RadarMandalika – Sebuah pondok pesantren di Rumah Qur’an At-Tazkiyyah Sembalun Bumbung yang juga menjadi pusat pemberdayaan komunitas, guna memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur, menghadapi permasalahan pencemaran sungai akibat pembuangan kotoran ternak dan sampah (limbah organik), yang di sisi lain memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk, biogas sebagai energi alternatif yang ekonomis, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Kepedulian untuk membangun yang didapat dari Ilmu di Perguruan Tinggi khususnya Universitas Mataram menggugah para pengabdi dari Jurusan Teknik Elektro telah melakukan pengabdian yang diikuti kalaborasi antaran dosen dan mahasiswa, Adapun dari dosen digawangi oleh Made Sutha Yadnya, Rosmaliati, Bulkis Kanata, Teti Zubaidah , Cipta Ramdhani serta mahasiswa Dewi Rahmawati, Putri Zahira, Fazharul Hadid , dan Abdur Rohima.
Metode yang digunakan meliputi pelatihan dan pendampingan kepada santri dan masyarakat tentang pengelolaan dari sampah (limbah organik), mulai dari fermentasi, pemanfaatan gas hasil fermentasi untuk memasak dan listrik, hingga pemanfaatan sisa limbah sebagai pupuk organik, serta Program pengabdian kepada masyarakat bertujuan merancang dan mengimplementasikan sistem pengolahan pupuk organik dan filter biogas berbasis pengolahan limbah bio-slurry serta limbah baglog di Rumah Qur’an At-Tazkiyyah Sembalun. Program secara holistik antara masyrakat dengan instansi perguruan tinggi Universitas Mataram.
Program pengabdian kepada masyarakat di Desa Sembalun Bumbung berhasil mengimplementasikan model pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna melalui integrasi sistem biogas, pengelolaan limbah organik, dan pemanfaatan limbah baglog jamur dalam kerangka ekonomi sirkular. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami peningkatan signifikan dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran terhadap pengelolaan limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal. Implementasi teknologi biogas tidak hanya mampu menyediakan sumber energi alternatif untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menghasilkan bio-slurry yang berpotensi sebagai pupuk organik untuk mendukung sistem pertanian lokal.

Selain itu, diversifikasi pemanfaatan limbah baglog jamur menjadi produk bernilai ekonomi seperti kompos dan biobriket memperkuat indikasi terjadinya transformasi pola pikir masyarakat menuju pengelolaan sumber daya berbasis nilai tambah. Program ini juga menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif melalui pelatihan, pendampingan, dan praktik langsung efektif dalam mempercepat adopsi teknologi di tingkat masyarakat desa. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi tidak hanya pada peningkatan kapasitas masyarakat, tetapi juga pada penguatan model desa berkelanjutan berbasis energi terbarukan dan ekonomi sirkular. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) yang utama adalah SDGs ke 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan nilai ekonomi tambahan dari limbah peternakan.
