Mengenal Mahasiswa Program Studi Seni Rupa UNDIKMA Mataram

F Bok 1 scaled

RAZAK/RADAR MANDALIKA DALAM PROSES: Seorang mahasiswa UNDIKMA Mataram tengah membuat seni patung berupa “Kepala” Jenderal Sudirman dari tanah liat, belum lama ini.

Bahan Tanah Liat, Berhasil Buat Patung Jenderal Sudirman

Arbi Al-Ma’ida tengah menyelesaikan pembuiatan seni patung bagian “Kepala” Jenderal Sudirman. Dalam proses pengerjaannya membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Bagian pengerjaan yang dirasakan sulit yaitu saat membuat detail mata dan hidung.

RAZAK-MATARAM

KAMIS (5/11), wartawan media ini menyempatkan diri berkunjung ke Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA) Mataram (dulu IKIP). Utamanya ke salah satu ruangan, tempat mahasiswa belajar membuat seni patung dari tanah liat. Yang merupakan bagian dari salah satu karya seni rupa.

Di ruangan itu, seorang mahasiswa semester 3, Program Studi Seni Rupa, Fakultas Budaya, Manajemen dan Bisnis (FBMB), sedang sibuk membuat seni patung. Namanya Arbi Al-Ma’ida (21). Pria asal Gerung Kabupaten Lombok Barat (Lobar) itu tengah menyelesaikan seni patung berupa bagian “Kepala” salah satu Pahlawan Nasional, Jenderal Sudirman.

Bak disaksikan beberapa patung yang sudah jadi dan dipajang di dalam ruangan. Arbi begitu sangat teliti, lemah lembut, dan berhati-hati membuat patung bagian “Kepala” Jenderal Sudirman itu. Dengan harapan agar hasil karya seni rupanya itu bisa memuaskan. Bila perlu hasilnya persis dengan aslinya.

Arbi harus jeli melihat contoh foto/gambar Jenderal Sudirman yang dipajang di dinding. Persis di depan tempat dia membuat patung. Membuat patung bagian “Kepala” termasuk dinamakan patung dua dalam karya seni rupa. Jadi, perlu kehati-hatian dan konsentrasi penuh.

Patung Jenderal Sudirman yang dalam proses pembuatan itu ditaruhnya di atas wadah khusus. Yang dinamakan Meja Putar. Dengan penuh perasaan, Arbi terus berusaha mengerjakan atau menyelesaikan patung dua itu. Dengan alat yang dinamakan Butsir. Terbuat dari kayu dan kawat.

Di sela-sela kesibukannya, Arbi mengungkapkan, hampir sudah tiga minggu dia menyelesaikan pembuatan seni patung berupa “Kepala” Jenderal Sudirman itu. Itu pun tidak rutin. Sebenarnya kata dia, pengerjaannya bisa selesai dalam waktu tiga hari sampai dua minggu. Karena di tengah masa pandemi Covid-19, terpaksa pengerjaannya sedikit molor.

“Dua minggu sebenarnya bisa jadi. Karena saya jarang ke kampus dan juga pandemi, sehingga ini belum jadi,” ujar dia.

Menurutnya, pembuatan seni patung dua dalam hal ini “Kepala” Jenderal Sudirman membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Karena pembuatannya tidak gampang. Bagian pengerjaan yang paling diarasakan sulit terutama dalam proses membentuk detail mata, hidung, dan lainnya.

“Kesulitan saat ngebentuk mata, hidung. Jadi, kita harus betul-betul ngebentuknya. Apalagi tanahnya (bahan dasar ) keras, maka semakin sulit membuat detailnya. Makanya kalau saat ditinggal, tanah liat diberikan air,” cetus Arbi.

Di tempat yang sama, Ketua Program Studi Seni Rupa, Vio Aprilliana M, mengutarakan, patung kepala merupakan seni patung dua. Sementara, seni patung pertama misalnya bentuk tangan, dan kaki. Bahan dasar pembuatan seni patung cukup beragam.

“Bahan dasar bisa dari tanah liat, lilin, dan kayu,” sebut perempuan di sela-sela menemani sekaligus memberikan bimbingan kepada Arbi yang saat itu membuat seni patung “Kepala” Jenderal Sudirman.

Dia menyebutkan, pembuatan seni patung bisa tuntas dikerjakan selam tiga hari. Jikalau mahasiswa yang bersangkutan tekun atau rajin mengerjakan. Tapi karena dalam situasi pandemi, maka tidak bisa dipaksakan jadi secepatnya.

Saat setelah seni patung sudah jadi 100 persen. Aprilliana mengatakan, selanjutnya bisa diperbanyak. Tinggal menyiapkan cetakan saja. Cetakan yang dimaksud bisa terbuat dari Gypsum dan Silikon. “Seni patung itu tingkatannya sampai patung tiga. Sudah masuk dalam figurasi dan sudah mulai ke konsep,” tutur dia.

Sejauh ini, sudah banyak karya seni patung yang dihasilkan para mahasiswa Program Studi Seni Rupa, Fakultas Budaya, Manajemen dan Bisnis, UNDIKMA Mataram. Karya seni yang dihasilkan saat ini hanya untuk kolesi saja.

Selain itu, Aprilliana juga mengajak wartawan media ini ke salah satu ruangan. Tempat mahasiswa membuat karya seni lukis. Banyak sekali karya seni lukis yang amat luar biasa yang ditaruh dan dipajang di dinding ruangan. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Terjunkan Kekuatan Penuh ke Batu Rotok

Read Next

KPU NTB Bakal Evaluasi KPU Loteng

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *