MATARAM — Di tengah suasana malam Kota Mataram, puluhan ribu masyarakat dari berbagai penjuru Nusa Tenggara Barat (NTB) berkumpul dalam satu ruang dan satu semangat: menjaga persatuan Indonesia.

Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, dipadati warga dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa pada Rabu (12/08) malam. Mereka hadir mengikuti Doa Kebangsaan Lintas Agama yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB.

Di bawah naungan bendera Merah Putih, para pemuka dan umat dari enam agama—Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu—berdiri berdampingan. Doa dipanjatkan secara bergantian sesuai ajaran dan bahasa masing-masing.

Meski berbeda keyakinan, seluruh doa bermuara pada harapan yang sama: Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, kerukunan, dan persatuan.
Momentum tersebut menjadi gambaran kuat bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan dapat diwujudkan melalui perjumpaan, saling menghormati, dan kebersamaan di ruang publik.

Kegiatan itu dihadiri Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Sarana Keagamaan Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah, Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Wali Kota Mataram, jajaran Forkopimda, serta Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz.
Dari Sepuluh Kabupaten/Kota, Berkumpul dalam Satu Doa

Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz mengaku bersyukur melihat tingginya antusiasme masyarakat. Warga dari sepuluh kabupaten dan kota di NTB hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kehadiran masyarakat lintas agama dalam jumlah besar menjadi bukti bahwa semangat menjaga toleransi dan kerukunan telah tumbuh kuat di tengah masyarakat NTB.

“Semua elemen lintas agama hari ini sangat bersemangat menjaga keutuhan NTB, dan tentu saja menjaga bangsa dan negara kita,” ujar Zamroni.
Ia juga mengapresiasi kehadiran para tokoh nasional yang menyempatkan diri hadir di Mataram untuk memperkuat pesan kerukunan dan persatuan.

Bagi Zamroni, doa kebangsaan tersebut bukan hanya seremoni keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk meneguhkan komitmen menjaga Indonesia dari daerah.
Gus Miftah: Tradisi Kebinekaan yang Layak Ditularkan

Gus Miftah menilai pemandangan puluhan ribu umat berbeda agama berkumpul di ruang terbuka untuk mendoakan Indonesia merupakan momentum kebangsaan yang sangat positif.
Menurutnya, kekuatan bangsa Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan pembangunan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat merawat kerukunan di tengah perbedaan.

“Di lapangan terbuka ini, para tokoh lintas agama dan jemaahnya berkumpul bersatu. Mereka melafalkan doa dengan bahasa masing-masing di tempat yang sama. Ini membuktikan bahwa tanpa memandang perbedaan agama, kita mampu duduk bersama semata-mata karena kecintaan kita kepada Indonesia,” tutur Gus Miftah.

Ia berharap tradisi perjumpaan lintas agama seperti yang berlangsung di Mataram dapat direplikasi di berbagai daerah lainnya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang perjumpaan agar masyarakat tidak hanya mengenal perbedaan, tetapi juga belajar menemukan titik temu sebagai sesama anak bangsa.

Sari Yuliati: Keberagaman NTB adalah Modal Persatuan

Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati turut mengapresiasi kedewasaan masyarakat NTB dalam menjaga kehidupan antarumat beragama.
Politikus asal daerah pemilihan NTB II (Pulau Lombok) itu menilai keberagaman merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi persatuan bangsa.

Meski mayoritas masyarakat NTB memeluk agama Islam, kehidupan masyarakat lintas agama di daerah tersebut dinilai tetap berjalan harmonis dengan semangat saling menghormati.
Sari mencontohkan pengalamannya ketika mengunjungi sebuah sekolah dasar di kawasan Cakranegara, Kota Mataram. Sekolah tersebut mayoritas siswanya beragama Hindu, sementara sebagian lainnya berasal dari agama berbeda.
Menurut Sari, para siswa dapat belajar dengan tenang tanpa mengalami perundungan maupun diskriminasi karena perbedaan keyakinan.

“Masyarakat minoritas di NTB dapat hidup guyub dan berdampingan dalam semangat kebinekaan. Keberagaman yang terawat dengan baik ini membuktikan bahwa persatuan bisa tumbuh subur dari daerah,” kata Sari.

Dari Mataram untuk Indonesia
Doa Kebangsaan Lintas Agama di Lapangan Sangkareang malam itu menjadi pesan yang lebih besar dari sekadar sebuah kegiatan keagamaan.

Puluhan ribu orang datang dengan identitas dan keyakinan yang berbeda, tetapi berdiri di bawah satu bendera dan mendoakan satu negeri.

Dari Mataram, pesan itu menggema: Indonesia boleh berbeda dalam iman, budaya, bahasa dan tradisi, tetapi tetap satu dalam kecintaan kepada Tanah Air. Di tengah tantangan menjaga persatuan di era yang semakin terbuka, NTB menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya sesuatu yang harus dibicarakan, tetapi harus terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.(jho)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *