Kapolres: Kerusuhan di Landah Dipicu Konflik Lahan

Keterangan

KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID KETERANGAN: Korban luka-luka Hasanudin saat sedang melakukan pelaporan ke Polres Lombok Tengah, kemarin.

PRAYA – Kerusuhan yang terjadi di Desa Landah, Kecamatan Praya Timur malam kemarin dipicu karena persoalan lahan. Dalam hal ini, persoalan ini telah bergulir lama sejak 2019 silam. Namun belum ada titik terang dan adanya kejelasan hukum.

Kapolres Lombok Tengah, AKBP Esty Setyo Nugroho menyampaikan, kerusuhan yang terjadi semalam merupakan masalah lama tentang konflik lahan yakni antar pelaku dan korban.

Adapun pihak yang berkonflik masih dalam satu simpul keluarga dekat. Kemudian sudah ada pelaporan dan ada upaya perdamaian oleh pihak kepolisian. Baik tentang pengerusakan lahan dan tanaman. Menurutnya ini merupakan konflik sengketa lahan dan perumahan sedang proses, yang kemudian memiliki pipil dan SHM.

“Luas areal sekitar 1,4 hektare yang kemudian susah di SHM hanya 16 are. Dan sekarang sudah dibagikan ke ahli waris,” ungkapnya.

Adapun korban dalam kejadian tersebut secara keseluruhan yakni sejumlah 10 orang yang mengalami luka ringan dari kedua belah pihak dan dirawat di Puskesmas Mujur dan Puskesmas Ganti.

“Kami sebenarnya sudah proses laporannya dan sudah ada penetapan tersangka yakni inisial KH, ini yang awalnya memancing kericuhan terjadi,” jelasnya.

Pihaknya berharap kedua belah pihak menahan diri. Jika kemudian persoalan waris maka silahkan digugat ke pengadilan.

Sementara korban, Hasanudin asal Dusun Mengkudu Lauk, Desa Landah Kecamatan Praya Timur menceritakan kronologis kejadian.  Dimana ia usai pulang melaksanakan ibadah tarawih  ada orang yang berteriak dengan nada menantang.

“Keluar kalau berani,” ungkapnya menyebutkan suara teriakan semalam.

Kejadian itu terus berulang sampai dengan empat kali dan saat dicek ternyata pria inisial KH lah yang melakukan. Sebelumnya beberapa waktu lalu KH juga yang membuat pengerusakan dilahannya dan malam itupun KH juga yang memancing keributan.

Ia mengakui saat itu dianiaya menggunakan bambu, kayu dan sejumlah batu yang dilemparkan. Ia berupaya menyelamatkan diri dan meminta bantuan kepada warga sekitar sambil berteriak meminta tolong.

“Ibu, ipar, bersama kerabat saya juga menjadi korban penikaman tersebut. Beruntung masyarakat banyak berdatangan dan membantu kami yang sedang dalam keadaan terluka,” ceritanya.

Pihaknya juga membeberkan laporan yang sudah dilayangkan sejak 5 bulan lalu belum ada kejelasan. Dimana pelaku melakukan perusakan lahan pada Desember 2020 lalu, meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka dua minggu lalu, namun sampai saat ini masih bebas berkeliaran.

Pihaknya juga menjelaskan adanya korban lain yakni Dedy yang menjadi korban penebangan pohon dia kali, yakni Pertama tanggal 23/12/2020. Penebangan kedua 14/01/21. Dilaporkan namun sudah masuk dilaporan pertama menjadi laporan tambahan.

Adapun kerusakan lahan, pohon dan beberapa rumah pihaknya sangat merasa dirugikan. Dengan taksiran sekitar 100 juta rupiah.

“Persoalan ini berawal dari sengketa lahan milik nenek moyang kami dulu. Kami tidak memiliki ikatan keluarga, kami tidak kenal mereka dan kami hanya bertetangga saja. Kami punya sertifikat dan kami sudah kasasi, Bliet, dan oknum pelaku hanya ingin merebut dengan kekerasan bak preman,” ungkapnya. (tim)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Puasa Tak Halangi Pembentukan Daya Tahan Tubuh Usai Vaksinasi

Read Next

Satgas Covid-19 dan Pol PP Ngaku BNI Praya tidak Ada Koordinasi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *