Kasus HIV/AIDS di NTB Mencemaskan

F ilustrasi 2

Ilustrasi

MATARAM – Angka kasus HIV/AIDS di NTB terbilang tinggi. Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTB, pada kasus HIV secara komulatif dari tahun 2001 hingga Maret 2021 terdapat 1.104 orang terjangkit. Sementara kasus AIDS secara komulatif dari tahun 1992 hingga Maret 2021 sebanyak 1.193 orang. Kasus HIV/AIDS banyak didominasi penduduk usia produktif 20 – 40 tahun, selain itu Ibu Rumah Tangga (IRT) tertinggi kedua setelah wiraswasta.

Dari data tersebut, NTB tidak hanya fokus pada pandemi Covid-19 semata melainkan HIV/AIDs juga menjadi tugas yaitu, upaya pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS.

Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah mengimbau kepada seluruh stakeholder terkait untuk terus memasifkan edukasi kepada masyarakat secara maksimal guna menghentikan penyebaran HIV/AIDS.

“Harus lebih dimasifkan kembali edukasi kepada masyarakat, karena edukasi ini sangat penting agar tepat sasaran,” tutur Rohmi saat menerima Laporan Penanggulangan AIDS di NTB bersama Kepala Dinas Kesehatan NTB, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, dan NGO Incest di Mataram, Kamis pekan lalu.

Rohmi juga mengusulkan agar pemberian edukasi dapat dilakukan secara digital atau memanfaatkan sosial media sebagai media pembelajaran. Rohmi menuturkan sekarang ini dengan berkembangnya teknologi ini banyak sekali efisiensi yang dapat dilakukan, sehingga secara massif lebih luas dapat disebarkan sosialisasi edukasi mengenai dampak dari HIV/AIDS. Nantinya dapat dikemas dengan semenarik mungkin agar masyarakat dapat cepat mengertinya.

Beberapa fokus yang menjadi sasaran program penanggulangan yaitu Pekerja Migran Indonesia (PMI), Gay, Waria, Laki – laki (GWL), Hubungan Hetero Seksual dan sebagainya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan terdapat kasus PMI yang datang ke NTB membawa virus kepada keluarganya.

“Atensi kita saat ini kepada PMI, ada beberapa PMI yang membawa virus HIV/AIDS sehingga perlunya dilakukan skrining ketika kedatangan PMI ke NTB,” tuturnya.

Selain itu pelayanan pengobatan terapi HIV-AIDS hanya dapat dilakukan pada 12 Rumah Sakit di NTB. Tetapi Pemerintah Daerah yang telah didukung oleh Pemerintah Pusat akan memperluas pelayanan pengobatan terapi HIV-AIDS dengan memanfaatkan puskesmas.

“Bagaimana memaksimalkan puskesmas bisa menjalankan terapi bagi pasien yang terdeteksi,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA NTB, H. Soeharmanto mengatakan sejauh ini, kasus HIV/AIDS banyak didominasi penduduk usia produktif 20 – 40 tahun, selain itu Ibu Rumah Tangga tertinggi kedua setelah wiraswasta.

“Ini yang perlu kita antisipasi banyaknya keluarga yang suaminya kerja diluar negeri atau luar daerah yang sering membawa virus untuk isteri, dimana penyebab utamanya yakni Hetero seksual,” pungkasnya. (jho/rls)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Sidang Kasus Pembunuh Istri Orang di Pengembur Mulai Berjalan

Read Next

Insentif Guru Tidak Tetap di Loteng Nambah 100 Ribu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *