Syamsuriansyah. (DOK/RADAR MANDALIKA)

LOBAR—Kian memanasnya situasi geopolitik antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat, mulai memicu kekhawatiran di tingkat daerah. Ddampak ekonomi dari konflik tersebut diprediksi dapat merembet hingga ke sektor domestik, termasuk di Kabupaten Lombok Barat (Lobar).

Ketua DPD Perindo Lobar, Dr. Syamsuriansyah, memberikan atensi khusus mengenai langkah-langkah mitigasi perlu diambil oleh Pemda dan masyarakat Lobar. Sebab konflik itu berbanding lurus dengan fluktuasi harga komoditas global, terutama energi dan pangan. Mengingat rantai pasok global yang saling terhubung, ketidakstabilan di wilayah tersebut berpotensi mengganggu stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat di tingkat lokal.

Langkah preventif menyikapi dinamika ini harus dipikirkan Pemda Lobar. Pengelolaan anggaran daerah harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian yang ekstra tinggi untuk menghadapi kemungkinan guncangan ekonomi.

“Bagaimana ke depannya, kita belum tahu pasti dampak dari perang Iran di Timur Tengah hari ini. Namun, pemerintah daerah sudah harus mulai berhati-hati, menjaga fiskal, dan sebagainya,” ujar Dr. Syamsuriansyah,akhir pekan kemarin.

Ia menambahkan bahwa efisiensi anggaran menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian ini.

“Hal-hal yang tidak penting, hal-hal yang tidak perlu, tolong direm dulu. Karena untuk menyelamatkan daerah ini, kita butuh fiskal yang aman,” tegasnya.

Langkah ini dianggap krusial agar pemerintah memiliki ruang gerak yang cukup apabila terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok atau gangguan distribusi logistik. Syamsuriansyah meyakini bahwa kesiapsiagaan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga harus menjadi prioritas di tingkat kabupaten. kesiapan masyarakat secara mandiri juga menjadi sorotan. Optimalisasi lahan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga menjadi sarana Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lobar itu. Gerakan menanam secara mandiri dinilai sebagai solusi paling rasional dan praktis untuk menjaga ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga jika sewaktu-waktu terjadi inflasi harga sayur-mayur atau buah-buahan.

“Mari Bapak, Ibu, saya menghimbau kita lebih irit menggunakan uang kkita” tutur Syamsuriansyah.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali memanfaatkan lahan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. “Utamakan di pekarangan kita. Apa yang bisa kita tanam, kita tanam; sayur, buah, apa saja yang bisa kita tanam, tanam saja dulu untuk mengantisipasi kita tidak tahu perang Iran ini berdampak ke mana saja ke depannya,” jelasnya.

Strategi “ketahanan pangan mandiri” ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasar untuk komoditas tertentu. Dengan ketersediaan pangan di pekarangan sendiri, tekanan ekonomi akibat kenaikan harga pangan global diharapkan dapat sedikit teredam. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *