Angin Segar untuk Para UMKM di NTB

WhatsApp Image 2020 03 30 at 08.50.02

IST/RADARMANDALIKA.ID Farid Faletehan

MATARAM – Angin segar untuk para pelaku UMKM atau bagi debitur. Pasalnya, Otoritas Jasa Keuangannya (OJK) mengeluarkan kebijakan relaksasi kredit (kelonggaran angsuran) bagi pelaku UMKM. Ini dampak dari pandemi Virus Corona (Covid-19). Kebijakan ini dikeluarkan untuk memudahkan masyarakat yang memiliki tunggakan hutang (debitur) namun usahanya tidak berjalan akibat Covid-19 baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebijakan itu sudah dimulai sejak pertengahan Maret ini.

“Terkait relaksasi Iya itu benar,” ungkap kepala OJK NTB, Farid Faletehan dikonfirmasi di Mataram.

Relaksasi itu khusus diperuntukkan bagi perbankan saja. Dijelaskannya relaksasi itu dalam bentuk restrukturisasi kredit. Ada lima point yang termuat dalam kebijakan tersebut. Pertama Kelonggaran, keringanan atau penundaan dan sejenisnya merupakan bentuk relaksasi yang dilakukan melalui proses restrukturisasi kredit dengan beberapa alternatif seperti perpanjangan jangka waktu kredit, perpanjangan jumlah cicilan, pengurangan tonggakan bunga, Penundaan pembiayaan dalam waktu tertentu dan sebagainya. Kedua kebijakan relaksasi hanya diberlakukan untuk debitur yang mengalami perlambatan kegitan usaha dampak penyebaran Covid-19.  Dalam hal ini nasabah datang langsung ke bank untuk mengajukan permohonan restrukturisasi.

Ketiga OJK menyampaikan debitur yang tidak mengalami perlambatan kegitan usaha tetap melakukan pembayaran seperti biasa. Ketentuan berikutnya  nasabah yang sudah mengajukan relaksasi, bank akan Mela analisisa lalu ditetapkan bentuk restrukturisasi yang sesuai dengan kemampuan nasabah serta memperhatikan kemampuan masing-masing bank.

“Nah restrukturisasi kredit itu bentuknya beda beda. Nanti nasabah mengajukan ke bank dan bank akan analisis masing masing nasabah. Masih mampu nggak untuk bayar?

Kalau mampu berapa dan seterusnya.

Bisa perpanjangan jangka waktu, bisa penundaan, bisa pengurangan bunga dan lain lain. Tergantung kemampuan bank juga,” jelas Farid.

OJK tidak ingin ada nasabah yang sanggup membayar lantas dengan sengaja tidak menyetor tanggungannya. Bank juga punya kemampuan setiap bulan Bank harus mengeluarkan dana untuk membanyar bunga tabungan dan deposito dan kegiatan operasional lainnya.

“Kalau nasabah mampu trus nggak mau bayar giamana? Kalau semua maunya nggak banyar angsuran gimana?. Kalau nggak ada masukan dari angsuran banknya bisa bermasalah.

Saat ini apalagi dampak Covid-19 ini kondisi semua sama sama sulit. Sehingga OJK meminta semua pihak harus berusaha dengan berbagai cara untuk dapat bertahan hidup.

Kebijakan relaksasi ini diharapkan dapat menjadi solusi, baik bagi nasabah maupun lembaga perbankan serta masyarakat pada umumnya.

Nanti setiap bank akan membuatnya Standar Operasional Prosudur (SOP). SOP itu nanti akan menjadi  acuan oleh bank bank di cabang. Terkait kebijakan relaksasi ini bahkan sudah ada bank yang sudah siap.

“Mungkin ada beberapa bank yang masih nunggu SOP dari kantor pusatnya,” katanya.

Diakui Farid Himpunan Perbankan Negara (Himbara) yang terdiri dari Bank BRI, Mandiri, BNI dan Bank BTN mendukung semua kebijakan pemerintah dalam menanggulangi dampak Covid-19 ini termasuk juga kebijakakan relaksasi yang dikeluarkan oleh OJK sendiri. Pelaku UMKM yang berhak dalam relaksasi tersebut yaitu sektor ekonomi pariwisata, transportasi, perhotelan, perdagangan, pengolahan, pertanian dan pertambangan.

Relaksasi ini tidak berlaku bagi finance. Farid mengatakan saat ini kebijakannya masih diproses. OJK memastikan kebijakan itu bisa keluar minggu pekan dapan.

“Finance nanti akan ada relaksasinya saat ini di proses kebijakannya. Insya Alloh minggu depan kebijakan keluar,”katanya.

Farid juga menyampaikan aturan yang akan dikeluarkan untuk finance tidak jauh beda. OJK meminta masyarakat agar menunggu kebijakan tersebut.

 “Untuk detilnya kita tunggu aja,”” Katanya.

Farid mengatakan sebetulnya kebijakan Bank dan Finance sama saja. Namun ada beberapa yang berbeda misalnya pengawasnya, proses bisnisnya sehingga  harus diperhitungkan semua. Bank sumber dananya dari tabungan/deposito sementara  finance, sebagian besar sumber dananya dari pinjaman bank. Di Finance tidak ada tabungan.

“Jadi kebijakan itu dikeluarkan harus diperhatikam semua aspek,”terangnya. (jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Muballig Berperan Minimalisir Paham Radikalisme

Read Next

Matikan HP, Suhaili Ancam ‘Sikat’ Kepala Puskesmas

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *