Gara-gara Ingin Warisan, Anak Gugat Ibu Kandung

F Ibu kandung 2

Prayatiningsih

PRAYA-Seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama, Prayatiningsih, 52 tahun warga Lingkungan Kekere Barat, Kelurahan Semayan, Kecamatan Praya digugat oleh anak kandungnya inisial RW, 32 tahun.  

Gugatan dimasukan sang anak 30 April 2020 lalu ke Pengadilan Agama (PA) Praya. RW bukan hanya menggugat ibu kandungnya saja. Tiga saudaranya yang tinggal di dalam rumah orang tuanya juga ikut jadi tergugat. Rina Aprianti, 24 tahun, Rudi Firmansyah, 16 tahun dan Risa Ramdhani, 14 tahun.

“Saya mau lihat anak saya pulang, biar kumpul di rumah ini sudah,” ungkap Prayatiningsih pada Radar Mandalika, Rabu kemarin di kediamannya.

Prayatiningsih menceritakan, sebelum meninggal dunia almarhum suaminya, Asroni Husnan. Sang bapak pernah memanggil dan mengumpulkan semua anaknya. Termasuk RW yang merupakan anak paling besar. Dari pesan orang tua, diminta semua anak-anaknya tetap tinggal di rumah ini. Jangan sampai ada yang mau menjual. Namun, ada tanah di Paok Tawah diminta almarhum agar dibagi.

“Bapak meninggal dunia bulan Agustus tahun 2019. Ini mau masuk setahun sudah,” ungkapnya.

Atas dasar wasiat itu juga kata Prayatiningsih, dirinya dan anak yang lain tidak mau menjual rumah beserta tanah seluas 4 are ini oleh siapapun.

Sementara, belum lama menikah sang anak pun keluar dari rumah orang tua tanpa alasan yang jelas sebelum bapak meninggal dunia. Saat keluar dari rumah bersama istri, RW juga tidak pamitan mau ke mana. Setelah dilacak ternyata kontrak rumah di Dusun Otak Desa Desa Puyung, Kecamatan Jonggat.

“Sejak itu komunikasi semakin sulit. Bahkan nomor telpon saya diblokir, saya tidak tahu apa mau anak saya ini,” tuturnya.

Lebih parah lagi sesuai cerita sang ibu, acara kesembilan hari almarhum bapak meninggal dunia RW mulai menghilang. Tidak pernah lagi kembali ke rumah. Bahkan acara adiknya menikah sementara RW adalah wali tidak juga hadir di acara.

Tidak lama setelah menghilang, Prayatiningsih pun menerima kabar mengejutkan usai puasa tahun kemarin. Tiba-tiba kepala lingkungan memberikan informasi jika RW mulai mempersoalkan bangunan rumah dan tanah tempat orang tua tinggal. Demikian juga disampaikan bhabinkamtibmas. RW sudah konsultasi ke Lurah Semayan dan disarankan agar duduk bersama dalam menselsaikan masalah keluarga.

“Baru setelah itu saya terima surat dari PA Praya bahwa kami digugat,” katanya.

Saat itu situasi mulai memanas. Belum lagi ditambah saudara bapak atau almarhum ikut-ikutan katanya membela RW sampai dilakukan gugatan tersebut.

“Paman macam apa itu coba,” ungkap dia.

Selain itu, Prayatiningsih juga menuturkan, gugatan yang masuk ini sudah masuk siding keempat pada bulan Agustus ini dengan agenda Duplik. “Apa kata orang mendengarkan cerita ini, sebenarnya saya malu.Cuma  sudah tidak tahu cara lagi hadapi anak saya ini,” ungkapnya.

Dalam perkara ini, sang ibu berjanji akan melawan jika gugatan anaknya ini dikabulkan pihak PN Praya. Dia akan banding dan terus memperjuangkan hak yang jadi peninggalan sang suami.

“Kalau misalnya dia mau uang, lebih baik saya kasi uang. Dari pada rumah ini dijual,” tegasnya.

Sementara, sampai berita ini diturunkan. Pihak penggugat belum bisa dikonfirmasi. Demikian juga pihak PA Praya belum ada yang berhasil dikonfirmasi.(r1)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Dispar Lotim Sesalkan Ada Pendaki Dugem

Read Next

Denda Tak Gunakan Masker Bukan Hanya di NTB

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *