Bulog Pastikan Gabah Petani Terserap

  • Bagikan
F gabah scaled
DOK/RADAR MANDALIKA MERAMPEK: Petani ngerampek di lahan pertanian Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya Lombok Tengah, belum lama ini.

MATARAM – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) wilayah NTB memastikan gabah petani semua terserap. Beredar isu Bulog tidak menyerap gabah petani merupakan informasi tidak benar. Tahun ini saja sudah ada serapan gabah petani sebesar 35.800 ton atau 22.000 setara beras.

“Serapan kita untuk gabah dan beras terus kita optimalkan. Walaupun ada berita desas desus di lapangan bahwa Bulog tidak beli,” tegas Kepala Perum Bulog Wilayah NTB, Abdul Muis, kemarin.

Dikatakannya, kesempatan serapan gabah sata ini masih terus dibuka. Pihaknya juga menghimbau mitra untuk turun membeli gabah petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Jadi kalau ada yang membeli gabah di bawah harga dasar pemerintah itu berarti bukan mitra Bulog

“Karena mitra Bulog itu punya kewajiban membeli, menjaga stabilitas harga dan gabah itu di tingkat di GKP (Gabah Kering Panen) Rp 4300 dan GKG (Gabah Kering Giling) Rp 5300,” terangnya.

Bulog perlu dilaporkan bahwa pengadaan (beras dan gabah, red) secara nasional untuk perum Bulog NTB ini peringkat ke 3. Dimana terbanyak dalam menyerap produksi petani, yaitu sudah kurang lebih 35800 ton gaba yang diserap atau setara beras 22.000 ton.

“Sementara ini kami juga ada stok tahun lalu yang sampai tahun lalu hampir tidak bergerak sekitar 61 ribu ton,” bebernya.

Dilanjutkannya, jadi serapan hari ini terutama mereka yang membutuhkan beras untuk memberikan bingkisan lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah. Dimana membuat stok bulog hari ini yang lebih 85 ribu ton. Beras dan gabah yang sudah ada ditata ini terus dijaga, dirawat ketersediaannya agar agaimana beras ini tidak mengalami perubahan kualitas.

“Sesuai komitment kami saat panen raya bulog tetap melakukan pembelian,” tegasnya.

Namun mereka punya kewajiban menjaga harganya, jangan sampai jatuh. Sekadar informasi adanya desas desus harganaya anjlok memang ada beberapa petani menjual gabah dengan kebutuhan mendesak. Di dalam catatan BPS penjualan secara mendadak itu tidak masuk kategori untuk dicatat sebagai harga. Tetapi yang catat itu adalah penjualan secara umumnya tidak mendadak.

“Gabah yang masuk dalam kelompok kualitas adalah gabah yang kadar airnya dibawah 28 persen. Tahun ini kurang lebih kita siapakan anggaran Rp800 miliar karena target kami 1000 ton jadi kurang lebih Rp 871 miliar,” pungkasnya. (jho)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *