Cerita Keluarga Difabel di Kabupaten Lombok Utara

F Bok 7

IST/RADAR MANDALIKA SUDAH BAGUS: Amaq Mitanom dan Inaq Minari dudi di depan bangunan rumah baru yang dibangunkan PMI Lombok Utara.


Puluhan Tahun Luput dari Perhatian, PMI Bangunkan Rumah

Memiliki tempat tinggal yang layak menjadi keinginan semua orang. Namun demikian, tidak semua orang bisa menikmatinya. Seperti halnya yang pernah dirasakan oleh keluarga difabel, Amaq Mitanom dan Inaq Minari asal Kecamatan Bayan.

AHMAD ROHADI-LOMBOK UTARA


Hidup dua bersaudara, Amaq Mitanom dan Inaq Minari warga Dusun Tanah Petak, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan Lombok Utara cukup sakit awalnya.

Dimana, keduanya mengalami kebutuhan khusus disisi lain mereka ternyata pernah hidup dengan kondisi fasilitas rumah  yang sangat memprihatinkan, tinggal di rumah dengan alas tanah, atap bocor sehingga nampak langit terlihat di dalam rumahnya.

Kondisi ini menjadi atensi dari Palang Merah Indonesia (PMI) Lombok Utara, dimana dengan kondisi rumah yang tidak layak dan melihat keduanya berkebutuhan khusus, organisasi plat merah itu mengambil bagian untuk membantu pembangunan rumahnya. Dimana proses pembangunan rumahnya dilakukan sejak 18 Juni hingga 24 Juni dari hasil upaya  menggalang dana dari sejumlah donatur.

“Kami sangat prihatin melihat kondisi keluarga ini, mereka sudah lama tinggal di rumah yang tidak layak huni, kami masuk atap langit banyak jebol, belum lagi lantai mereka dari tanah, dinding dari bahan bambu banyak rapuh, sehingga kami berinisiatif bagaimana mencarikan dana untuk membangun kan rumah kepada mereka,” kata Waka Markas PMI Lombok Utara, Sahabudi Kusuma kepada Radar Mandalika.

Pihaknya melihat, bangunan rumah milik kedua bersaudara itu hanya berukuran 3×2 meter. Mereka tinggal berdua tanpa ada orang tua, karena kedua orang tua sudah meninggal, mereka pun tergolong  mau masuk lanjut usia (Lansia).

“Kami awalnya mendapat informasi dari warga setempat yang juga aktif dalam aksi kemanusiaan, awalnya mau mintakan bantuan ke PMI berupa seng, namun kami cek ke lapangan ternyata rumahnya tidak layak dan perlu rehab total,” bebernya.

Selain melihat kondisi tempat tinggal yang tidak layak, keluarga tersebut informasinya sudah puluhan tahun tidak mengantongi catatan kependudukan berupa KTP. Sehingga pihaknya kata Budi, melakukan koordinasi dengan aparat desa setempat dan mendapat respons dengan dilakukan perekeman e-KTP oleh pihak Dukcapil.

 Nasib memprihatinkan juga dirasakan oleh keduanya ditengah ketidakmampuan dalam mencari nafkah untuk pendapatan sehari-hari mereka kabarnya tidak masuk dalam daftar keluarga penerima manfaat (KPM),  berupa kartu PKH yang sewajarnya mereka dapatkan.

“Jadi untuk makan sehari-hari mereka menunggu belas kasihan dari tetangga, mereka tidak bisa bekerja karena keterbatasan fisik,” katanya.

Terhadap bantuan rumah yang dibantu PMI, kini telah rampung dibangun dengan ukuran bangunan 4×5 meter dengan dua kamar tidur dan teras. Dimana rumah yang kini mereka tempati itu kata Budi merupakan hasil penggalangan dana yang dilakukan dengan berhasil mengumpulkan dana sejumlah Rp 10,7 juta.

“Tinggal kamar mandi yang belum terbangun, kami awalnya akan membangunkan kamar mandi hanya saja waktu itu pemerintah desa siap membangunkan,” ujarnya.

Atas kondisi keluarga tersebut, kata Budi pihaknya masih melihat ada pekerjaan lagi yabg perlu dipenuhi untuk memberikan kenyamana yakni tempat tidur berupa kasur, dan perlatan dapur yang mereka tidak miliki.(*)

1 Review

?s=96&d=mm&r=g
sukiyaki
1

bermain game bisa dapat penghasilan

pingin miliki barang kesukaan tp isi dompet gak pernah tercukupi.. jangan bersedih guys....karena kamu punya partner yang bisa wujudkan impianmu segera aja ke bola165 dan jangan lupa join now yach... bukan hanya wujudkan impianmu tp juga bisa bikin kamu menjadi jutawan.

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Qomar: Tak Ada Deadline untuk Dwi-Normal

Read Next

Hati-hati, di Loteng Tidak Pakai Masker Disanksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *