Oleh: Mujaddid Muhas, M.A.*
Saat menyempatkan diri berbincang-bincang mengenai Kopi Arabika dan Robusta. Teringat di sebuah perbukitan ada panorama ladang para petani yang bercocok tanam kopi. Hamparan sabana yang begitu luas dengan pepohonan rimbun berjejer pada ketinggian lereng yang berundak-undak. Sahabat seniorita Kanda Fairuzzabadi (Abu Macel), memulai dengan wacana kopi di Lombok paling enak dan rasa (taste) tak kalah dengan kopi di kawasan dunia sekalipun. Bahkan dirinya menyebut kopi di Lombok rasa “Bhinneka Tunggal Ika”.
Apa pelak? Rupanya, dilihat dari cara menanam yang membiarkan pohon-pohon lainnya tumbuh di sekitar pohon kopi. Ada Pohon Nangka, Pohon Pisang, Pohon Jambu, Pohon Durian, bahkan pepohonan penghasil kayu yang menjulang tinggi. Itu sebabnya, beberapa tempat kopi di Lombok hadir dengan cita rasa yang khas. Entah Arabika, entah Robusta. Kopi Robustanya enak, Arabikanya pun asyik. Kopi dengan kontur tanah Lombok. Akar pohon di dalam tanah berpadu padan dengan akar pohon kopi. Sergahnya lagi, Abu Macel mengatakan akar kopi itu telah mengerti arti persahabatan akar pohon. Pada prosesnya di dalam tanah yang tidak tampak bisa membentuk cita rasa bauran dari keistimewaan yang dimiliki para akar. Sungguh kopi bauran yang istimewa.
Dilanjutkannya, kendati kopi lain seperti Kopi Tambora di Pulau Sumbawa juga spektakuler. Kopi yang mengalami metamorfosa akibat letusan gunung yang lebih besar dari Krakatau. Tentulah kopi itu, kopi spektakuler. Kopi yang tumbuh dari bongkahan lempeng bumi yang membuncah kontur tanah, menimbulkan suara menggelegar. Kira-kira demikian metaforanya bertutur.
Singkatnya, sore itu obrolan kopi bersama teman lainnya, berteman kopi yang diraciknya sendiri menjadi suatu perbincangan empirik. Bicara kopi dengan kopi yang disebutnya rasa Bhinneka Tunggal Ika itu tersaji langsung. Kalau kopi saja memberikan kita teladan, bagaimana bisa berbeda, masa kita manusia tak bisa? Lanjutnya berhujjah. Dari kopi saja kita mendapat banyak ibroh. Hidup bukanlah setegang yang kita bayangkan, ketika ada kopi.
Menurut ahli kopi, kontur ketinggian tertentu, berpengaruh pada tanaman kopi. Bibit pun dipilih dan ditakar yang memiliki bobot mutu benih tangguh. Masa tanam dan rawat yang terjaga, hingga panen dan pendedahan biji kopi menjadi bubuk kopi yang nikmat untuk dicecap.
Penyimpanannya begitu rapat dan punya kaifiat, bisa disimpan dalam bentuk bubuk (durasi singkat) atau penyimpanan biji kopi pilihan yang berdurasi lebih lama. Secara ilmiah, kopi memang membuat suasana rileks, lantaran memiliki zat kafein dan beberapa zat lainnya yang secara siklus pencernaan tubuh dalam takaran ideal dapat memberikan stimulan rileks. Secara psikososial pun demikian. Kuliner minuman kopi, telah menjadi gaya hidup, setelah sebelumnya ada temuan minuman teh yang memberi opsi dari kategorial ragam minuman sedunia.
Melalui kopi, persuaan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Amerika Serikat Richard Nixon tak lepas pula dengan pertautan kopi. Bung Karno mengajak Wapres Nixon disela lawatannya ke Indonesia, singgah ke warung kopi (1953), menikmati Kopi Cianjur Jawa Barat. Kedua tokoh ngobrol asyik. Kopi dan suasana warung kopi, penitik temu dari kerumitan menjadi suatu kelegaan. Dalam pada itu, kerap kali pada kunjungan kerjanya, Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menyempatkan singgah ngopi. Semisal satu diantaranya, pada saat suasana menengok korban kebencanaan Banjir Rob Pantai di Ampenan. Setelah melihat langsung Banjir Rob nyaris menjelang dini hari, kemudian mengunjungi puluhan pengungsi yang terdampak serta memberikan bantuan serta penyampaian skema penanggulangan sistematis. Bersama aparatur kebencanaan, jajaran dan masyarakat setempat. Gubernur NTB memutuskan spontan: ngopi bareng.
Persis pada pojok kios penduduk setempat, pertigaan jalan, Gubernur NTB ngobrol ringan dan santai sembari melepas penat, lantaran saat itu baru saja pulang dari Pulau Sumbawa, belum sempat ke Pendopo.
Langsung mengunjungi masyarakat terdampak Banjir Rob Pantai di Ampenan. Ngopi bareng pun terbilang lama, kekira 1,5 jam. Lama untuk ukuran kepadatan jadwal seorang gubernur. Tampaknya, kopi dan obrolan bersama masyarakat memberikan stimulan waktu tak terasa, sesekali gelak tawa menyela obrolan. Waktu telah pun beranjak dini hari dan berganti hari.
Kini, kopi telah menjadi gaya hidup, siklus keseharian. Tiada hari tanpa kopi, bahkan tiada jalan tanpa pedagang kopi. Menikmati kopi sebegitu mudahnya. Pun termasuk ketika kita ingin merasakan kopi perasan mesin saripati kopi yang dirikues dengan takaran tertentu. Seketika dipesan, order pun datang, untuk bisa diseruput cecap. Fenomena kedai kopi, kopi keliling di jalanan, kopi teras minimarket, kopi warung pemukiman, kopi restoran, kopi di atas perahu hingga kopi di lereng bukit pegunungan. Semua mencecap kopi: nikmat, rest dan rileks.
Sastrawan Joko Pinurbo dalam petikan larik puisinya bertajuk Surat Kopi (2013) menyatakan: “Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi” (Sumber: hai-online.com). Baginya sedikit banyak rezeki, kurang lebihnya tak luput untuk dirayakan dengan secangkir kopi. Berbagi dengan sahabat dan handai taulan. Dari kopi muncul gagasan, dari obrolan ala warung kopi tebersit gurauan bahkan banyolan menambah hangat persaudaraan. Kopi pun telah menjadi penghantar acara-acara jamuan dan diplomatik. Kopi bukan seperti fenomena Lato-lato yang begitu tren, kemudian menghening kembali. Fisikawan Muda dari Yogyakarta Ahmad Ataka, pada laman media sosialnya menyebut Fenomena Lato-lato sebagai Simple Newton’s Cradle.
Menurutnya, Fisika dibalik Lato-lato: gaya tarik ke atas diperlukan agar bisa membuat kedua bola tetap bergerak dan menghasilkan suara. Sedangkan Kopi, dicecap dari berbagai cara pun tetap terasa enak. Dari meminum kopi dengan tatakan, menuangkannya melalui sendok, ada tools kopi menitik sebagai saripati kopi yang dipres, kopi yang dicampur arang. Ada lagi, kopi yang menggunakan panas uap, lapak kopi jalanan dari merk terkenal dan sebagainya. Berbagai kualifikasi taste kopi senusantara dengan kekhasan masing-masing.
Pada tanggal 27 September 1946, Presiden Sukarno berpidato di Kongres Boeroeh Kehoetanan di Malang dan berujar: “Kita berjuang menumpahkan darah untuk hidup. Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber, tidak ada air.” (Sumber: historia.id). Coba kita kembangkan imajiner sekenanya: tak ada air, tak ada kopi, tak ada kopi tak ngopi, apalah artinya semua ini.
Mungkin hambar, mungkin terasa membosankan, untuk ukuran kekinian.
Tulisan ini pun ada, dengan tetap segan dan hormat bagi yang memilih tidak ngopi, dan mulai terhenti ngopi. Adapun dalam katup pemikiran penulis opini/artikel ini, setidaknya memuat tiga hal pada tatanan ekuilibrium sosial yaitu pertama, kopi mempersembahkan tatanan ekuilibrium sosial yang egaliter dan demokratis. Kopi dengan segala rasa, orang bebas memilih mana kopi yang diinginkannya dan diracik dengan tatanan baku yang telah diuji tingkat keenakannya. Dari sini, ada kebebasan memilih cecapan rasa telah dimulai sejak mulai meminumnya sesuai selera.
Kedua, kopi menambatkan suasana hati yang rumit bisa menjadi rileks. Bukan hanya karena unsur partikel kopi, tetapi gaya hidup ngopi telah seperti menjadi konsensus komunal bahwa kopi memadupadankan segala beda menjadi sintesa. Serumit-rumitnya keadaan, ketika ada aroma kopi telah menyetimulan orang untuk rileks. Kopi digunakan pula untuk penyegar dan penetral ruangan.
Ketiga, dan ini saya kira yang merealita. Kopi menunjukkan nyaris tanpa stratifikasi sosial yang mencolok dan saling menegasi. Kopi sebagai wahana ekuilibrium sosial. Kopi egaliter pada siapa saja, dalam keadaan apa saja, dan bagaimana kopi dicecap dengan opsi rasa yang begitu rupa. Terpenting tentu saja, diperoleh dengan nominal yang legal, berkah dan penuh keluhuran. Jadi, di tengah perayaan bola Piala Dunia 2026, tentu tak luput merayakannya dengan secangkir kopi. Telah pulakah ekuilibrium sosial membahana sebagai perayaan hangat di tengah kian serunya tayangan bola? Selamat mencecap saripati kopi, sembari menyaksikan tayang tanding laga bola piala dunia. ●
——–
* Kolumnis
