GILI TRAWANGAN – Keindahan Gili Trawangan kembali memikat wisatawan mancanegara. Para peserta Famtrip yang datang dari Bali dan mewakili berbagai negara di Asia serta Eropa mengaku terkesan dengan pesona alam, keramahan masyarakat, dan konsep wisata ramah lingkungan yang ditawarkan destinasi unggulan di Kabupaten Lombok Utara tersebut.

Rangkaian kunjungan dimulai dengan makan siang bersama di Restoran Samba, Gili Trawangan. Sambil menikmati hidangan khas yang disajikan, para tamu berkesempatan merasakan langsung suasana pulau yang terkenal dengan pantai berpasir putih dan air laut yang jernih.

Usai makan siang, peserta Famtrip menikmati berbagai aktivitas wisata. Sebagian memilih berkeliling pulau menggunakan cidomo dan sepeda, moda transportasi khas Gili Trawangan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Beberapa peserta lainnya memanfaatkan waktu untuk snorkeling dan menikmati keindahan bawah laut yang menjadi salah satu ikon wisata Gili.

Kesan positif pun disampaikan para peserta. Mereka mengaku kagum dengan keunikan Gili Trawangan yang berbeda dengan banyak destinasi wisata lainnya.

“Saya baru pertama kali ke Gili Trawangan. Tempat ini sangat indah dan unik,” ujar salah seorang peserta Famtrip.

Menjelang sore, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan fast boat menuju Teluk Nara. Dari sana, mereka melakukan inspeksi dan kunjungan ke Royal Avila Boutique Resort untuk menikmati panorama matahari terbenam yang memukau di pesisir barat Pulau Lombok.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara, Denda Dewi Tresni Budiastuti, SE., MM., menjelaskan berbagai keunggulan destinasi wisata di wilayahnya. Menurutnya, salah satu daya tarik utama Gili Trawangan adalah konsep wisata yang ramah lingkungan.

“Di Gili Trawangan tidak ada kendaraan bermotor. Transportasi yang digunakan adalah sepeda dan cidomo, sehingga suasananya lebih nyaman, tenang, dan minim polusi,” jelasnya.

Menurut Denda Dewi, konsep wisata berkelanjutan yang diterapkan di kawasan tiga gili—Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air—menjadi salah satu alasan mengapa destinasi ini terus diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sementara itu, Ketua BPPD NTB, Sahlan M Saleh, turut memperkenalkan berbagai destinasi unggulan yang dimiliki Nusa Tenggara Barat, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. Ia menjelaskan bahwa NTB menawarkan pengalaman wisata yang lengkap, mulai dari wisata bahari, budaya, geowisata, hingga wisata petualangan kelas dunia. Salah satu destinasi yang paling menarik perhatian peserta Famtrip.

Sam Samba (tiga dari kiri) foto bersama peserta Famtrip 2026.

Wisata Hiu Paus (Whale Shark) di Teluk Saleh, di Pulau Sumbawa yang terkenal dengan wisata hiu paus. Keberadaan hiu paus yang hidup bebas di habitat alaminya menjadi pengalaman langka yang banyak dicari wisatawan internasional.

“Selain Gili yang sudah mendunia, NTB juga memiliki Teluk Saleh dengan wisata hiu paus yang menjadi salah satu daya tarik unggulan Pulau Sumbawa. Ini merupakan pengalaman wisata yang unik dan tidak banyak dimiliki destinasi lain di dunia,” ujarnya.

Penjelasan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Banyak di antara mereka yang mengaku tertarik untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa guna melihat langsung hiu paus di Teluk Saleh, sekaligus menjelajahi berbagai destinasi unggulan lainnya seperti Pulau Moyo, Gunung Tambora, dan Pantai Lakey yang terkenal di kalangan peselancar dunia.

Kegiatan Famtrip ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan destinasi-destinasi unggulan NTB kepada pelaku industri pariwisata internasional, media, serta mitra promosi wisata. Melalui pengalaman langsung di lapangan, para peserta diharapkan dapat menjadi duta promosi yang membantu memperluas jangkauan pemasaran pariwisata NTB ke berbagai negara.

Keindahan alam yang masih terjaga, budaya yang autentik, keramahan masyarakat, serta komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan menjadikan Lombok dan Sumbawa sebagai destinasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta Famtrip 2026. Bagi banyak peserta, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan pengalaman yang membuka mata tentang kekayaan dan keunikan pariwisata Nusa Tenggara Barat.

Pemilik Restoran Samba, Sam Samba, turut berbagi cerita mengenai perjalanan panjang perkembangan tiga gili, khususnya Gili Trawangan, yang kini menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di Indonesia.

Di hadapan para peserta Famtrip dan awak media, Sam menjelaskan bahwa Gili Trawangan yang dikenal dunia saat ini memiliki sejarah yang panjang dan penuh dinamika. Jauh sebelum menjadi tujuan wisata internasional, pulau tersebut merupakan kawasan yang sunyi dan minim fasilitas.

Menurutnya, pada masa lampau Gili Trawangan dikenal sebagai lokasi pengasingan bagi narapidana. Bahkan hingga dekade 1970-an, pulau ini masih sangat sepi dan hanya sesekali disinggahi nelayan, terutama dari suku Bugis. Infrastruktur hampir tidak ada, listrik belum tersedia, dan kehidupan masyarakat berjalan sangat sederhana.

Perubahan mulai terjadi pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an ketika para backpacker mancanegara mulai menemukan pesona alam Gili Trawangan. Pantai yang masih alami, laut yang jernih, serta suasana tenang menjadikan pulau ini cepat dikenal di kalangan wisatawan petualang. Saat itu, fasilitas wisata masih sangat terbatas, hanya terdapat beberapa pondok kayu sederhana sebagai tempat menginap.

“Dulu Gili Trawangan sangat sunyi. Belum ada listrik seperti sekarang, fasilitas masih terbatas, dan jumlah wisatawan juga sangat sedikit. Namun keindahan alamnya sudah menjadi daya tarik utama,” ungkap Sam.

Seiring berjalannya waktu, Gili Trawangan berkembang pesat menjadi destinasi wisata kelas dunia. Berbagai fasilitas pariwisata modern hadir, mulai dari hotel dan resor berbintang, restoran internasional, pusat aktivitas wisata bahari, hingga berbagai sarana pendukung lainnya. Meski demikian, pulau ini tetap mempertahankan identitas dan keunikannya sebagai kawasan bebas kendaraan bermotor.

Hingga saat ini, seluruh aktivitas transportasi di Gili Trawangan mengandalkan sepeda dan cidomo, kereta kuda tradisional yang telah menjadi ikon tersendiri. Kebijakan tersebut menjadikan suasana pulau tetap nyaman, tenang, dan relatif bebas polusi dibandingkan destinasi wisata lainnya.

Selain dikenal dengan panorama pantainya yang eksotis, Gili Trawangan juga menjadi surga bagi pecinta snorkeling dan penyelaman. Keindahan terumbu karang, keberadaan penyu laut, serta kekayaan biota bawah laut terus menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai negara.

Kisah transformasi Gili Trawangan dari pulau terpencil menjadi destinasi wisata global tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta Famtrip. Keberhasilan Gili Trawangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan pelestarian lingkungan merupakan contoh menarik tentang bagaimana sebuah destinasi dapat berkembang tanpa kehilangan karakter dan keunikannya. (red)

Keterangan Foto:

Peserta Famtrip dengan fast boat menuju Pelabuan Teluk Nara Lombok Utara. (ist)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *