Santriwati Asal Aikmual Ngaku Dianiaya Berlima

WhatsApp Image 2020 03 19 at 05.03.01

KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID CERITA: Korban penganiayaan saat memberikan keterangan ke media, Kamis kemarin.

PRAYA – Dunia pendidikan di NTB kembali tercoreng. Gara-gara kasus dugaan penganiayaan terjadi di Pondok Pesantren Al-Kamal Lombok Barat. Namun sayang, para korban baru sekarang mau membuka kasus ini ke permukaan di media massa.

Salah satu korban santriwati inisial S, 16 tahun kelas XI. Dia meceritakan kepada media di kediamannya  di Desa Aikmual, Kecamatan Praya. Dia dan rekannya telah menimpa kekerasan yang diduga dilakukan pihak ponpes.

Awalnya cerita korban, kejadian tersebut berawal dari keterlambatan para korban masuk ke pondok. “Kasus pemukulan ini memang sudah lama terjadi. Tanggal 18/07/2019, saya berlima ada kegiatan Class Metting dan terlambat pulang ke pondok. Padahal saya sudah izin ke pengurus OSIM terkait kegiatan itu, akan tetapi di malam harinya pukul 24.00 WITA, saya bersama empat teman saya dikumpulkan di kamar A asal Lotim, R asal Kopang, V asal Labuapi, dan S asal Lobar,” cerita korban.

Ia melanjutkan, setelah dikumpulkan mereka ditampar pipinya sebanyak empat kali, dan belasan kali dipukul menggunakan tuas sapu aluminium di bagian paha, betis dan telapak kaki dengan posisi kuda-kuda.

“Tidak sampai di situ saja, setelah itu kami harus melakukan pembersihan di kamar mandi sekolah dan membersihkan halaman sekolah sekitar pukul 02.00 WITA dini hari,” katanya poloso.

Sampai kejadian berlalu satu minggu, baru pihak keluarga korban mengetahui dan meminta pertanggung jawaban pihak sekolah. Akan tetapi tidak ada respons. Perwakilan korban melalui Abdullah dengan posisi emosi dan geram langsung mendatangi pihak Ponpes Al-Kamal dan tidak mendapatkan jawaban yang pasti juga. Sehingga upaya hukum pun ditempuh .

“Pertama kami laporkan ke Polsek Narmada, akan tetapi karena tidak adanya penyidik perempuan, saya diarahkan ke Polres Mataram,” sambung cerita keluarga santriwati ini.

Usai melaporkan, korban pun divisum bekas pemukulan dan hasilnya membuat geleng kepala. “Kalau tidak cepat ditangani medis luka ini maka bisa mengakibatkan kelumpuhan,” katanya sembari terkejut.

“Proses hukum sedang berjalan dan sudah sekitar tiga kali persidangan dengan terdakwa IF, dia selaku anak bendahara yayasan. Kalau dari kami secara kekeluargaan sudah memaafkan akan tetapi biarlah proses hukum tetap berjalan,” tutupnya.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Ponpes Al-Kamal Lombok Barat belum bisa dimintai klarifikasi media.(tim)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Warga Temukan Mayat Bayi Dibungkus Kardus

Read Next

Dewan Loteng Imbau Warga Tetap Waspada Virus Korona

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *