Imbas PPKM, PAD Lobar Terjun Bebas

F PADD scaled

WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA SEPI: Kondisi Senggigi yang terpantau lengang sejak pandemi Covid-19.

LOBAR—Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) semasa pandemi covid-19 membuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Barat (Lobar) terjun bebas, terutama pada sektor pariwisata. Ditambah dengan adanya PPKM Darurat di Kota Mataram. “Memang PPKM di Koa Mataram berdampak pada semua lini, tidak hanya Mataram dengan ditutupnya pusat berbelanjaan, tetapi juga persoalan rakyat. Semua terdampak, terkhusus Lobar dampaknya juga besar,” ungkap Sekretaris Komisi II DPRD Lobar, Munawir Haris yang dikonfirmasi, kemarin (14/7).
Adanya surat edaran agar tempat hiburan hanya boleh beroperasi hingga pukul 20.00 Wita, sangat dirasakan dampaknya di kawasan Senggigi. Sehingga ikon wisata Lobar itu menjadi sepi, dan berimbas ke PAD Lobar. “Pasti sepi dunia pariwisata,” ungkapnya.
Diakuinya, Komisi II sudah menerima banyak keluhan dari para pelaku wisata. Namun ia menyadari jika kondisi saat ini sangat dilematis. Di satu sisi berbicara perekonomian masyarakat terdampak, di sisi lain Pandemi Covid-19 juga mengancam keselamatan. “Sangat dilematis, tapi mau gimana lagi,” ujarnya.
Belum lagi dengan adanya penyekatan di pintu masuk ke Kota Mataram, sangat berdampak pada masyarakat. Bahkan dirasakan oleh para Anggota DPRD Lobar yang bertempat tinggal di kawasan utara seperti Kecamatan Batulayar, Gunungsari, Lingsar dan Narmada. “Teman-teman DPR yang berasal dari sana akan melewati Kota Mataram, ketika mau masuk kantor atau pulang rapat malam hari. Terjadi penyekatan, pengalihan arus dan sebagainya berimbas juga pada terhadap kehadiran (anggota),” jelasnya.
Meski demikian pihaknya tetap mendukung kebijakan pemerintah demi kemaslahatan bersama. Terlebih varian baru covid-19 sudah masuk di NTB. Sehingga ia menilai wajar pemerintah mengambil langkah antisipasi penyebarannya. “Apapun yang menjadi keputusan pemerintah selayaknya harus kita ikuti,” pungkasnya.
Terpisah, Kabid Penagihan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lobar, M Subayin Fikri menerangkan hingga 30 Juni PAD Lobar baru tercapai sekitar 34,87 persen atau Rp 102 miliar dari target Rp 293 miliar. “Komposisinya non BLUD target Rp 177 miliar terealisasi Rp 46 miliar atau 27,33 persen dan BLUD Rp 115 miliar realisasi Rp 53 miliar atau 46,46 persen,” terangnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Sedangkan untuk PAD sektor pajak hotel restoran realisasinya menurun. Dari target pajak hotel Rp 22 miliar, realisasi Rp 1,7 miliar atau sekitar 7,55 persen. Kemudian restoran dari target Rp 20 miliar realisasi Rp 2,7 miliar atau 13,83 persen.
“Kalau tahun 2020 target hotel Rp 15 miliar realisasi Rp 7,2 miliar atau 46 persen dan restoran target Rp 15 miliar realisasi Rp 7,6 miliar atau 49 persen. Itu datanya per 31 Desember 2020,” pungkasnya.
Melihat kondisi saat ini yang sulit diprediksi, ia menilai akan sulit PAD sektor hotel restoran tercapai seperti tahun lalu. (win)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pemetaan Batas Desa Berpotensi Konflik

Read Next

Mahasiswa Unram Sulap Ampas Tahu jadi Makanan Lezat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *