Oleh: H Abdus Syukur, MH

Setiap kali MotoGP hadir di Sirkuit Mandalika, yang bergemuruh bukan hanya suara mesin motor berkecepatan tinggi. Di balik gegap gempita balapan kelas dunia itu, roda ekonomi daerah ikut berputar lebih cepat. Hotel-hotel mulai dipenuhi tamu, restoran ramai pengunjung, kendaraan sewaan laris, pelaku UMKM menikmati peningkatan penjualan, dan ribuan tenaga kerja sektor pariwisata kembali memperoleh manfaat langsung.

MotoGP Mandalika 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober diperkirakan kembali menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri pariwisata Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan analisis yang disusun Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, sebagai bahan koordinasi lintas sektor, tingkat hunian hotel berbintang selama penyelenggaraan event diproyeksikan mencapai sekitar 80,3 persen. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa NTB semakin dipercaya sebagai tuan rumah event internasional yang mampu menarik wisatawan dalam jumlah besar.

Yang menarik, penyelenggaraan tahun ini memiliki modal yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penjualan tiket dilakukan lebih awal sehingga memberi ruang bagi wisatawan untuk merencanakan perjalanan sejak jauh hari. Pola advance booking ini bukan hanya menguntungkan calon penonton, tetapi juga memberikan kepastian bagi industri perhotelan, maskapai penerbangan, agen perjalanan, hingga pelaku usaha wisata dalam menyiapkan kapasitas pelayanan secara lebih terukur.

Dari perspektif promosi pariwisata, langkah tersebut merupakan strategi yang patut diapresiasi. Industri pariwisata tidak hanya membutuhkan jumlah wisatawan yang besar, tetapi juga membutuhkan kepastian pasar agar seluruh pelaku usaha dapat melakukan perencanaan bisnis dengan lebih baik.

Proyeksi menunjukkan hotel berbintang empat dan lima masih akan menjadi pilihan utama wisatawan. Terutama tamu mancanegara, tim balap, sponsor, serta tamu VIP. Sementara itu, hotel berbintang tiga diperkirakan menikmati peningkatan permintaan dari wisatawan domestik dan rombongan pendukung yang menginginkan akomodasi nyaman dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada satu segmen usaha, tetapi menyebar ke berbagai lapisan industri perhotelan.

Puncak okupansi diperkirakan terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan rangkaian balapan utama. Jumlah tamu menginap diproyeksikan mencapai antara 64 ribu hingga 67 ribu orang dalam satu hari, sementara total tamu hotel selama penyelenggaraan MotoGP diperkirakan mencapai sekitar 131.840 orang. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya pergerakan wisatawan yang masuk ke NTB hanya dalam waktu tiga hari.

Namun sesungguhnya, keberhasilan MotoGP tidak boleh hanya diukur dari ramainya hotel selama akhir pekan balapan. Tantangan terbesar justru bagaimana membuat para wisatawan tinggal lebih lama, menjelajahi lebih banyak destinasi, menikmati budaya lokal, mencicipi kuliner khas, hingga kembali berkunjung pada kesempatan berikutnya.

Di sinilah pentingnya membangun konsep extended stay melalui paket wisata terpadu yang menghubungkan Mandalika dengan berbagai destinasi unggulan NTB, seperti Senggigi, Gili Tramena, Desa Sade, Tetebatu, Geopark Rinjani, hingga kawasan wisata di Pulau Sumbawa. Semakin lama wisatawan berada di NTB, semakin besar pula nilai ekonomi yang dinikmati masyarakat.

Tentu saja, optimisme tersebut tetap harus disertai kewaspadaan. Perlambatan ekonomi global, perubahan jadwal penerbangan, cuaca ekstrem, hingga fluktuasi jumlah wisatawan mancanegara merupakan faktor yang dapat memengaruhi realisasi proyeksi. Karena itu, promosi tidak boleh berhenti ketika tiket mulai terjual. Justru pada fase inilah kolaborasi harus semakin diperkuat.

Pemerintah daerah, Badan Promosi Pariwisata Daerah, PHRI, ASITA, maskapai penerbangan, operator transportasi, penyelenggara event, pelaku UMKM, hingga masyarakat harus bergerak dalam satu irama. Pariwisata tidak dibangun oleh satu institusi, melainkan oleh sebuah ekosistem yang saling menguatkan.

MotoGP telah memberikan panggung dunia kepada NTB. Kini tugas kita adalah memastikan setiap wisatawan yang datang pulang membawa pengalaman terbaik tentang Lombok dan Sumbawa. Sebab promosi paling efektif bukan hanya iklan, melainkan cerita baik yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung.

Jika seluruh pemangku kepentingan mampu menjaga kualitas layanan, memperkuat konektivitas, dan menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan, maka MotoGP Mandalika tidak hanya akan sukses sebagai ajang balap dunia. Tetapi juga menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi pariwisata Nusa Tenggara Barat. Semoga. (*)

Penulis: Anggota BPPD NTB

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *