Kuota Pendakian Rinjani Capai 75 Persen

  • Bagikan
F DEDY ASRIADI
DOK/RADAR MANDALIKA Dedy Asriadi

LOTIM – Pendakian Rinjani sejak beberapa hari lalu telah mulai dibuka. Selain kuota yang bertambah menjadi 150 orang per hari, lama pendakian juga bertambah dari sebelumnya dua hari satu malam, menjadi empat hari tiga malam.
“Dibandingkan pendakian taman nasional di daerah lain, pendakian gunung Rinjani lebih istimewa,” kata Dedy Asriadi, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) NTB, via ponselnya, kemarin.
Rinjani menjadi istimewa sekarang ini karena, kuota pendakian Rinjani sudah mencapai 75 persen. Kuota tersebut satu-satunya tertinggi di Indonesia, dibandingkan pendakian di daerah lain yang hanya 35 persen sampai 50 persen. Pendakian Rinjani menjadi istimewa, sebab TNGR menunjukkan kekompakan bersama pemerintah daerah setempat, tetap bekerjasama Travel Organizer (TO), kelompok pencinta alam.
“Itu sebabnya Rinjani mendapat perhatian khusus, karena kekompakan itu kami perlihatkan,” tegas Dedy.
Kaitan adanya protes pelaku wisata atas penentuan kuota 150 pendaki per hari yang dianggap akan mematikan usaha wisata Sembalun, menurutnya aspirasi masyarakat Sembalun tersebut belum sampai ke telinganya. Namun dalam persoalan ini, negara sejatinya sudah transparan dalam penentuan kuota pendakian tersebut.
Masih kata Dedy, yang menjadi keluhan di Rinjani bukanlah menyangkut volume pendakian setiap harinya. Melainkan masih minimnya jumlah pendakian dilakukan wisatawan mancanegara. Terlebih selama Pandemi Covid-19. Bagaimana pun, para TO akan lebih berkembang bila semakin banyak wisatawan mancanegara datang.
“Travel organizer itu bukan terbanyak di Sembalun, tapi di Lombok Utara. Yang dibutuhkan travel organizer ini juga bukan soal seberapa besar volume pendakian, tapi wisatawan mancanegaranya yang dibutuhkan,” ujarnya.
Lebih jauh diungkapkan, bisnis wisatawan ini bisnis gampang-gampang susah. Artinya, destinasi wisata pendakian bukan hanya menjadi peluang satu atau dua organisasi atau kelompok. Melainkan juga terdapat hak kelompok lain seperti kelompok pencinta alam.
“Saya minta sabar saja dulu, sembari menunggu pemerintah pusat membuka lebar pintu masuk untuk wisatawan mancanegara. Kalau Bali dan tiga gili di Lombok Utara sudah ramai, pasti Sembalun juga akan ikut ramai,” pungkasnya. (fa’i/r3)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *