RadarMandalika – Tim Peneliti dari Departemen Fisika, Universitas Negeri Malang (UM), khususnya dari Program Studi S1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), tengah menjalankan proyek penelitian yang berfokus pada mitigasi risiko paparan senyawa organik volatil (VOCs). Mengingat tingginya urgensi keselamatan kerja di laboratorium dan industri, pengembangan alat deteksi dini yang presisi menjadi latar belakang utama kegiatan ini. Upaya ini merupakan langkah strategis universitas dalam mengintegrasikan hasil riset ke dalam solusi industri yang aplikatif dan aman.


Kegiatan ini bertujuan mengembangkan sensor gas etanol berbasis serat optik yang mampu mendeteksi keberadaan gas etanol secara lebih cepat dan akurat. Sensor ini memanfaatkan material khusus berbasis emas dan titanium dioksida yang dirancang untuk meningkatkan kepekaan dalam mendeteksi gas etanol, sehingga diharapkan dapat membantu memantau kualitas udara dan meningkatkan keselamatan di lingkungan kerja yang berisiko terpapar gas tersebut.
Laboratorium Universitas Negeri Malang menjadi lokasi penelitian dan pengembangan sensor gas yang berlangsung sejak April hingga November 2026. Kegiatan yang menghabiskan total 640 jam layanan teknis ini dimulai dengan sintesis secara kimia dan dan fisika untuk memperoleh material fungsional sensitif, kemudian dilanjutkan dengan fabrikasi sensor serta pelapisan selective agent khusus etanol. Pengujian performa optik terhadap gas target akan dilakukan di Laboratorium Fotonik Universitas Negeri Malang, sebelum akhirnya divalidasi secara eksperimental di Universiti Sains Malaysia untuk mengevaluasi keandalan sensor yang dikembangkan.

Proyek ini melibatkan 4 dosen dan 2 mahasiswa sebagai pelaksana inti dengan sasaran penerima manfaat meliputi peneliti laboratorium, akademisi, dan praktisi industri. Pembuatan partikel berukuran kecil (nanopartikel) menggunakan teknologi laser khusus menunjukkan hasil yang baik saat diuji menggunakan alat penguji cahaya Ultraviolet-Visible (UV-Vis). Pengujian tersebut berhasil memicu fenomena interaksi cahaya unik yang disebut LSPR (Localized Surface Plasmon Resonance), sebuah tanda bahwa nanopartikel telah terbentuk dan memiliki kemampuan bagus dalam merespons cahaya. Sifat sensitif inilah yang nantinya akan digunakan untuk meningkatkan kepekaan alat pendeteksi berbasis serat optik.


Kegiatan ini memberikan kontribusi mendalam pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), khususnya Target 9.5 yang berfokus pada peningkatan kemampuan teknologi sektor industri melalui penelitian dan pengembangan. Selain itu, aspek kerja sama internasional yang kuat terlihat dari keterlibatan Assoc. Prof. Dr. Mundzir Abdullah. dari Universitas Sains Malaysia (USM) sebagai kolaborator utama, yang selaras dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), spesifiknya Target 17.6 mengenai akses pada sains dan teknologi. Melalui kemitraan pendidikan ini, UM juga merencanakan hilirisasi produk dalam bentuk modul pelatihan guru untuk memperkenalkan teknologi ini di level sekolah menengah sebagai bagian dari upaya menyediakan pendidikan terjangkau berbasis teknologi tinggi.

“Pengembangan teknologi cerdas ini adalah bukti nyata kontribusi Departemen Fisika UM dalam menciptakan inovasi yang tidak hanya unggul secara saintifik, tetapi juga relevan bagi kebutuhan industri global melalui kolaborasi berkelanjutan dengan mitra internasional,” ungkap Nurul Hidayat, Ph.D., selaku Dosen Fisika dan ketua tim peneliti dari Universitas Negeri Malang.


Tantangan utama yang dihadapi adalah stabilitas jangka panjang nanokomposit terhadap kelembapan udara yang fluktuatif. Sebagai rekomendasi, perlu dilakukan enkapsulasi material sensor dan pengembangan sistem sirkuit terpadu agar perangkat ini dapat diproduksi secara massal dan diimplementasikan secara luas di berbagai sektor industri. (red)