BMW ATQIA Raih Penghargaan Nasional

F OJK

IST/RADAR MANDALIKA BERIKAN PENGHARGAAN: Ketua Dewan Komisioner OJK Pusat, Wimboh Santoso saat memberikan penghargaan kepada BMW Ahmad Taqiuddin Manshur (ATQIA) Bonder, Lombok Tengah secara daring Jumat pekan lalu.

MATARAM – Belum genap setahun diresmikan oleh Wakil Presiden RI, KH Ma’aruf Amin Bank Wakaf Mikro (BWM) Ahmad Taqiuddin Manshur (ATQIA). Sekarang sudah berhasil meraih penghargaan tingkat nasional untuk Kategori Penggerak Keuangan Mikro Syariah Dalam Mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (15/01). Acara ini disiarkan langsung di salah satu televisi swasta.

Penghargaan ini disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) OJK yang digelar secara daring dengan  tema “Momentum Reformasi Sektor Jasa Keuangan Pasca Covid-19 Dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional Yang Inklusif”.  Selain Baiq Mulianah, OJK juga memberikan penghargaan kepada beberapa tokoh yang berperan penting mendorong inklusi keuangan di daerah dan penggerak fintech dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional.

“Alhamdulillah, ini berkat doa dan dukungan semua keluarga besar Pondok Pesantren Al-Manshuriyah, terutama kerja keras serta keikhlasan tim manager hebat dan tangguh. BWM ATQIA, bisa meraih BWM Terbaik Nasional. Semoga Allah SWT terus melimpahkan berkahnya, memberi kesehatan dan keafiataan sehingga bisa terus memberi manfaat. Penghargaan ini utk semua keluarga, santri serta masyarakat Desa Bonder dan sekitarnya,” ketua Yayasan Pontren Almansyuriah Sangkong Bonder, Baiq Mulianah, kemarin.

Dalam penyerahan tersebut, Presiden RI Joko Widodo turut hadir secara virtual yang diikuti oleh pelaku industri jasa keuangan, pimpinan Lembaga Negara, Menteri Kabinet Indonesia Maju, Gubernur dan Kepala Daerah, serta pelaku usaha mikro dan pimpinan media massa tersebut.

“Terimakasih kepada bapak presiden, Dewan Komisioner OJK,  Alhamdulillah berkat BMW masyarakat dengan mudah bisa mendapatkan pinjaman mudah cepat dan tanpa agunan dan terbebas dari ribak dan rentenir,” ungkap Rekor Universitas Nahdlatul Ulama NTB itu.

Mulianah mendorong agar BMW Atqia terus bekerja keras, beridikari dan bersinergi menuju kemandirian umat yang lebih berkah.

Manager BWM ATQIA, Wianra Princess dikonfirmasi terpisah menjelaskan Bank WAkaf Mikro (BWM) sendiri merupakan lembaga keuangan mikro syariah yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bertujuan menyediakan akses permodalan  bagi masyarakat kecil yang belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal. Bank Wakaf Mikro berperan untuk memberdayakan komunitas masyarakat di sekitar pondok pesantren dengan mendorong pengembangan bisnis mereka melalui pemberian dana pinjaman untuk kelompok-kelompok bisnis masyarakat yang produktif.

BWM ATQIA berbadan hukum koperasi melalui KemenKop dan UMKM Nomor 013 422 /BH/M.KUKM.2/V/2019 dan OJK NTB Nomor Kep-290/ko.801/2019. BWM berdiri di masing-masing pesantren, sementara BWM ATQIA diresmikan pertama kali oleh Wapres 22 Februari 2020 lalu di Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan Dusun Sangkong, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah.

“BWM berfungsi sebagai lembaga keuangan mikro syariah yang menyalurkan dana sebagai pinjaman kepada anggotanya (nasabah) tanpa memerlukan agunan,” jelasnya.

Selain itu,  lanjutnya pinjaman yang didistribusikan oleh BWM tidak memerlukan jaminan dari peminjam dan margin ditetapkan pada tingkat yang sangat rendah, yaitu 3% per tahun. Pengembalian rendah yang diperoleh ini akan digunakan untuk operasional BWM. Konsep pengembalian rendah didukung oleh hasil endowment BWM yang diinvestasikan pada Bank Syariah. Peminjam yang memenuhi syarat akan direkomendasikan oleh manajemen pesantren, yang memilih anggota berdasarkan reputasi mereka. Contoh peminjam yang memenuhi syarat adalah anggota lama masyarakat di sekitar pesantren. Mereka harus mengikuti pelatihan awal dalam rentang lima hari dalam pengaturan kelompok yang disebut Pelatihan Wajib Kelompok (PWK).

Nasabah melakukan pembayaran secara mingguan dalam pertemuan kelompok reguler yang disebut Halaqoh Mingguan (HALMI). Selain dana yang diterima, nasabah akan menerima pelatihan dasar tentang pendidikan agama, pengembangan bisnis, dan managemen ekonomi rumah tangga untuk mempertajam keterampilan kewirausahaan mereka dan meningkatkan produktivitas.

Pembiayaan dengan akad Qordul Hasan yaitu nasabah dapat memperoleh pinjaman dana dan pengembaliannya dapat dilakukan secara angsuran atau sekaligus, tanpa bunga. Akad Qordul Hasan sangat diminati para nasabah karena sama sekali tidak memiliki suku bunga ataupun margin, jadi kalau pinjam Rp 1 jt maka baliknya tetap 1 jt dalam kurun waktu 1 tahun.

“Sampai saat ini Jumlah nasabah BWM ATQIA sampai saat ini yaitu 536 nasabah,” katanya

Pencapaian yang sudah diraih sampai saat ini yaitu beberapa produk nasabah sudah memasuki pasar nasional seperti songket khas sasak, kipas yang terbuat dari ketak, tas talikur, tikar pandan, dan tas ketak. Dan masih banyak lagi prudok unggulan nasabah BWM ATQIA yang sdah kami daftarkan ke marketplace supaya memudahkan nasabah dalam pemarasan produknya.

“Selain dari lingkungan pondok pesantren,

Nasabah BWM ATQIA sudah mencakup 5 desa yaitu, Desa Bonder, Penujak, Banyu Urip, Kateng, dan Tanak Rarang,” pungkasnya. (jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Guru Non PNS Bersyukur Iuran BPJS Diambil dari Insentif

Read Next

Satu Anggota Polresta Mataram Dipecat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *