Oleh: Abdus Syukur**
Sehari sebelum 37 tamu mancanegara menjejakkan kaki di Gili Trawangan, pulau kecil di barat laut Lombok itu seakan sedang menata diri. Laut tetap berwarna biru seperti biasa, angin masih berembus lembut dari arah Selat Lombok, dan matahari masih terbit dari ufuk timur dengan kesetiaannya. Namun bagi kami yang datang lebih awal, ada getaran yang berbeda di pulau ini.
Kami, dua anggota tim Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Mustamar dan Abdus Syukur, tiba bukan sebagai pelancong yang mencari liburan, melainkan sebagai penyambut. Ada dunia yang akan datang esok hari. Tiga puluh tujuh pasang mata dari berbagai negara akan melihat Lombok untuk pertama kalinya. Dan seperti menyambut tamu di rumah sendiri, kami ingin memastikan setiap sudut yang mereka lihat menyimpan kesan yang baik.
Di Gili Trawangan, waktu berjalan dengan cara yang berbeda. Ia tidak berlari seperti di kota-kota besar. Ia mengalir pelan mengikuti langkah sepeda yang melintas, mengikuti derap kaki kuda yang menarik cidomo, dan mengikuti ombak yang tak pernah lelah mencium bibir pantai.
Di sepanjang jalan, sepeda-sepeda berjajar seperti barisan penyambut yang sabar menunggu tamu datang. Tak ada bunyi mesin. Tak ada hiruk-pikuk lalu lintas. Hanya suara rantai sepeda, derik roda di jalanan kecil, dan sesekali sapaan hangat dari warga yang melintas.
Menjelang sore, kami berjalan menyusuri sisi pulau. Laut membentang tenang seperti hamparan kaca raksasa. Di kejauhan, siluet Gunung Agung di Bali berdiri samar di balik cakrawala. Langit perlahan berubah warna. Biru menjadi jingga, jingga berubah keemasan, lalu perlahan larut dalam warna merah muda yang lembut.
Saat itulah Gili Trawangan menunjukkan wajah terbaiknya.
Bukan hanya keindahan alam yang membuat orang jatuh cinta pada pulau ini. Ada sesuatu yang lebih dalam. Ada keramahan yang tak dibuat-buat. Ada senyum para kusir cidomo yang menawarkan tumpangan dengan tulus. Ada sapaan pemilik warung kecil yang mempersilakan singgah. Ada nelayan yang pulang dengan perahu sederhana sambil melambaikan tangan kepada wisatawan yang berdiri di tepi pantai.
Keindahan sesungguhnya sering kali bukan terletak pada apa yang dilihat mata, melainkan pada apa yang dirasakan hati.
Besok, para peserta Famtrip 2026 akan datang dari Bali. Mereka akan melihat Gili Trawangan, menikmati Senggigi, menyusuri Pantai Kuta Mandalika dan menyaksikan kemegahan Samudra Hindia dari Selong Selo. Mereka akan memotret pantai, merekam matahari terbenam, dan mungkin membawa pulang ribuan gambar dalam telepon genggam mereka.
Namun kami berharap mereka membawa pulang sesuatu yang lebih berharga daripada foto.
Kami berharap mereka membawa cerita.
Cerita tentang pulau kecil yang tidak mengenal kendaraan bermotor. Cerita tentang masyarakat yang menyambut tamu seperti keluarga. Cerita tentang laut yang jernih, langit yang lapang, dan senyum yang tulus.
Sebab pada akhirnya, pariwisata bukan sekadar soal destinasi. Ia adalah pertemuan antara manusia dan kenangan. Dan di pulau kecil bernama Gili Trawangan ini, kami sedang bersiap menyambut dunia dengan cara yang paling sederhana: membuka pintu, mengulurkan tangan, dan mempersilakan mereka menjadi bagian dari cerita kami.
Keterangan Foto:
Di sepanjang jalan, sepeda-sepeda berjajar seperti barisan penyambut yang sabar menunggu tamu datang. (Foto: has)
**Anggota BPPD NTB