MATARAM – Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 dinilai menjadi waktu yang tepat untuk kembali menguatkan implementasi Ekonomi Pancasila yang berasaskan kekeluargaan sebagai fondasi menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Qamarul Huda (IAIQH) Bagu, Doktor Murdan, menilai gejolak ekonomi dunia yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menjadi ujian nyata bagi setiap negara untuk membuktikan ketangguhan dan daya tahannya.
Menurutnya, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian mengajarkan bahwa negara yang mampu bertahan di tengah guncangan akan memiliki peluang lebih besar untuk keluar sebagai pemenang. Namun, dalam situasi seperti saat ini, yang lebih penting bukanlah menjadi pemenang, melainkan membangun kemampuan bertahan melalui kemitraan dan kerja sama yang kuat.
“Di tengah realitas global saat ini, semua negara sedang berjuang untuk hidup dan berkelanjutan. Karena itu, kemitraan strategis dan sinergi menjadi kebutuhan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi,” ujar Murdan dalam tulisan opininya yang berjudul Ekonomi Pancasila Berasaskan Kekeluargaan: Suatu Amanat Konstitusi untuk Mewujudkan Kemakmuran Bersama. Ia menegaskan bahwa tantangan ekonomi global harus dijawab dengan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Menurutnya, semangat kebersamaan yang terkandung dalam sistem Ekonomi Pancasila merupakan benteng utama dalam menjaga ketahanan nasional.
Murdan menyoroti kondisi ekonomi nasional yang belakangan diwarnai melemahnya nilai tukar rupiah dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia mengingatkan agar situasi tersebut tidak dijadikan alat untuk saling menyalahkan atau menjatuhkan pihak tertentu.
“Ekonomi Pancasila tidak menghendaki anak-anak bangsa berseteru tanpa ujung. Sebaliknya, semangat yang dibangun adalah saling bersinergi untuk memulihkan perekonomian nasional,” katanya.
Menurut Murdan, kritik terhadap pemerintah tetap merupakan bagian dari demokrasi. Namun, ia menilai seluruh elemen bangsa perlu mengedepankan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam menghadapi tekanan ekonomi yang berasal dari faktor global.
Ia menjelaskan bahwa implementasi nyata Ekonomi Pancasila dapat diwujudkan melalui kemitraan yang harmonis antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Dengan demikian, tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan dan pemulihan ekonomi.
“Tidak ada satu pun rakyat yang ditinggalkan. Semua bergerak bersama menuju Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” tegasnya.
Murdan menggambarkan cita-cita besar Ekonomi Pancasila sebagai upaya untuk bergerak bersama, tumbuh bersama, kuat bersama, dan pada akhirnya mencapai kemakmuran bersama.
Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini, ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai energi baru dalam membangun ekonomi nasional yang inklusif dan berkeadilan.
“Marilah kita jadikan peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 sebagai titik awal mengarusutamakan Ekonomi Pancasila yang berasaskan kekeluargaan. Tidak saling menyalahkan, tidak meninggalkan siapa pun, dan tidak saling menjatuhkan,” pungkasnya. (jho)
