Cara Pemkot Mataram Atasi Sampah

F Bok

LURAH MATARAM FOR RADAR MANDALIKA BEROPERASI: Lurah Mataram Barat, Sri Sulistoiowati (kanan) tampak berbincang dengan Asisten II Setda NTB, H Ridwan Syah, saat peresmian Rumpil Inges di Karang Medain, Kelurahan Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Minggu (21/02).

Di Rumpi Inges, Sampah Diolah Jadi Produk

Pemerintah Kelurahan Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram sudah melaunching tempat Rumpil Inges di Karang Medain. Sampah yang diterima untuk ditampung di tempat ini yakni sampah yang sudah dipilah dari rumah warga dan bisa diolah. Nantinya, sampah akan diolah menjadi sebuah produk bernilai ekonomis. Seperti apa ?

RAZAK – MATARAM

MASALAH sampah di Kota Mataram seolah tak ada habisnya. Hal ini membuat Lurah Mataram Barat, Sri Sulistiowati, harus mengambil terobosan dan memutar otak. Dia mencetuskan ide program penanganan sampah dengan membangun rumah pemilihan sampah yang diberi nama Rumpil Inges.

Rumpil singkatan dari Rumah Pemilahan. Sedangkan Inges singkatan dari Informasi Dalam Genggaman Masyarakat. Inges termasuk program yang sudah berjalan di Kelurahan Mataram Barat. Di mana masyarakat bisa mengurus segala keperluan administrasi kependudukan secara online lewat sistem Aplikasi Inges.

Terkait persoalan sampah, kata Sulistiowati, saat ini masih menjadi isu utama yang sering dibicarakan masyarakat. Terlebih pihaknya yang pertama kali menutup Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Karang Medain. Yang kemudian diikuti di kelurhan-kelurahan lain.

“Akhirnya, sekarang yang terjadi tempat untuk pembuangan sampah yang menjadi polemik di tengah masyarakat,” ungkap dia kepada Radar Mandalika, belum lama ini.

Setelah TPS Karang Medain ditutup. Dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, ujar Sulistiowati,  meminta pihaknya agar membuang sampah dari lingkungan ke TPS Lawata di Gomong. Pihaknya hanya boleh membuang sampah ke TPS Lawata cuma sekali pembuangan dalam sehari.

“Awalnya operator saya lancar membuang sampah ke TPS Lawata. Tetapi sekarang terkendala karena banyaknya penutupan TPS-TPS. Akhirnya, kami dari operator cuman diberikan satu kali pembuangan ke sana,” beber dia.

Sedangkan sebelum penutupan TPS-TPS, sambung Sulistiowati, pihaknya bisa membuang sampah dari satu lingkungan sebanyak empat kali dalam sehari. “Jadi, ke mana yang harusnya tiga kali itu. Sehingga, saya gak bisa diam kalau kayak gini. Saya harus punya solusi,” kata dia.

Atas dasar itulah, dia mencetuskan program penanganan sampah dengan membangun Rumpil Inges. Program ini terus disosialisasikan ke seluruh elemen masyarakat. Bagaiman cara memilah sampah dari rumah masing-masing. Untuk selanjutnya dapat ditampung di tempat Rumpil. Sosialisasi juga dilakukan ke pelaku-pelaku usaha dengan hajatan nantinya bisa terjalin kerja sama yang baik.

Kelurahan Mataram Barat meresmikan tempat Rumpil Inges di Karang Medain, Minggu (21/02) lalu. Acara peresmian Rumpil Inges yang dibangun di atas lahan milik warga seluas sekitar 5,5 are ini turut dihadiri Asisten II Setda Provinsi NTB, H Ridwan Syah, Ketua DPRD Kota Mataram, H Didi Sumardi, perwakilan dari DLH NTB, pihak dari Kecamatan Selaparang, Polsek dan Danramil setempat.

“Tempat pemilahan tersebut sudah ada. Jadi, besar harapan saya, mereka tidak pusing lagi mau membuang sampah di mana. Tapi dengan syarat sampah sudah dipilah dari rumah masing-masing,” cetus Sulistiowati.

Pihak kelurahan hanya menerima sampah dari warganya yang sudah dipilah dari rumah masing-masing yang akan ditampung dan diolah di tempat Rumpil Inges. “Jadi sistemnya, sampah sudah dipilah dari rumah masing-masing. Nanti operator kami yang akan mengambil sampah-sampah dari tiap-tiap rumah. Satu rumah ada dua tempat sampah (organik dan non organik),” terang Sulistiowati.

Dia sendiri ingin mengampanyekan kebiasaan memilah sampah dari rumah. Salah satu caranya dengan menghadirkan Rumpil Inges. “Jadi, kalau tidak dari sekarang kapan lagi kita merubah pola pikir warga untuk jangan membuang sampah dengan sistem angkut-buang. Jadi mulai memilah sampah bernilai ekonomis,” kata Sulistiowati.

Selain itu, keberadaan Rumpil Inges ini diharapkan bisa membantu Pemkot Mataram dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pengolahan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok di Lombok Barat (Lobar). Sebab, sampah yang ditampung di tempat Rumpil Inges yakni sampah yang bisa diolah menjadi sebuah produk bernilai ekonomis.

“Jadi, sampah yang dibuang ke TPS Lawata adalah sampah-sampah yang memang tidak bisa diolah,” kata Sulistowati.

Dia mengatakan, sampah di Rumpil Inges akan diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Tentu didukung dengan sarana prasarana, peralatan, dan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih. Tinggal bagaimana membuka akses pemasarannya. Salah satu caranya, kelurahan akan bekerja sama dengan pelaku-pelaku usaha.

“Saya berharap program ini berjalan lancar walaupun berat. Tetapi saya harus optimis,” ucap Sulistiowati. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Muktamar ICMI Dihelat di Mandalika

Read Next

152 Kendaraan Listrik Buatan NTB, Awal Kontribusi Baik Untuk Bumi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *