Dilaporkan Gelapkan Aset Partai, Maidi Melawan

F H MAIDI

MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA TUNJUKKAN : H Maidi, saat menunjukkan sertifikat rumah yang dibeli, menjadi kantor DPC Gerindra, yang telah dilihat langsung ketua DPC Lotim.

LOTIM – Belum lama ini, sejumlah fungsionaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Lombok Timur (Lotim) mempolisikan HM. Jalur hukum yang ditempuh atasnama DPC dilakukan Sekretaris DPC Gerindra bersama kuasa hukumnya itu, dengan tudingan HM telah menggelapkan asset partai gerindra berupa tanah. Dilaporkan denga tuduhan penggelapan asset, tidak membuat HM diam. Dengan tegas, akan melawan DPC Gerindra, yang telah membuat nama baiknya dicoreng.
Kemarin, kepada awak media di rumahnya, H Maidi, menuturkan kronologi tanah di Jalan Diponegoro yang menjadi alat tuduhan penggelapan itu. Ketika itu saat menjabat ketua Fraksi Gerindra Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim, sepakat bersama empat anggoa fraks DPRD Lotim, melakukan pengadaan tanah untuk kantor DPC Gerindra Lotim.
Harga tanah seluas 3 are senilai Rp 310 juta itu, dibeli menggunakan dengan sistem kredit di Bank Dinar, menggunakan nama H Maidi. Namanya dijaminkan di bank, sebab pihak bank tidak melayani kredit atasnama partai. Selama proses kredit, dibayarkan oleh pihaknya bersama anggota Fraksi Gerindra, setiap bulan mengeluarkan angsuran.
Begitu pemilihan legislatif, H Maidi melaju ke DPRD NTB, sedangkan anggota fraksi lainnya memilih bertahan sebagai calon anggota DPRD Lotim. Disana mereka bersepakat, siapa pun diantara mereka yang kembali terpilih sebagai anggota dewan, agar tetap melanjutkan angsuran tanah itu di bank. Sebab di bank menggunakan namanya sebagai jaminan, dan tak ingin namanya diblak list bank jika angsuran macet.
Begitu selesai Pileg, H Maidi kandas melaju ke dewan Udayana, sedangkan di dewan kabupaten, tiga orang Gerindra yang sejak awal bersepakat melanjutkan setoran, terpilih. Tapi dalam perjalanannya, rupanya angsuran tanah itu tak dilanjutkan oleh para pihak. Sampai beberapa bulan kemudian, bank pun terus menagih dan melayangkan Surat Peringatan (SP) akan melakukan penyitaan jika tidak angsuran tanah itu tak dibayarkan.
Karena namanya dipertaruhkan di bank sebab sebagai jaminan pinjaman, dilain pihak keinginan partai yang berubah-ubah seperti menginginkan uang, tanah dan kantor. Sementara pihak bank telah mendeadline, sehingga berupaya mencari solusi dan diputuskan menjual tanah tersebut. Hasil penjualan, digunakan melunasi angsuran di Bank Dinar.
Sisa hasil penjualan, ia tawarkan pada pengurus DPC, apakah akan mengambil uang, atau dibelikan tanah. Karena ada rumah akan dijual di wilayah Kelurahan Sandubaya Kecamatan Selong, pengurus DPC bersepakat rumah itu dibeli untuk menjadi kantor DPC Gerindra.
“Rumah itu sudah dilihat langsung ketua DPC Gerindra, H Hairul Warisin, dan menyetujuinya. Rumah itu saya bayar dan sertifikat rumah masih saya pegang,” tuturnya.
Hari Senin sebelum sekretaris DPC melapor ke Polres Lotim, pihaknya terus membangun komunikasi dengan pengurus DPC, tak terkecuali ketua DPC, kaitan dengan persiapan dokumen balik nama sertifikat kantor itu. Pada hari yang sama, ia menelepon ketua DPC yang ketika itu berada di luar daerah, agar meminta sekretaris mengangkat teleponnya, karena menyangkut persiapan dokumen balik nama sertifikat atasnama partai. Pihak notaris pun telah dihubungi, akan tetapi tidak ada jawaban, sehingga pihaknya ke Mataram.
Sore kemudian, notaris tersebut baru menjawab WhatApp Maidi, menyampaikan permintaan maafnya yang baru membuka handphone, sebab ia dalam kondisi sakit. Percakapannya dengan notaris itu pun disampaikan pada ketua DPC. Tiba-tiba ke esokan harinya Selasa (15/6) lalu, sekretaris DPC Gerindra bersama kuasa hukumnya mendatangi Polres Lotim, melaporkan HM telah menggelapkan aset partai. Berkas laporan itu, pun ditandatangani Sekretaris DPC, sebab Ketua DPC berada di luar daerah. Hal itu yang membuatnya naik pitam.
“Yang namanya penggelapan, saya gunakan bayar tanah itu untuk kepentingan pribadi. Kenyataannya sudah saya tawarkan opsi mau diberikan uang atau tanah atau rumah. Dan ketua memilih rumah, karena strategis,” tegasnya.
“Tindakan DPC tersebut telah melampaui batas. Karena ini menyangkut nama baik, saya tetap akan melawan. Saya akan lapor balik. Karena menyangkut hukum, saya akan selesaikan secara hukum juga,” tegasnya lagi.
Ia menuding, laporan dimasukkan sekretaris tersebut sarat dengan nuansa politik. Sekretaris tersebut, dalam pemikirannya merasa takut atau merasa tersaingi dan takut jika nantinya akan kembali maju menjadi calon DPRD Lotim Daerah Pemilihan (Dapil) lima.
“Masalah ini sarat politik. Yang jelas, saya akan lapor balik, karena ini menyangkut nama baik,” pungkasnya. (fa’i/r3)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Dewan Nilai Koordinasi Antar OPD di Lobar Buruk

Read Next

Pers NTB Minta Polisi Tangkap Pelaku

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *