KLU–Musim kemarau diprediksi lebih lama tahun ini. Hal ini dipicu oleh fenomena El Nino sehingga durasi kemarau menjadi lebih panjang dan kondisi tanah lebih kering.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melalui laporan BMKG yang diterima menyebut kemarau panjang diprediksi lebih lama terjadi, yakni hingga pada Maret 2027 mendatang. Terhadap kondisi kemarau ini sendiri memicu daerah titik kekeringan meningkat.
Kepala BPBD Lombok Utara Zaldi Rahardian saat ditemui diruang kerjanya kemarin menyampaikan Bupati telah menetapkan SK Siaga Kekeringan yang berlaku terhitung sejak 1 Agustus 2026.
“Sekarang kita sudah mulai menerima laporan warga untuk permintaan air bersih. Ada beberapa titik permintaan untuk distribusi air bersih,” tuturnya.
Melihat kondisi yang terjadi, BPBD jelasnya dengan langkah cepat melakukan kordinasi dengan instansi terkait dan NGO yang memiliki mobil tangki seperti Bank NTB Syariah, PMI dan lainnya.
“Nanti titik yang dibantu kita yang tentukan, agar distribusi merata,” ungkapnya.
Saat ini jelasnya terdapat peningkatan wilayah terdampak kekeringan pada tahun 2026 menjadi 52 titik atau dusun. Sementara jika dibandingkan tahun 2025 hanya di bawah 50 titik yang terdampak kemarau.
Berkaitan dengan sistem distribusi, penjadwalan distribusi air bersifat fleksibel dan dinamis. Petugas kata Zaldi akan memprioritaskan penyaluran ke wilayah yang mengajukan permintaan mendesak terlebih dahulu, berdasarkan hasil validasi bersama pihak desa dan camat.
Sementara, untuk wilayah terdampak parah masih berada di wilayah timur seperti di Bayan, dan Kayangan misalnya di Mambulsari, Sukadana, Gunjansari, Sambik Elen. Selengan, Salut dan banyak lainnya.
“Kolaborasi dengan lintas Instansi harus dilakukan mengingat armada kami di BPBD yang terbatas, koordinasi dilakukan bersama instansi teknis lain, seperti Polri, PMI,, serta Bank NTB Syariah,” cetusnya.
Mengingat sistem distribusi tidak dapat dilakukan setiap hari pada titik kekeringan pihaknya berharap adanya Bantuan Tandon Air yang dapat disalurkan sebagai bak penampung warga. Ha ini dulu pernah diprogramkan Bank NTB Syariah yang pernah turut serta berpartisipasi memberikan bantuan tandon sebagai tempat penampungan air sementara di titik penyaluran, diharapkan tahun ini dapat kembali dilakukan.
“Hal ini perlu dilakukan agar proses distribusi air tangki menjadi lebih efektif dan merata tanpa menyisakan sisa air dari tangki,” jelasnya.
Melihat banyaknya titik kekeringan serta lamanya kemarau tahun ini tentu pemerintah harus menyiapkan anggaran yang sesuai, Berkaitan dengan hal itu, penanggulangan kekeringan jumlah anggaran kata Zaldi masih sama dengan tahun 2025.
“Kita tetap fokus memaksimalkan dan mengoptimalkan dana yang ada melalui kolaborasi lintas instansi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, kalaupun nanti tidak cukup maka status siaga bisa dinaikan ke tanggap darurat agar dana BTT dapat kita gunakan untuk penanganan,” pungkasnya.
Sementara itu, sejak awal Agustus PMI Lombok Utara mulai turun mendistribusikan air bersih, dimana dari catatan PMI ada sembilan titik lokasi yang menjadi sasaran suplai air bersih. PMI dikabarkan setiap hari melakukan distribusi dengan volume air tangki sekali angkut sebanyak 6 ribu liter.(dhe)

