Mataram Barat Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Takakura

Pupuk 1 scaled

RAZAK/RADAR MANDALIKA CEK: Lurah Mataram Barat, Sri Sulistiowati (jilbab) turun memantau proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos Takakura oleh petugas di tempat Rumpil, Lingkungan Karang Medain, belum lama ini.

Pupuk Kompos Akan Dipasarkan

MATARAM – Lurah Mataram Barat, Sri Sulistiowati, tidak kehabisan akal untuk mengurangi volume sampah di wilayahnya. Pemerintah Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram kini mulai mengolah sampah rumah tangga organik menjadi pupuk kompos Takakura. Pupuk kompos ini bisa digunakan untuk media tanam dan pemeliharaan tanaman.

Belum lama ini, wartawan Radar Mandalika menemui Lurah Mataram Barat yang tengah meninjau sekaligus melihat langsung proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos Takakura. Proses pengolahan dilakukan di tempat Rumah Pemilihan (Rumpil) sampah yang baru-baru ini dilaunching di Lingkungan Karang Medain.

“Petugas yang mengolah, kita masih menggunakan SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada. Operator, Linmas yang ada di Kelurahan Mataram Barat. Mereka sambil belajar dan berkontribusi untuk kelurahan,” ungkap Sulistiowati.

Cara pembuatan pupuk Takakura cukup sederhana. Bahan yang digunakan adalah sekam dan dedak. Bahan lainnya ada obat berupa air yang dicampur dengan tempe, ragi tape, garam, gula pasir, dan sisa buah-buhan. Semuanya dimasukkan ke dalam galon. Kemudian sampah rumah tangga organik dalam kondisi sudah tercacah. Berupa sisa makanan, sisa sayur, kulit buah, dan lain-lain.

“Sekam dan dedak dicampuri dengan air (obat). Itulah jadi bibitnya. Setelah kita buatin bibitnya selama tiga hari, baru bisa dimasukkan sampah,” jelas Sulistiowati.

Pantauan di lapangan, terdapat tiga tumpukan bahan yang sudah dicampur beberapa lama untuk pembuatan pupuk kompos Takakura di tempat Rumpil. Di sana, seorang petugas sedang mengaduk satu tumpukan bahan yang sudah dicampur. Prosesnya dipantau langsung oleh lurah.

“Yang kita mau selesaikan sekali inikan sampah dapurnya yang bau. Inikan gak terlalu bau kalau sudah pemrosesan,” kata Sulistiowati menunjuk tumpukan bahan yang tengah diaduk petugas.

Karena baru kali pertama memproduksi sampah rumah tangga organik menjadi pupuk kompos Takakura. Kata Sulistiowati, proses pembuatan pupuk ini membutuhkan waktu 4 bulan. Artinya, bahan yang sudah dicampur dibiarkan menumpuk selama 4 bulan. Setelah itu, baru bisa dipanen atau menghasilkan pupuk Takakura.

“Karena ini baru pertama. Tapi, nanti setelah 4 bulan ini panen, per dua minggu panennya. Nanti, hasil (berat) pupuk dalam sekali produksi tergantung sampah yang masuk,” ungkap dia.

“Nanti hasil pupuk ini kita ayak. Kita ambil yang memang halusnya. Itu yang akan kita jemur dan kita masukkan ke dalam karung dan kita timbang,” tambah Sulistiowati.

Nantinya, pupuk kompos Katakura yang dihasilkan Kelurahan Mataram Barat akan dipasarkan. Sulistiowati pun tidak khawatir terkait dengan akses pemasaran. Karena, ia sendiri sudah memiliki gambaran soal bagaimana memasarkan pupuk kompos Takakura yang dihasilkan ini.

“Ini aja sudah ada dua warga yang memang mau mesan. Jadi, kalau masalah pemasaran kita ndak perlu khawatir. Karena sudah banyak kita punya link-link,” kata dia.

Selain mengolah sampah organik. Pemerintah Kelurahan Mataram juga akan mengolah sampah non organik seperti plastik menjadi sebuah produk bernilai ekonomi. Tempat pengolahannya pun tersentral di tempat Rumpil. Operator mengangkut sampah plastik dari rumah tangga dan dikumpukan di Rumpil untuk diolah jadi produk.

“Kalau sampah plastik kecil di Kelurahan Mataram Barat. Makanya ketika kita sudah punya tempat pengolahan (Rumpil) baru kita bisa tahu volume sampah. Yang paling banyak itu sampah organik,” cetus Sulistiowati.

Lebih lanjut, Sulistiowati menerangkan, pengolahan sampah baik ogranik maupun non organik sangat penting. Selain bisa menghasilkan nilai ekonomi. Juga bisa mengurangi volume sampah dan mengedukasi warga masyarakat agar terbiasa memilah sampah dari rumah masing-masing.

“Kita sosialisasikan pemilahan sampah juga. Kadang warga juga kan belum paham masalah pemilihan ini. Ini sambil jalan lah. Biar sampah yang dibuang ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) itu, sampah yang memang residu-residu aja,” ungkap dia. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

SMSI Lotim Fokus Tingkatkan Kualitas Anggota

Read Next

Puskesmas Lakukan Fogging DBD di Cakra Utara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *