DOK PRIBADI FOR RADARMANDALIKA.ID Bambang Mei Finarwanto

MATARAM  – Dengan semakin meningkatnya kesadaran politik rakyat dibarengi mudahnya memperoleh informasi alternatif untuk validasi isu , kampanye hitam menjadi tidak efektif lagi sebagai sarana untuk memframing citra lawan politik di era Kemajuan Tehnologi 4.0.

 

Politik asimetris Black Campaign yang di push memanfaatkan beragam  platform media dan Medsos bisa menjadi blunder dalam persepsi publik,  manakala isu yg di graber secara simultan tidak disertai data dan fakta tidak benar dan hoax.

“Memblow up Isu lewat skema  Black Campaign yang hanya berdasarkan asumsi semata  justru bisa menjadi sarana infotainment  gratis   menaikkan citra lawan politik di persepsi publik,” kata Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto, Minggu kemarin.

 

Didu mengatakan, dalam situasi keterbukaan informasi dan demokratisasi seperti saat ini, gerakan Kampanye Hitam hanya menjadi sarana sales promotion gratis  makin membesarkan citra baik lawan politik. Hal ini bisa terjadi jika desaign kampanye politik hitam itu tendensius.

 

“Kesalahan fatal memakai strategi politik hitam,  ketika menstigma publik mudah ‘hanyut’ dan terpesona  oleh berbagai kecanggihan  platform media yg dipakai  mendelegitimasi citra lawan politik, padahal makin kesini publik makin cerdas dalam memilih dan memilah berbagai informasi lewat satu klik yakni Mbah Google sebagai sarana validasi informasi terkini,” kata Didu.

 

Didu melanjutkan bahwa gerakan kampanye politik beberapa dekade sebelumnya, mungkin bisa jadi efektif kala dilakukan secara manual, disaat publik tidak memiliki informasi penyeimbang karena tehnologi digital belum berkembang pesat.

Mantan Direktur Walhi NTB menggari bawahi yang perlu disadari saat ini ada disparitas antara generasi milenial, generasi Z  dan Alpha  yang memiliki  cara berpikir  dan dimensi yang berbeda berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya dalam  mengendors maupun menyikapi momentum tertentu.

 

Sebagai Ilustrasi , saat ini dikalangan anak muda  lagi trend istilah FwB ( Friend with Benefit ) yang mencerminkan relasi simbiosis mutualisme yakni pertemanan yang saling memberikan manfaat.  Sementara dalam politik , pertemanan cenderung bersifat interest dan ideologis yang tidak sepragmatis seperti FwB.

 

“Perlu disadari pula keberterimaan dan bisa cair digenerasi era saat ini tentu butuh penyesuaian dan persiapan sosial yang tidak mudah,” pungkasnya.(red)

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 201

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *