Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

F berduka 1

FOTO RAZAK/RADAR MANDALIKA BERDUKA: Putra Syekh Ali Jaber, Al Hasan Ali Jaber (baju kotak-kotak) tengah berjabat tangan dengan kerabat di rumah duka di Monjok, Kota Mataram saat hendak berangkat ke BIL menuju Jakarta, kemarin siang.

Sempat Terpapar Covid-19, Sebelum Meninggal Dunia Negatif

MATARAM – Syekh Ali Jaber tutup usia di RS Yarsi, Jakarta, Kamis (14/01) pagi. Sebelumnya, Syehk Jaber sempat dirawat akibat terpapar Covid-19. Almarhum sudah dinyatakan negatif Covid-19, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Suasana duka menyelimuti rumah duka istri Syekh Ali Jaber, Ummi Nadia di Lingkungan Monjok Perluasan, Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, kemarin siang. Aparat kepolisian tampak berjaga-jaga dan beberapa kerabat dan pelayat berdatangan ke rumah duka.

Putra Syekh Ali Jaber, Al Hasan Ali Jaber, 22 tahun yang ditemui di lokasi mengatakan, almarhum tidak bisa dimakamkan di Lombok, NTB. Meski Almarmum diakui pernah berwasiat agar dimakamkan di Lombok.

 “Dimakamin di Jakarta. Tidak bisa di sini Lombok,” katanya kepada media.

Ia mengungkapkan, pihak keluarga yang ada di Mataram sudah berusaha menghubungi keluarga di Jakarta agar jenazah Almarhum bisa dimakamkan di Lombok. Sesuai wasiat Almarhum. Tapi ternyata tidak bisa karena alasan tertentu.

“Kita usahain tadi tapi ndak bisa. Akhirnya iya di Jakarta. Sudah dimandain, tinggal proses pemakaman. Pemakaman di Jakarta,” beber Hasan.

Dia sendiri tidak mempermasalahkan jika akhirnya Almarhum dimakamkan di luar Lombok alias di Jakarta. “Tapi yang penting kita mendoa. Mau di Lombok, mau di Jakarta. Yang penting doa selalu. Insya Allah ditempatkan di tempat yang terbaik,” harap Hasan.

Dia meminta kepada masyarakat yang ada di Pulau Lombok khsusnya agar harap maklum. Jika jenazah Syekh Ali Jaber tidak bisa dimakamkan di Pulau Seribu Masjid. Pihak keluarga yang ada di Mataram sudah terus berusaha menghubungi pihak keluarga via ponsel yang ada di Jakarta supaya jenazah Almarhum bisa dibawa ke Lombok.

“Kita sudah usahain sebisa mungkin. Cuma takdirnya gak bisa. Harus ikut proses di Jakarta. Udah diusahain dari tadi,” jelas Hasan.

Terkait kapan Almarhum akan dimakamkan. Hingga kemarin siang, Hasan sendiri belum bisa memastikan. “(Pemakaman) kita belum tau. Kita sampai dulu (di Jakarta). Nanti Insya Allah kita sampai Jakarta jam 5 (sore) kalau ndak ada kendala. Insya Allah sekitar jam 6 (18.00 wiba) dimakamkan,” tutur Hasan.

Dia bersama keluarga harus terbang ke Jakarta. Pantauan di lapangan sekitar pukul 14.00 wita, pihak keluarga berangkat menggunakan kendaraan roda empat dari rumah duka di Monjok ke Bandara Internasional Lombok (BIL).

Sebelumnya Hasan menceritakan, Syekh Ali Jaber dilarikan ke RS Yarsi, Jakarta, pada tanggal 29 Desember 2020. Almarhum sempat dirawat selama dua minggu di rumah sakit. Dia sendiri tetap berkomunikasi dengan Almarhum meski lewat media sosial (video call) ketika ia kembali berada di Kota Mataram.

Hasan mengutarakan, kondisi Syekh Ali Jaber sempat membaik. Tapi beberapa hari terakhir tiba-tiba kembali drop.  Sepengetahuannya, bahwa Syekh Ali Jaber juga mengidap peyakit paru-paru. Tapi kalau Covid-19 sudah dinyatakan negatif sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Kita terima kabar bahwa (beliau) meninggal dunia sekitar pukul 08.30. Kalau Covid sudah dinyatakan negatif. Tapi penyebab (kematian) kita tidak tahu,” ungkap dia.

Sebelum meninggal dunia. Pesan terakhir Almarhum kepada anak-anaknya agar jangan meninggalkan salat. “Pesan terakhir beliau jaga salat, jaga salat. Karena salat tiang agama dan jangan lupa doa,” kenang pria berbadan tinggi itu.

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah berkunjung ke rumah duka Almarhum Syekh Ali Jaber di Jalan Ade Irma Suryani Monjok no 38B, Mataram.

Kepada pihak keluarga, Gubernur menyampaikan belasungkawa dan rasa duka yang mendalam. Bang Zul sampai di rumah duka sekitar pukul 08.22 wita.

Zul juga menyampaikan kekagumannnya pada sosok  almarhum. “Allah cinta pada beliau,” katanya.

Selain itu, Zul juga mengenang pesan Syekh Ali Jaber yang sempat mengatakan ingin dimakamkam di Lombok jika meninggal. Namun dengan ketatnya prosedur untuk memberangkatkan jenazah maka pemakaman diputuskan untuk dilakukan di Tangerang.

“Kita sebenarnya berharap beliau bisa dimakamkan di Lombok sesuai dengan wasiatnya,” harapnya.

Sementara, keluarga Syekh Ali Jaber, Faisal Jaber menerangkan bahwa keluarga besar almarhum telah sepakat melaksanakan pemakaman di Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Qur’an (Daqu), Tanggerang, Kamis (14/1) dan sudah selesai dimakamkan tadi sore (kemarin, red).

Katanya, pesantren tersebut merupakan pesantren yang didirikan oleh Ustaz Yusuf Mansur. “Saudara dan sahabat-sahabatnya ingin beliau di makamkan di sana. Ada ibunda beliau juga di Jakarta,” ujar Faisal.

Dirinya juga mengenang kembali pertemuan terakhir dengan Syekh Ali Jaber. Saat itu almarhum sempat menginap selama lima hari pada November 2020 lalu setelah menghadiri kegiatan di Lombok Timur.

“Waktu itu yang paling lama beliau menginap di sini. Biasanya hanya 1-2 hari,” ceritanya.

Pihak keluarga dari rumah duka di Monjok sendiri telah berangkat ke Jakarta. Antara lain istri almarhum, anak pertama almarhum, mertua almarhum dan beberapa orang anggota keluarga lainnya. “Keluarga akan di sana 3-4 hari,”  katanya.(hms/rif/zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Honor Guru Madrasah Diduga Disunat di Loteng

Read Next

Dikejar Polisi, Pengedar Sabu Nyemplung ke Parit

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *