Adu “Sakti” Suhaili-Ahyar di Musda Golkar

F Suhaili Ahyar

MATARAM – Jelang perebutan kursi Ketua  DPD I Golkar NTB di Musyawarah Daerah (Musda) dalam waktu dekat kembali panas. Setelah DPP Golkar menginstruksikan jajaran DPD Golkar NTB untuk menggelar Musda paling telat 31 Juli 2020. Pascaditunda hingga tiga kali.

Adapun figur yang sudah lama mencuat ke permukaan diprediksi ikut berkontestasi dalam merebut kursi ketua. Di antaranya, Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh, dan Bupati Lombok Tengah, H Moh. Suhaili Fadhil Tohir (FT). Dua tokoh politisi Golkar itu disebut-sebut akan maju bertarung di Musda.

Sementara, politisi senior Golkar, H Ahyar Abduh memiliki tekad kuat untuk merebut kursi Golkar NTB. Yang akan digelar pada Juli ini. Dia sudah lama mengambil ancang-ancang politik. Salah satunya, sudah terbang ke Jakarta untuk melakukan lobi ke Ketum DPP Golkar, Airlangga Hartarto.

“Saya silaturrahim secara langsung dan juga ketemu sama Pak Ketua Umum DPP Golkar, Bapak Airlangga. Juga bersama DPP lainnya,” ungkapnya kepada media.

Ahyar menceritakan isi pertemuannya dengan Airlangga, dia mengaku, berdiskusi banyak terkait kemajuan Golkar. Tentang bagaimana untuk menggolkan visi misi Golkar di NTB. Berdasarkan amanat Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar. Dirinya juga menyampaikan banyak tentang kondisi dan perkembangan NTB sekarang.

“Kita dialog, diskusi, bagaimana Golkar ke depan. Dari visi misi dan program yang harus kita sukseskan. Yang harus kita laksanakan secara sungguh-sungguh di NTB,” beber dia.

Langkah politik Ahyar dalam melobi dukungan orang nomor satu di Golkar itu rupanya tidak sia-sia. Kabar yang santer beredar bahwa DPP Golkar akan mengarahkan dukungan ke Ahyar. Ahyar pun memantapkan diri untuk bersaing dengan kandidat lainnya. Dengan memperbanyak amunisi politik. Juga salah satunya gencar berkomunikasi dengan DPD II.

“Saya juga disebut-sebut sebagai salah satu kandidat,” cetus Ahyar.

Disinggung kemungkinan dirinya terpilih secara aklamasi. Ahyar tampaknya tidak ingin tinggi hati. Yang jelas, ujar dia, mekanisme perebutan kursi Ketua Golkar NTB harus lewat Musda. Tinggal menunggu kepastian kapan Musda akan digelar pada bulan ini. Namun menjelang Musda, aku Ahyar, memang sudah terlihat dinamika-dinamika politik.

“Golkar ini sangat konsisten taat azaz, dan aturan-aturan. Apakah itu AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) organisasi. Juga arahan-arahan dari DPP,” ungkap dia.

Dalam Musda, kata Ahyar, Golkar selalu mengedepankan dan mempertahankan tradisi musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan atau kebijakan partai. Termasuk dalam perebutan kursi ketua. Sehingga, diharapkan nanti tidak ada istilah ada pihak yang terluka. Juga ada pihak yang berbahagia.

“Semuanya bisa kita musyawarahkan. Bisa dikompromikan. Apalagi ini tentu dalam internal keluarga besar partai Golkar,” cetus Wali Kota Mataram dua priode itu.

Namun kata dia, tentu tergantung dari pihak yang memiliki suara dalam Musda. Antara lain, dari DPP, DPD I Golkar NTB, DPD II Golkar kabupaten/kota di NTB, dan organisasi sayap partai. “Itu yang punya hak suara,” sebut dia.

Menurutnya, tradisi musyawarah di partai berlambang pohon beringin harus tetap dipertahankan. “Tentu tradisi musyawarah bisa dipertahankan. Untuk mempertimbangkan berbagai aspek. Yang mana tujuannya adalah mana kader yang bisa menahkodai Partai Golkar di NTB,” jelas Ahyar. 

Sebagai politisi ulung, Ahyar tentu memiliki segudang pengalaman dalam dunia politik. Juga pengalaman dalam memimpin partai. Betapa tidak, dirinya pernah menahkodai Golkar di Kota Mataram. Salah satu berkat kegigihannya, Golkar sampai saat ini masih menjadi partai penguasa di ibu kota. Terlihat dari prolehan kursi terbanyak sekarang di DPRD Kota Mataram.

“Pernah menahkodai DPD Kota Mataram. Saya tidak perlu berlebihan mengatakan bahwa kejayaan pada waktu Pileg (Pemilihan legislatif) dari 4 kursi menjadi 9 kursi,” terang dia.

Dalam perebutan kursi Ketua DPD Golkar NTB, rupanya Suhaili akan benar-benar diuji untuk bisa kembali merebut posisi ketua. “Pertarungan merebut kursi Golkar NTB I, saya prediksi akan seru. Suhaili dan Ahyar akan head to head,” kata Pengamat Politik NTB, Dr Kadri kepada Radar Mandalika, kemarin.

Antara Ahyar dan Suhaili akan saling adu “sakti”. Kadri menilai, keduanya mempunyai peluang dan memiliki kekuatan masing-masing. Berdasarkan informasi yang dia dengar, bahwa Ahyar didukung atau diinginkan oleh DPP Golkar untuk duduk di kursi Ketua DPD Golkar NTB. Sementara, DPD II Golkar kabupaten/kota di NTB masih menginginkan  Suhaili.

“Ahyar akan menang bila DPP intervensi hingga ke pemilik suara. Sementara, Suhaili akan bertahan di kursi Golkar NTB I bila DPP bersikap demokratis. Dengan menyerahkan sepenuhnya proses pemilihan kepada DPD tingkat II,” cetus dia.

Disinggung peluang terjadinya aklamasi. Kadri mengatakan, aklamasi akan bisa dilakukan apabila disepakati oleh peserta Musda. Terkait hal tersebut, tidak menutup kemungkinan DPP memberikan arahan kepada DPD II. Untuk dilakukan aklamasi. Makanya dia menilai, baik Suhaili maupun Ahyar saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan komunikasi dengan DPP dan juga DPD II.

“Jadi, segala kemungkinan masih bisa terjadi selama proses komunikasi politik masih terus berlangsung,” ungkap dia. (zak)

1 Review

?s=96&d=mm&r=g
anita
1

dupa88

izin share ya admin 🙂 segera bergabung bersama kami, dan raih berbagai macam promonya, langsung saja Dupa88

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

PKB Gantung Tiga Daerah

Read Next

Bawa 4.600 Benih Lobster, Seorang Guru SD Diamankan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *