Salip Provinsi Lain di Indonesia, NTB Terbanyak Kematian

F Swab

RAZAK/RADAR MANDALIKA SWAB: Seorang petugas saat melakukan swab kepada seorang pelajar di Kota Mataram.

MATARAM – Berita kurang baik untuk warga Provinsi NTB. Kasus kematian dari kasus covid-19, NTB rengking pertama (meledak) tingkat nasional. NTB berhasil menyalip provinsi lainnya di Indonesia. Data tertanggal 14 Februari 2021, kasus Covid-19 di NTB mencapai 8.694 sementara yang meninggal dunia diangka 369 orang.

Dari 10 kabupaten kota di NTB, jumlah kasus tertinggi di kota Mataram mencapai 114 kasus kematian, disusul Sumbawa 65 dan Lobar sebanyak 57 kasus.

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 NTB, I Gde Putu Ariyadi mengatakan, hari ini (kemarin, Red) adanya tambahan 82 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19. 108 dan 3  kasus kematian baru.

Untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan Covid-19, petugas kesehatan tetap melakukan Contact Tracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi poristif. Diharapkan juga kepada petugas kesehatan di kabupaten/kota untuk melakukan identifikasi epicentrum penularan setempat Covid-19 untuk dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19.

Ariyadi mengatakan menghadapi pandemi, membutuhkan kesadaran dan partisipasi semua pihak untuk disiplin dan ikut berperan dalam melakukan pencegahan. Dalam hal ini bukan hanya satgas saja yang harus bekerja tetapi juga seluruh warga termasuk wartawan.

“Semua penting berperan, terpenting adalah keterlibatan semua pihak untuk bahu membahu melakukan pencegahan. Jika sebagian disiplin dan dibagian lain tidak disiplin, penularan akan tetap terjadi,” ungkapnya.

Sekarang ini, satgas di semua tingkatan, all out melakukan tracing dan testing, menjangkau lebih banyak warga masyarakat. Sehingga kasus sedini mungkin dapat di deteksi, sehingga lebih cepat mendapat treatmen yang tepat.

Menurut Ariayadi, peningkatan cakupan tracing dan testing, akan berpengaruh pada penurunan prosentase kematian atau vatalitas. Pemprov NTB akan kembali mulai menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro mulai pekan depan. PPKM Mikro akan diterapkan pada desa/kelurahan yang masuk ketagori risiko tinggi atau zona merah penularan Covid-19.

“Pembatasan kegiatan masyarakat sudah mulai diterapkan oleh pemerintah daerah, melalui operasi yustisi dan lain lain.

PPKM Mikro akan mulai diterapkan minggu besok ini, diutamakan pada kelurahan arau desa zona merah,” ungkap Kadiskominfotik NTB itu.

Seperti yang disampaikan asisten III Setda NTB, dr Nurhandini Eka Dewi, lanjut Gde, jika tujuh provinsi yang ada di Pulau Jawa dan Bali menerapkan PPKM Mikro secara keseluruhan di semua zona. Namun, di NTB, PPKM Mikro hanya diterapkan di desa dan kelurahan yang masuk zona merah Covid-19.

Jika selama ini, data mengenai pasien positif Covid-19 berbasis laboratorium. Dengan penerapan PPKM Mikro ini, maka Satgas Covid-19 kabupaten/kota diminta lebih aktif lagi mencocokkannya dengan data Satgas Provinsi. Dalam Instruksi Gubernur tentang Penarapan PPKM Mikro di NTB tak disebutkan batas waktunya. Karena data tentang perubahan zonasi terus bergerak.

‘’Artinya, sekarang zona merah, besok bisa jadi oranye. Bisa jadi kuning. Tetapi yang kuning sekarang bisa jadi merah. Makanya di Instruksi Gubernur, kita tidak menentukan waktu. Tetapi setiap dua minggu kita evaluasi. Diharapkan minggu depan sudah berlaku PPKM Mikro,’’ ujarnya.

Dijelaskannnya juga jika desa/kelurahan masuk zona merah Covid-19. Maka, pembatasan kegiatan masyarakat hanya dilakukan di tingkat RT/RW yang zona merah. Sehingga, jika ada kasus positif, maka bukan satu desa yang ditutup, tetapi hanya RT/RW yang ada kasus positifnya.

Data Satgas Covid-19 jumlah Kasus Suspek sebanyak 15.855 orang dengan perincian 499 orang (3,1%) masih dalam isolasi, 79 orang (0,5%) masih berstatus probable, 15.277 orang (96,4%) sudah discarded. Jumlah Kontak Erat yaitu orang yang kontak erat dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 56.842 orang, terdiri dari 3.532 orang (6,2%) masih dalam karantina dan 53.310 orang (93,8%) selesai karantina. Sedangkan Pelaku Perjalanan yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 sebanyak 110.139 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 502 orang (0,5%), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 109.637 orang (99,5%).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr L Hamzi Fikri mengatakan untuk meminimalisir Covid-19 dengan 3T di perkuat, 3M/5M tetap di jalankan secara konsisten dan penuh disiplin yang palong penting bagaimana mempercepat vaksinasi target  70 persen untuk herd immunity.

Terkait perkembangan vaksinasi hingga saat ini untuk Nakes sendiri 27.638. Sementara itu secara umum vaksinasi pertama 19.387 atau dengan persentase cakupan vaksinasi pertama diangka 70,1 persen. “Sementara itu cakupan vaksinasi kedua baru diangka 4.562  atau 16.5 persen,” katanya.

Disamping itu, Bupati Lombok Tengah melalui Kabag Humas dan Protokoler Setda Lombok Tengah, HL Herdan mengatakan, saat ini Lombok Tengah sudah masuk zona oranye.

“Kasus covid-19 di Lombok Tengah terus bertambah,” katanya kepada media, Kamis pekan lalu.

Untuk itu, Herdan mengimbau warga Lombok Tengah tetap menggunkan masker, cuci tangan di air mengalir dan jaga jarak.”Ini langkah menghindari penularan korona,” serunya.(jho/tim/jay)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Rapid Test Antigen Lagi di Senggigi

Read Next

Recofusing 28 Miliar untuk Vaksinasi di Lobar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *