Inalillah! Enam TKI Asal NTB Tenggelam di Perairan Johor Malaysia

  • Bagikan
F ilustrasi TKI
ilustrasi

MATARAM – Dinas Tenaga Kerja dan Transimigrasi NTB menerima informasi resmi dari KJRI Johor Baru, Malaysia. Dimana  ada penumpang speedboat membawa TKI illegal yang tenggalam di Perairan Johor Malaysia sebanyak enam orang warga NTB, mereka ditemukan kondisi meninggal dunia.

“Ini informasi dari KJRI. Berdasarkan informasi ini maka kami saat ini sedang mengkonfirmasi ke aparat desa atau Pemda setempat, untuk identifikasi dan menggali informasi lebih detil. Memastikan apakah benar para korban tersebut warga NTB. Sehingga dapat dilakukan langkah- langkah penanganan selanjutnya,” terang Kadis Nakertrans NTB, I Gede Putu Ariyadi, kemarin.

Dalam surat resmi yang diterimanya itu, dari 11 orang ditemukan enam berasal dari Lombok yang diperkuat dengan dokumen pendukung. Yaitu foto copy  KK  tercantum  nama  kepala  kelukelurga Gunaman,  Suhartin  (istri)  dan Huratul  Zakiyah  (anak)  dengan  alamat  di  Ramban  Bela  Desa Lenek  Rabanbiak,  Kecamatan Aikmel,  kartu  sertifikat  vaksin  atas nama Yoan  Eki  Sudiatma,  lahir  Kedondong,  1  Oktober  2000, dengan  alamat  Dusun Kedondong  Daya,  Kecamatan  Pringgasela,. Kartu  Sertifikat  Vaksin atas nama  Dedi  Suryadi,  lahir Anjani,  18  Juli  1987,  dengan  alamat Desa  Anjani  Timur,  Kecamatan Suralaga,  kartu  sertifikat  vaksin  atas nama Muhamad  Nasir,  lahir   Kawo,  14  April  1981,  dengan alamat  Desa Balemontong  I,  Kecamatan Pujut,  Lombok  Tengah. Ditemukan  juga  boarding  pass  Lion  Air atas nama sama,   berangkat  dari  Jakarta 8  Desember  2021  tujuan  Batam. Copy  Kartu  Sertifikat  Vaksin  atasnama Samsuddin,  lahir Pemasah,  1  Juli  1977,  dengan alamat  Dusun Pemasah,  Kecamatan  Jerowaru,  Lombok  Timur. Terakhir copy  kartu  sertifikat  vaksin  atas nama Alwi,  lahir   Mampe,  16  Juli  1985,  degan  alamat Dusun Mampe,  Kecamatan  Jerowaru,  Lombok  Timur.

Mantan Kadis Kominfotik NTB itu mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan informasi lebih detail sebelum adanya keterangan resmi kembali dari KJRI. Namun demikian Ariadi mengingatkan bahwa resiko menjadi TKI Ilegal sangat besar. Bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan.

“Ini jadi pembelajaran kita semua supaya jangan mudah percaya oknum calo,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknsi Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UPT BP2MI) Mataram, Abri Danar Prabawa menjelaskan KJRI  Johor  Bahru  pada  tanggal 15/12  pagi  menerima  informasi  dari  Pusat  Kawalan  Operasi  Maritim (MRSC)  Agensi  Penguatkuasaan  Maritim  Malaysia  (APMM)  Negeri  Johor  dan  IPD  (Polres) Kota  Tinggi  Johor  mengenai  ditemukannya  Kapal  Karam  di  pantai  Tanjung  Balau,  Kota Tinggi  Johor  pada Rabu,  15  Desember  2021  jam  05:00  WS  atau  0,3  NM  sebelah  tenggara Tanjung  Balau,  Kota  Tinggi,  Johor.

Satgas  KJRI  Johor  Bahru  telah  mendatangi  lokasi  kejadian  bertemu  dengan  Timbalan Pengarah Operasi  APMM  Negeri  Johor,  Tn.  Simon  dan  Kapolres  Kota  Tinggi,  lnspektur Zaireal  untuk mendapatkan  informasi  dan  koordinasi  penanganan  lebih  lanjut.

“Berdasarkan  informasi  yang  diperoleh  dari  kedua  pejabat  tersebut,  diduga  kapal  karam membawa  50  WNI. Sebanyak  11  orang  ditemukan  meninggal  terdiri  dari  7  (tujuh)  laki-laki  dan 4 perempuan. Sebanyak  14  orang  selamat  terdiri  dari  12  laki-laki  dan  2  perempuan.  Dari  2   perempuan  yang  selamat, 1   orang  dirawat  di  Hospital  Kota  Tinggi  karena  kondisi  kritis  (kekurangan  cairan/dehidrasi),” terang Danar terpisah.

Dari  12  orang  laki-laki  yang  selamat,  Polisi  menduga  satu  diantaranya  sebagai pelaku  TPPO  (tekong). 14  orang  selamat  telah  diamankan  oleh  Angkatan  Tentara  Malaysia  (ATM)  di  Tanjung  Sepang  Kota  Tinggi  untuk  dilakukan  penyidikan  dan  PCR  tes  pada  esok hari  (16112). Sebanyak  25  orang  belum  diketahui  keberadaannya  (kondisi  meninggal  atau  hidup).

“Jenazah  pada  jam  13:30  WS  telah  dibawa  ke  Hospital  Sultan  Ismail  (HSI)  Johor  untuk keperluan  otopsi,  PCR  tes  dan  penyidikan/identifikasi  (pengambilan  sidik  jari)  oleh  pihak Forensik  HSI,” jelasnya.

Selanjutnya,  Satgas  KJRI  Johor  Bahru  pada  jam  14:30  WS  mendatangi  tempat  terjadinya kapal  karam  untuk  mencari  dokumen/identitas  penumpang  kapal.  Dari  bukti-bukti  dokumen yang  ditemukan  terdapat  beberapa  identitas  dengan dokumen  terlampir.

Danar mengatakan kejadian ini menandakan masih banyak masyrakat yang ngeyel tanpa memikirkan resikonya. Diakuinya juga Pemberantasan sindikat dimulai dari memberikan edukasi / sosialisasi kepada masyarakat terkait bekerja luar negeri yag aman ( prosedural ).

“Desakan sosial ekonomi membuat banyak warga yang ngak peduli dengan regulasi,” pungkasnya.(jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *