Oleh: Abdus Syukur

DI era digital ini, industri media dan pers mengalami perkembangan pesat. Dalam menghadapi era informasi yang cepat itu, keberadaan organisasi profesional seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjadi semakin penting.

PWI NTB menyadari itu. Ia pun terus berbenah. Setidaknya dengan menggenapi kepengurusan di 10 kabupaten/kota. Kini, sudah terbentuk kepengurusan di sembilan kabupaten/kota. Hanya Kota Mataram yang belum. Sementara yang baru terbentuk, PWI Lombok Tengah, sesuai SK Nomor 0215/PWI-NTB/IX/2023 tertanggal 8 September 2023.

PWI Kabupaten Gumi Tata Tuhu Trasne itu digawangi wartawan senior Abdus Syukur sebagai Ketua, Sekretaris dipercayakan kepada Dalaah (Radar Lombok) dan Bendahara diamanahkan kepada Lalu Bambang (Radar Mandalika).

Kepengurusan PWI Lombok Tengah periode 2023-2026 itu juga diperkuat tiga seksi. Seksi Organisasi dan Humas dipercayakan kepada Lestari Dewi (Lombok Post), Seksi Advokasi dan Pendidikan diserahkan kepada Jayadi (Radar Mandalika) dan Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) dipegang M Khaerudin (Radar Lombok).

Sebagaimana kita ketahui, PWI adalah sebuah organisasi yang berperan sebagai forum untuk para wartawan di Indonesia. Organisasi ini memiliki peran penting dalam menjaga profesionalitas dan etika wartawan, serta memberikan wadah untuk saling berinteraksi, berkolaborasi, dan memperoleh pelatihan.

Salah satu eksistensi PWI yang menonjol adalah melalui penerbitan kode etik jurnalistik yang dikenal sebagai “Kode Etik Jurnalistik PWI”. Melalui kode etik ini, PWI berkomitmen untuk mempertahankan standar kualitas pemberitaan yang objektif, akurat, dan berimbang. Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya jumlah organisasi perusahaan pers yang bermunculan dengan beragam kualitas pemberitaan.

PWI juga berfungsi sebagai wadah untuk menjembatani hubungan antara wartawan dan penerbit media dengan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Fungsi ini penting dalam menjamin kebebasan pers, menjaga independensi wartawan, serta melindungi hak-hak jurnalis dalam melakukan tugas jurnalistik.

Selain itu, PWI juga berperan aktif dalam mengadvokasi dan melindungi hak-hak wartawan di Indonesia. PWI melakukan berbagai upaya seperti penyelesaian sengketa, perlindungan hukum, serta memperjuangkan kesejahteraan bagi anggotanya. Melalui kerja keras ini, PWI mampu menjaga eksistensinya dan berperan sebagai garda terdepan dalam melindungi kebebasan pers.

Dalam era digital ini, PWI juga hadir dengan berbagai inisiatif dan program yang bertujuan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan media online. PWI mengadakan kuliah umum, pelatihan, dan seminar untuk meningkatkan kompetensi wartawan dalam menghadapi tantangan baru yang dihadapi dalam dunia pers.

Di tengah menjamurnya organisasi perusahaan pers, PWI tetap menjadi acuan utama bagi wartawan dalam menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional. Dengan eksistensinya yang kuat, PWI mampu memberikan arahan dan bimbingan bagi wartawan, serta menjaga etika dan integritas profesi mereka.

Sebagai kesimpulan, PWI memiliki eksistensi yang kuat di tengah menjamurnya organisasi perusahaan pers. Dalam menjaga profesionalitas, etika, dan independensi wartawan, PWI memainkan peran sentral. Melalui kode etik jurnalistik, kerja keras untuk perlindungan hak-hak wartawan, serta upaya untuk mengikuti perkembangan teknologi dan media online, PWI tetap relevan dan berperan sebagai organisasi terkemuka dalam dunia pers di Indonesia.(*)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 367

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *