IPM Kota Mataram Turun, Bappeda Berang

Amiruddin scaled

RAZAK/RADAR MANDALIKA H Amiruddin

MATARAM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Selasa (15/12) merilis resmi dari 10 kabupaten/kota di NTB, tiga kabupaten/kota mengalami penurunan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2020 dibandingkan kondisi tahun 2019. Yakni, Kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Utara (KLU), dan Kota Mataram.

Capaian IPM Kota Mataram mengalami penurunan dari 79,10 pada tahun 2019 menjadi 78,91 pada tahun 2020. Di sisi lain, pertumbuhan IPM Kota Mataram merupakan yang terendah dengan laju pertumbuhan sebesar -0,24 persen. Hingga saat ini IPM masih menjadi salah satu alat ukur pembangunan yang digunakan dalam target pembangunan pemerintah.

Terkait hal tersebut, Radar Mandalika mengkonfirmasi pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram terkait data resmi yang dirilis BPS NTB, bahwa capaian IPM Kota Mataram mengalami penurunan pada tahun 2020 yang mencapai 78,91. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Mataram, H Amiruddin, justru menepis data BPS NTB tersebut.

“Suruh koreksi dulu iya. Tidak ada yang turun. Masih yang terakhir itu, 77,84. Saya punya data,” cetus dia, belum lama ini.

Amiruddin malah mempertanyakan sikap BPS NTB yang dianggap terlalu dini dalam merilis data capaian IPM kabupaten/kota tahun 2019-2020. Menurutnya, data resmi baru biasanya akan terbit pada bulan Maret. “Ndak bisa, bulan Maret (2021) baru terbit. APK yang mana yang turun?. Belum ada, belum diberitakan. Penyumbangnya apa?” tandas dia.

Amiruddin mengaku belum menerima data yang dirilis oleh BPS NTB mengenai capaian IPM tahun 2019-2020. Termasuk di dalamnya menyebutkan capaian IPM Kota Mataram mengalami penurunan. Dari 79,10 pada tahun 2019 turun menjadi 78,91 pada tahun 2020.

“Belum ada resmi masuk. Jangan berita burung dipakai. Program prioritas kita dari tahun 2020 juga termasuk salah satunya adalah IPM,” ungkap dia.

Amiruddin pun meminta data BPS NTB. Karena itu, media ini berusaha menyodorkan data resmi yang dirilis BPS NTB tanggal 15 Desember 2020. Hanya saja, dia enggan memberikan komentar panjang lebar. “Saya mau bicara dengan data. Angka penyumbangnya apa?. Apa penyebabnya?. Turunnya kenapa?. Pasti akan ketahuan. Pasti ada analisisnya,” cetus dia.

Seperti diketahui, Kepala BPS NTB, Suntono merilis resmi (15/12), beberapa kabupaten/kota mengalami penurunan capaian IPM pada tahun 2020 dibandingkan kondisi tahun 2019. Di tahun 2020, posisi pertama masih ditempati oleh Kota Mataram dengan capaian IPM sebesar 78,91 persen. Capaian ini cukup jauh dibandingkan dengan IPM NTB yang hanya sebesar 68,25.

Kondisi ini wajar karena Kota Mataram menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan. Capaian IPM Kota Mataram ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 79,10. Hal ini disebabkan terjadinya penurunan pada indikator pengeluaran per kapita akibat pandemi Covid-19.

Penurunan capaian IPM tahun 2020 terjadi di Kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Utara, dan Kota Mataram. Secara umum seluruh wilayah di Provinsi NTB mengalami penurunan capaian pada indikator pengeluaran per kapita akibat pandemi Covid-19. Namun penurunan yang dialami oleh ketiga kabupaten/kota tersebut cukup signifikan. Sementara peningkatan pada dimensi hidup sehat dan pendidikan tidak signifikan, sehingga mengakibatkan penurunan capaian IPM di tahun 2020.

Pada tahun 2020, giatnya pembangunan KEK Mandalika sehingga mampu menjadi destinasi wisata baru bagi para pengunjung. Maka tak dapat dipungkiri bahwa capaian IPM di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) bergerak maju. Bahkan pada tahun 2020, peringkat capaian IPM Loteng mampu meningkat menjadi posisi ke tujuh di Provinsi NTB, menyalip posisi Kabupaten Bima. Pada tahun 2020, Kabupaten Lombok Barat mencapai pertumbuhan IPM tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi NTB, yaitu sebesar 0,25 persen.

Untuk diketahui, IPM Provinsi NTB mengalami peningkatan dari 68,14 di tahun 2019 menjadi 68,25 pada tahun 2020. IPM Provinsi NTB masih berada pada kategori capaian sedang. Pertumbuhan IPM NTB di tahun 2020 mencapai 0,16 persen. Laju pertumbuhan IPM NTB tahun ini merupakan yang terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dari dimensi kesehatan yang digambarkan oleh indikator Umur Harapan Hidup (UHH), di tahun 2020 Provinsi NTB mencapai 66,51 tahun. Indikator ini meningkat sebanyak 0,23 tahun dibandingkan tahun 2019. Dimensi pendidikan digambarkan oleh indikator Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). HLS di tahun 2020 Provinsi NTB mencapai 13,70 tahun, meningkat 0,22 tahun dibandingkan tahun 2019. Sedangkan RLS-nya sebesar 7,31 tahun dan nilai ini meningkat sebanyak 0,04 tahun dibanding tahun sebelumnya.

Dari dimensi hidup layak yang digambarkan oleh indikator Pengeluaran Per Kapita yang disesuaikan, capaian Provinsi NTB di tahun 2020 sebesar 10,35 juta rupiah per orang per tahun. Indikator ini menurun sebanyak 289 ribu rupiah dibandingkan tahun 2019.

UHH didefinisikan sebagai jumlah tahun yang diharapkan dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk hidup dalam satuan tahun. HLS didefinisikan sebagai lamanya pendidikan formal yang diharapkan dapat dicapai oleh penduduk usia 7 tahun di masa mendatang dalam satuan tahun.

Sementara, RLS didefinisikan sebagai rata-rata lamanya masa pendidikan fomal yang dienyam oleh penduduk 25 tahun ke atas dalam satuan tahun. Sedangkan pengeluaran per kapita yang disesuaikan disajikan dalam satuan ribu rupiah per tahun.

Dibandingkan dengan keadaan pada tahun 2019, pengeluaran per kapita penduduk NTB mengalami penurunan sebanyak 289 ribu rupiah. Penurunan ini dikarenakan adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh wilayah di dunia, termasuk juga Indonesia pada umumnya, mengakibatkan perekonomian memburuk. Hal ini membuat pendapatan penduduk NTB menurun dan berakibat pada penurunan pengeluaran. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

TGB Atsani, Serukan Tahan Diri

Read Next

Jalan Kabupaten Ditanami Pohon Pisang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *