua sukses dan mulai diikuti petani lainnya.

Pada musim tanam tahun 2016, terhitung sebagai musim tanam tahap ketiga, dirinya bersama petani lain telah mengelola bersama kelompok lahan seluas 11 hektare. Di atas lahan yang luas ini ditambah modal dasar ada, penanaman bibit bawang merah pun dilakukan.
“Kami juga diberikan bantuan seluas 5 hektare dari pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian, kami melakukan uji coba perbandingan hasil dari penanaman bawang dengan bibit umbi dan bibit biji, “ tuturnya.
“Penanaman dilakukan di semua musim, kemudian disiasati dengan menanam bibit jenis lain dengan menyesuaikan kondisi,”sambungnya.
Sementara tahun 2017, lahan garapan dan binaanpun semakin diperluas dengan luas lahan 17 hektare. Begitu juga dengan tahun 2018 bertambah lagi menjadi 20 hektare. Sedangkan tahun 2019 lahan telah menjadi 27 hektare dengan hasil yang terus meningkat dan kelompok binaan masyarakat dan petani semakin merasakan dampaknya. Perjuangan mereka pun dilirik pemerintah daerah, tak main-main satu kehormatan diberikan Bupati H Moh. Suhaili FT dengan dinobatkan sebagai Pelopor Petani Bawang Merah Lombok Tengah.
“Tahun itu juga, saya mulai tidak konsen bertani karena mendekati momen Pilkades. Ujianpun begitu banyak datang,” ceritanya.
“Alhamdulillah saya masih diberikan amanah untuk kedua kalinya jadi kades,” sambung dia lagi.
Dari bawang merah ini, Kades mengaku beberapa prestasi diraih dan mampu mencuri perhatian publik sampai ke pusat, sampai-sampai Badan Penelitian Tanaman dan Sayuran RI datang. Mereka datang dalam rangka meresmikan kampung unggas pada saat itu untuk melaunching Kampung Unggas di Desa Teruwai. Dalam kesempatan itu, pejabat kementerian ini menyempatkan diri survey lokasi di Kateng.
Selanjutnya, Direktur PT. Panah Merah Indonesia yang bergerak dalam bidang pembibitan juga meninjau penanaman bawang merah dari biji untuk 11 hektare, diakui ini menjadi areal pembibitan bawang terbesar di Indonesia dalam sejarah.

Tidak sampai disitu, sejumlah daerah juga turut datang belajar ke desa dari Pulau Buton, Kabupaten Bau-Bau. “Pada tahun 2020 bantuan diberikan dari Dinas Pertanian seluas 6 hektare dan akhir tahun 2020 diberikan bantuan tambahan oleh Kementerian Pertanian seluas 6 hektare namun gagal panen, mengingat droping bibit dilakukan menjelang musim penghujan dan bibit yang dikirimkan tidak tahan hujan,” ceritanya.
Di samping itu, tahun 2021 sebelum dilakukan evaluasi dan droping bibit dilakukan pengusulan lebih awal sehingga dapat menghindari gagal panen seperti tahun 2020. Tahun 2021 lahan pertanian sudah mencapai 45 hektare, dimana dengan rincian luas areal lahan swadaya seluas 30 hektare dan 15 hektare merupakan bantuan melalui APBN dan sukses sampai dengan panen.
“Kendala terberat saat ini persoalan air. Kami pun membuat sumur bor. Budidaya bawang ini awalnya saya sendiri, namun sekarang alhamdulillah sudah mencetak petani bawang sejumlah 60 orang petani dari 8 kelompok tani,” katanya bangga.
Kemudian untuk pemasaran, dia menyatakan hampir tidak ada kendala, mengingat setiap harinya bawang merah petani dapat laku terjual 4 ton untuk bawang basah.
“Kami berharap kedepan lahan di desa Kateng dapat difasilitasi sumur bor,” harapnya.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

BPN Ukur Ulang Tanah di Tengah Sirkuit

Read Next

Irzani: Dalam Waktu Dekat Akan Selesai

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *