banner 300x600

Wujudkan Desa Wisata Harus Kompak

  • Bagikan
IMG 20211125 WA0014
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA KETERANGAN: Anggota DPRD NTB, Yek Agil saat melangsungkan sosialisasi Perda di Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Rabu kemarin.


PRAYA – Anggota DPRD NTB, Yek Agil mengatakan, untuk mewujudkan desa wisata di sebuah desa dibutuhkan sikap kekompakan seluruh elemen masyarakat termasuk juga pemerintah desa. Hal ini disampaikan politisi PKS itu dalam sosialisasi Perda Nomor 10 tahun 2021 tentang desa wisata di Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Rabu kemarin.

Katanya, kondisi geografis serta panorama alam Desa Kabul ditambah dengan pemandangan sawah perbukitan dilihatnya sangat pas untuk dibuat menjadi desa wisata. Apalagi, sudah ada benih benih spot wisata yang disebut Puncak di Desa Kabul tersebut menjadi dasar untuk dapat segera diteruskan dan didorong menjadi desa wisata.

banner 300x600

“Kalau sudah ada desa wisata maka menjadi kewajiban pemerintah mengalokasikan anggaran infrastrukurnya,” tegasnya.

Berdasarkan Pasal 4 tentang penetapan Desa Wisata dilakukan melalui tiga tahapan yaitu pencanangan desa wisata, penilaian desa wisata dan penetapan desa wisata. Perencanaan desa wisata dilakukan oleh kelompok masyarakat atau pihak lain melalui Kepala Desa. Lalu dilanjutkan permohanan ke atas yaitu, tingkat kabupaten hingga tingkat provinsi.

“Lampirkan dokumen pendukung seperti data profil wilayah, potensi wisata yang akan dikembangkan, rencana mitigasi bencana dan lain-lain,” sebutnya.

Selanjutnya, penetapan desa wisata memang tidak mudah butuh proses panjang. Tetapi jika semua komponen masyarakat kompak maka, Yek Agil yakin semua usaha itu bisa terwujud.

Dilanjutkan dengan hadirnya Sirkuit Mandalika menjadi kesempatan emas bagi desa-desa dalam mengembangkan desa wisata. Pengelola desa wisata bisa magnet agen travel untuk membawa para wisatawan menikmati spot wisata yang dimiliki.

Pria yang juga Anggota Komisi II DPRD NTB menjelaskan, jenis usaha pariwsita desa wisata berbagai macam. Secara umum selain menjual alam atau panorama, Agil juga menekankan supaya dikolaborasikan juga dengan adat budaya masyarakat setempat.

“Misalnya acara nyongkolan, mendang saat merarik atau bisa juga pada hari harj tertentu masyarakat bisa memaki bebet (tali pinggang pakaian adat) yang bisa dijual di promosikan,” sebutnya.

Hal yang sangat dirasakan manfaatnya yaitu desa wisata bisa menghidupkan para UMKM, menciptakan lapangan kerja yang artinya mengurangi pengangguran di desa serta membuat perputaran ekonomi di desa itu bisa lebih cepat berkembang.

“Tapi yang perlu diingat harus satu pihak siapa saja yang mengelolanya. Jangan banyak banyak,” katanya.

Yek Agil berjanji akan membantu memfasilitasi dan mengkomunikasikan kepada pihak terkait kebutuhan apa saja yang dibutuhkan.
“Insya Allah saya fasilitasi bantu koordinasi dengan dinas terkait,” janjinya.(jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *